Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 38


__ADS_3

Risma berhasil lari dari Anton sambil membawa Karina gadis itu langsung keluar dari area taman kemudian memasuki mobil untuk menuju ke rumah, Risma mengusap air matanya kasar. "Pak kita langsung pulang aja," ucap Risma. "Baik Nona Konawa." Supir itu melajukan mobilnya.


Karina melihat keadaan ibunya yang sepertinya tak baik-baik saja. Karina termasuk anak yang perasan dia sebenarnya ingin bertanya tapi diurungkan, tak henti-hentinya Risma memeluk sang putri dengan erat dan beberapa kali mengecup putrinya. Karina merasa heran dengan tingkah sang ibu tak seperti biasanya.


Suara ponsel berdering membuat Risma mengakat panggilan ponselnya, gadis berparas setengah Jepang itu mengusap air matanya kemudian menarik nafas. "Karin bisa misi sebentar, mama mau nelpon dulu." Karina mengangguk kemudian ia menyingkir sebentar dari sang ibu.


Di panggilan tertera nama Amara. "Hallo tante, ada apa?" tanya Risma dengan suara senang dan senyuman. "Kamu dimana Risma bisa pulang sekarang." Amara.


"Iya, Tante ini udah mau pulang kok," ucap Risma.


Gadis itu menutup panggilan ponselnya kemudian kembali merengkuh anaknya ke dalam pelukannya. 'Mungkin Tante ingin membahas perihal rumah tanggaku yang sudah di janjikan kemarin.' Risma membatin sambil terus mendekap Karina dalam pelukannya.


Sesampainya di apartemen milik ibunya ia amat terkejut melihat bibinya dan ada Siska sepupunya sepertinya gadis itu baru pulang kuliah. Risma duduk karena Yukita Konawa menyuruhnya duduk. "Kita tunggu sebentar setelah itu kita mulai bicara," kata Amara.


Risma mengangguk dan Yukita Konawa terlihat tak suka dari tadi tangannya terlipat dan wajahnya cemberut kesal, Risma bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini? kenapa sepertinya mereka semua serius sekali. Mereka menunggu sampai ada beberapa orang yang datang, Risma yang menatap orang itu langsung menengak ludahnya kasar.


"Siska tolong ajak Karina masuk kedalam," ucap Amara pada sang putri.


"Iya, Mah." JEDA "ayo Karina." Siska mengajak keponakan kecilnya sambil mengendongnya masuk ke dalam.


Risma menatap orang di hadapannya sambil membuang wajah bagaimana tidak, itu adalah Anton yang menatapnya tersenyum dan penuh harap. "Begini saya mengumpulkan kalian disini, karena ingin membicarakan masalah kalian secara baik-baik." Amara bicara dengan bijak.

__ADS_1


"Tante gak ada yang harus di selesaikan lagi, satu-satunya jalan ya___bercerai."


Anton yang mendengarnya langsung menusuk ke hati tatkala ia mendapatkan penuturan dari sang istri yang sepertinya amat membencinya karena perlakuannya dulu. "Risma apa yang kamu inginkan agar kita bisa kembali seperti dulu...," kata Anton dengan lirih berharap sang istri bersama dengannya.


Risma menengak dengan linangan airmata menatap suaminya lalu mengusapnya dengan kasar. "Kamu yakin ingin melakukan apapun?" tantang Risma dengan senyuman sinis. Anton mengangguk tanda menyanggupi permintaan Yumeko Konawa. Risma menarik nafas lelah kemudian bicara dengan kelu.


"Hidupkan Kirana, Putriku...," ujar Risma bicara demikian. Anton langsung menatap sang istri dengan tak percaya.


"Risma apa yang kamu katakan, Nak." JEDA "bagaimana mungkin bisa Anton menghidupkan orang yang sudah mati." Amara bicara dengan mulut menganga tak percaya tak hanya Amara yang tercengang tetapi juga Yukita Konawa.


"Putriku meninggal karena ulahmu, jadi___hanya itu yang bisa kamu lakukan____kau telah membunuhku secara tak langsung dengan membunuh putriku." Risma menangis langsung di peluk oleh Amara sang bibi.


"Bagaimana mungkin saya menghidupkan putri kita, saya bukan tuhan Risma yang bisa menghidup matikan manusia." Anton bicara dengan mata sendu seolah menunjukan semuanya. "Lebih baik kita mulai semuanya dari awal bersama anak kita Karina." Anton bicara yang di dengar langsung oleh bocah berumur empat tahun tepat berdiri di belakang sofa.


Karina yang sedang bermain petak umpet dengan Siska mengumpat di tembok belakang yang langsung mengarah ke ruang tamu. "Karina kamu dimana?" Siska mencari sampai ia melihat Karina berdiri tepat di belakang tembok ruang tamu. "Karina---" Siska seolah bungkam kebenaran muncul sendiri ke permukaan tanpa harus di gali lebih jauh dan muncul dengan waktu yang tidak tepat.


"Papa..," ucap Karina dengan lirih. Langkah kecil Karina keluar perlahan dari balik tembok melangkah pelan menuju keributan yang ada di ruang tamu. Karina memeluk boneka kesayangan miliknya sambil berjalan melihat Anton dengan rasa heran sontak semua yang ada di sofa terkejut.


"Karina kamu ngapain disini_____Loh Kak Siskanya mana?" tanya Risma menyamai tinggi anaknya.


Tetapi Karina malah melewati Risma berjalan mendekati Anton seolah mengabaikan semuanya, "Papa...," kata Karina dengan lirih membuat Anton merasa senang juga terharu, kemudian tinggi Anton menyamai putrinya yang selama ini tak pernah ia temui.

__ADS_1


"Papa.' Seolah hanya ucapan itu yang terlontar dari mulutnya. Karina langsung memeluk tubuh sang ayah dengan erat. Ini pertama kalinya Anton memeluk putrinya Risma tak bisa berbuat banyak jadi ia membiarkan Karina memeluk sang ayah dengan erat. "Papa," ucap Karina lagi.


"Teruskan panggil aku seperti itu, anakku." Anton memeluk tubuh kecil bocah berumur empat tahun itu, ada rasa rindu, penyesalan, dan kasih sayang yang tersalurkan antara ayah dan anak.


Anton melepaskan pelukannya kemudian menciumi wajah putrinya, lalu Yukita dengan kasar malah memisahkan Karina dari Anton hal itu bisa di lihat oleh Amara, Risma, dan Siska. Mereka tak menyangka jika Yukita tega melakukan itu. "Jauhi cucuku Tuan Anjaya!!" ucap Yukita. "Dia bukan putrimu!! bukankah kau selalu menganggapnya aib dan rasa malu saat masih di dalam kandungan putriku!!" kata Yukita sambil menjauhkan Karina dari ayahnya.


"Papa___hiks___papa." Karina hanya bisa menangis tatkala ia di pisahkan oleh sang nenek dari ayahnya. Amara yang sudah tak tahan dengan kebiadaban Yukita Konawa langsung maju.


"Cukup Yukita Konawa!!" ucap Amara yang maju. "Tega sekali kau memisahkan seorang anak dari ayah! Dimana hati nuranimu." Amara maju seolah ia tak terima.


"Heh!! kau tidak tahu masalalu putriku!! Pria itu!!" Yukita menunjuk Anton. "Berani membawa perempuan lain ke rumahnya saat putriku tengah mengandung anak kembar, dan karena perempuan sundalnya itu salah satu cucuku pergi ke akhirat!!"


"Apa yang kau tahu Amara!! apa yang kau tahu?!"


"Risma sudah cerita semuanya padaku!! ini saatnya mereka bersatu mengapa kau tak memikirkan dampaknya bagi semua orang apalagi Karina!" ucap Amara.


Karina yang ketakutan karena perdebatan dua wanita itu bukannya lari ke sang ibu tetapi malah lari ke ayahnya, Anton langsung mengendong Karina lalu memeluknya dengan erat seolah hubungan ayah dan anak mulai terjalin. Risma hanya bisa tersenyum kaku tatkala ia bimbang antara harus kembali dengan Anton atau tidak pasalnya luka yang di berikan oleh Anton belum seutuhnya pulih.


"Yukita tolong pikirkan Karina___jangan jadikan anak itu Risma kedua___biarkan Karina di rawat dengan kedua orangtuanya."


Tentu ucapan Amara menohok hati Yukita yang membuat wanita berparas Jepang itu pergi meninggalkan ruang tamu dan hanya keheningan melanda, Amara kembali duduk sambil memijat pelipisnya untuk Siska ia mendekati ibunya lalu menenangkan sang ibu.

__ADS_1


"Risma...," ucap Anton yang di lihat oleh Risma. "Ayo keluar saya ingin bicara." Anton menarik tangan Risma seolah kaki gadis itu lemas dan tak berdaya menolak keinginan Anton yang menurutnya masih memerintah.


#bersambung


__ADS_2