
Anton terbangun di pagi hari dengan mengedipkan mata menyesuaikan cahaya matahari yang masuk dari celah jendela, pria bertubuh kekar itu menoleh ke samping yang mendapati sang adik yang tertidur di sofa panjang.
"Gani!" panggil Anton pada adiknya yang membuat sang adik juga terbangun.
"Lu udah bangun, Kak?" tanya Gani menatap Anton dengan kesal.
"Iya..," ucap Anton.
"Gua tahu lu masih depresi atas kehilangan Kak Risma tapi gak gini juga caranya."
Gani memanggil Risma Kakak karena dia menghormati istri dari Kakaknya meskipun usianya terpaut jauh, Gani juga tak bisa apapun melihat Kakaknya begitu depresi kehilangan istrinya.
"Kak gua lagi deket sama Kojiyama___dia juga gak tahu keberadaannya Kak Risma."
Anton menatap adiknya. "Ya udah gua mau mandi." Anton pergi berlalu ke kamar mandi dengan shower.
"Kak kata gua lu jangan ke kantor dulu, keadaan lu belum pulih." Gani meneriaki Kakaknya yang ada di kamar mandi.
"Berisik lu," ucap Anton dengan ketus.
"Emang kagak berubah, selalu keras kepala kaya dulu."
Gani segera ke bawah untuk menyuruh pelayan membuatkan sarapan karena ia juga mengkhawatirkan kondisi kakaknya, setelah dari dapur Gani tertarik dengan kamar pembantu yang dulunya di tempati kakak iparnya ia perlahan membuka kamar itu.
__ADS_1
Betapa terkejutnya ia melihat kamar itu sudah ada barang-barang Risma yang sudah berkemas, benar ternyata Kakaknya sudah keterlaluan memperlakukan istrinya pantas saja Kakak iparnya pergi dan ingin bercerai.
⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─
Di Tokyo Risma di luar halaman sedang menimang putri kecilnya sambil menunggu ibunya pulang, Yukita juga tak sabar ingin memeluk cucunya dan menggendongnya.
Karina amat senang karena sedang bersenda gurau bersama ibunya ia menatap wajah bayi yang berumur kurang lebih dua bulan itu dengan tatapan sendu, Risma amat menyayangi Karina nama anaknya juga pemberian dari Anton.
Pria itu yang memberikan nama untuk putri kecilnya, pikirannya terus mengingat saat ia di rumah sakit sambil menatap jendela Anton berusaha meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Risma mengeratkan pelukannya pada Karina di lehernya yang membuat putrinya merasakan nyaman, saat itu Anton mendekatinya dan berusaha meminta maaf juga kesempatan kedua.
"Risma, kita mulai semua dari awal bersama Karina." Ucapan itu selalu terngiang mengingatkannya akan Anton.
"Lalu siapa anakku yang sudah kau bunuh!!" bentak Risma.
"Kirana Clarissa Anjaya. Nama Kirana artinya sinar, molek, cantik, dan elok." Anton menjawab dengan sabar.
Risma sempat marah pada Anton karena ia amat benci dan kesal, selama ini ia menderita hanya dianggap sebagai rasa malu serta aib tapi Anton yang memberikan nama untuk putrinya memang Anton pria brengsek yang tak tahu malu.
Risma memejamkan matanya menikmati udara di Tokyo dengan sejuk sambil mendekap putrinya.
"Yumeko!!" suara itu adalah milik Hisako yang tepat berada di belakangnya, sambil berjalan mendekat.
__ADS_1
"Ayo masuk satu jam lagi, Obasan pulang dari Irlandia."
Risma hanya mengangguk kemudian ia menarik nafas membuat kabut menyembul dari mulutnya, sedangkan Karina kembali ke alam mimpi dengan di peluk oleh Risma di lehernya sungguh ia tak mau jika Karina terus menerus di manjakan, dia ingin putrinya bersikap mandiri karena itu adalah ajaran dari mendiang ayahnya yang sudah tiada.
Risma masuk rumah dan tak beberapa lama Yukita Konawa pulang, sudah jelas bunyi suara mobil-mobil di depan rumah dirinya langsung keluar menyambut ibunya pulang sambil mengendong Karina, Yukita keluar dengan elegan ia memakai baju formal dengan sepatu hak tinggi sambil membawa tas bermerek dior.
"Oh, Cucuku." Yukita ingin mengendong Karina tapi saat berpindah tangan Karina malah terbangun dan kembali menangis, saat berpindah tangan ke Risma bayi mungil itu jadi diam tetapi dalam keadaan bangun.
"Baiklah, Yumeko bawa putrimu ke kamar dulu dan aku ingin bicara sesuatu pada Hisako sepupumu." Risma mengangguk mungkin saja bicara soal perwalian dan perusahaan ayahnya Hisako.
...****************...
Risma menggendong Karina untuk ke kamar waktunya ia habiskan bersama malaikat kecilnya ini, "Nona Konawa?" Seorang pelayan muda wanita masuk sepertinya ada yang ingin di sampaikan.
"Ada apa, Fi?" tanya Risma dengan santun.
"Nyonya Konawa menyuruh saya untuk mengantarkan ini pada Nona...," ucapnya.
"Oh, terimakasih." Risma mengambil bingkisan itu lalu setelah kepergian pelayan itu.
Dia membuka isinya betapa kagumnya dia ternyata isinya adalah perhiasan dan baju serta mainan untuk putrinya sepertinya harganya tidaklah main-main. Risma sangat beruntung penderitaannya terbayar sudah ia selalu di berikan barang-barang yang mahal oleh ibunya yang selama ini menghilang.
#Bersambung
__ADS_1