Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 69


__ADS_3

Risma dan Anton mengajak Karina berjalan-jalan di taman agar putri mereka merasakan kasih sayang keluarga seutuhnya, saat Karina sedang berlari tiba-tiba ada anak laki-laki berusia enam tahun di atas bocah itu. "Karina!!" ucap Anton dan Risma serempak.


"Kamu bisa lihat 'kan?!" maki Anton pada bocah laki-laki itu.


"Maaf Om. Varo gak sengaja," kata bocah itu dengan tubuh bergetar.


Anton masih sibuk memaki bocah yang usianya sepuluh tahun itu. Risma amat khawatir melihat keadaan putrinya dengan kening dan sikut tangan yang lecet. Karina juga hampir menangis karena kesakitan, Risma segera mengendong putrinya lalu menaruh kepala putrinya di bahunya guna menenangkan Karina.


"Udah jangan nangis malu di liat orang, nanti jelek loh." Karina akhirnya diam dan dari mulutnya hanya mengeluarkan isakan saja.


Anton sudah puas memarahi bocah laki-laki itu yang sepertinya memiliki paras western juga, Anton dan Risma segera duduk di antara rerumputan beruntung di dalam tas selempang yang selalu di kenakan oleh Risma selalu membawa betadine dan rivanol juga kapas.


Pertama Anton membersihkan luka dengan air botol dengan menempelkannya dengan tisu, lalu Risma menempelkan sedikit betadine dan Rivanol untuk membuat luka cepat kering di sikut dan kening bocah berumur empat tahun itu.


"Dah anak papa jangan nangis lagi 'kan udah di obatin," ujar Anton sambil memangku tubuh Karina. Risma membiarkan putrinya meminum dengan botol air mineral, tubuh Karina sedikit berkeringat.


Karina di rambutnya di kepang satu ke samping. Wajahnya juga imut, "yaudah Karin mau Es krim ayo kita cari sama papa." Anton mengajak putrinya dengan mengandeng tangan mungil bocah itu. Karina mulai dekat lagi dengan Anton.


Risma menari nafas sambil tersenyum lantaran telah melihat sifat ke ayahan dalam diri Anton. Anton membeli Es krim tiga bersama Karina tak lama saat ingin kembali dengan Risma ia bertabrakan dengan seorang wanita. "Maaf Mbak say---" Anton menghentikan ucapannya tatkla yang ia lihat adalah masalalunya.


"Fe--Fera!" ungkap Anton dengan rasa terkejut.


Penampilan Fera lusuh selayaknya gembel dengan rambut coklat acak-acakan dan tubuhnya kurus selayaknya orang penyakitan, wajahnya juga di penuhi dengan debu. "Anton!!" ucap Fera tersenyum saat di rasa telah menemukan kebahagiannya.


"Maaf tapi aku udah punya istri, dan ini anakku!" ucap Anton sambil mengendong Karina.


Fera terdiam sampai tak sadar di belakang Anton ada Risma yang berjalan mendekati keduanya. "Anton!! gimana ud---" ucapan wanita setengah Jepang itu terhenti tatkala ia melihat siapa di hadapannya sekarang.


Segera Risma berdiri disisi Anton yang sedang mengendong putri mereka lalu mengengam erat tangan suaminya tanda bahwa Anton sudah menjadi miliknya. Karina amat kebingungan dan apa yang sebenarnya terjadi. "Dia suamiku!!" ungkap Risma dalam lubuk hatinya.


Risma semakin erat memeluk lengan suaminya tanda tak mau Anton kembali seperti dulu lagi, "ayo Anton kita pulang!" ajak Risma sambil menarik tangan suaminya menjauh dari area taman itu.


Tapi Anton menahan diri dan melamun, Risma tentu mengumpat kesal entah karena hormon kehamilan atau karena tak ingin suaminya mengulangi kesalahan yang sama. "Aku istri kamu!!" ungkap Risma menatap suaminya kemudian Anton menurunkan Karina dan menyuruh putrinya bermain ayunan yang tak jauh dari mereka di sana juga banyak anak-anak bermain.


Risma yang semakin hari semakin sensitif mendekat kehadapan suaminya yang mematung dan karena emosi juga rasa cemburu Risma menampar pipi Fera yang membuat wanita berparas Australia itu jatuh tersungkur ke tanah dengan tubuh kurusnya.


PLAK!!!


"Risma!!" gentak Anton yang tak menyangka istrinya bisa melakukan hal sekeji ini, Anton langsung membantu cinta masalalunya berdiri.


"Fera gimana kabar kamu?" tanya Anton pada cinta masalalunya.


"Maafin kelakuan istri aku," pinta Anton.


Wajah Risma sudah merah padam tatkala melihat pemandangan ini, ia jadi mengingat masa lalu gimana perlakuan keduanya dan takut akan terjadi kedua kalinya apalagi sekarang ia sedang hamil juga. "Anton ayo kita pulang!!" perintah Risma tegas.

__ADS_1


"Risma, kita bantu Fera."


"Apa!!" ujar Risma marah bukan main mendengar penuturan suaminya.


"Aku gak mau!! dia telah membunuh anak kita! aku tak bisa memaafkannya!" ujar Risma marah.


"Risma!!" Anton mengejar istrinya saat mendekati Karina yang sedang bermain ayunan untuk mengajaknya pulang.


Anton berhasil meraih tangan istrinya. "Sayang, Fera itu sahabat lama aku," jelas Anton.


Anton berusaha menjelaskannya pelan-pelan pada istrinya yang semakin hari semakin sensitif karena tengah hamil muda, Risma tersenyum sinis menatap suaminya. "Kamu mau ngulangin masa lalu! anak kita ke bunuh lagi! IYA!!" gentak Risma di akhir kalimat.


"Risma tolong mengerti, wanita malang itu----"


"Terserah!! kalo kamu mau bawa Fera tinggal di rumah kita!! aku dan Karina akan pergi dari rumah!!" maki Risma lalu mengajak Karina pulang.


Perkelahian keduanya di lihat oleh banyak orang, Risma pulang dengan menggunakan taxi bersama putrinya. "Mah...mama kenapa?" tanya Karina tapi Risma menjawab dengan tenang lalu memeluk Karina. Bocah seperti Karina tak seharusnya menghadapi masalah sebesar ini.a semb


"Mama lagi----adek bayinya rewel jadi kita pulang ya."


Risma berkata dengan mata sembab dan senyum terpaksa. "Oh, adek jangan nangis terus kasian mama," ujar Karina sambil mengusap dan menempelkan telinganya di perut sang ibu. Risma memejamkan mata lalu membelai surai coklat milik putrinya.


"Kenapa Bu?" tanya sopir taxi itu.


"Gak apa Pak," ucap Risma.


"Kalo sampai perempuan itu tinggal di rumahku atau suamiku, aku akan ajak Karina dan bayi ini pergi selamanya dari Anton!!" batin Risma.


Sesampainya di rumah Gani yang sedang menonton telivisi dengan makan snack melihat Risma masuk dengan mengendong keponakannya menuju lantai atas yakni kamarnya. "Kak Risma!! Kakak kenapa?!" tanya Gani mengejar kakak iparnya ke kamar lalu di kunci.


Gani mengedor pintu kamar Karina tapi Risma denga isak tangis menjawab dengan suara parau. "Pergilah Gani! aku ingin sendiri!"


"Wah pasti Kak Anton macem-macem nih," batin Gani menebak-nebak.







__ADS_1












Anton masih di taman memberikan Fera minum. "Fer lu kenapa sih?" tanya Anton tapi Fera hanya diam yang sepertinya wanita itu mengalami trauma berat akibat Yukita Konawa.


"Yaudah lu ke rumah gua bersiin diri nanti soal istri gua gampang."


Anton mengajak Fera pulang ke rumahnya untuk membersihkan tubuh wanita itu, Di rumah Gani amat kaget dan tak percaya melihat kelakuan kakaknya dan terjadi kesalah pahaman.


"Bang lu gila!!" maki Gani.


"Gani!! dia sahabat gua!!" jawab Anton.


"Lu udah punya istri Bang!! terus ini cewek juga udah bikin anak lo modar!!"


"Gani jaga omongan kamu!!"


Tak lama Fera menutup kedua telinganya lalu bersipuh dan menangis. "AAAA!! Aku mohon ampun!! mohon ampun Yukita!! cukup siksaan ini!! ke**luanku sakit kau ruda paksa!!" ucap Fera.


Gani dan Anton saling berpandangan heran yang melihat Fera selayaknya orang trauma, "Fera tenang ini gua." Anton berusaha menenagkan cinta masa lalunya. Anton menyuruh Bi Iddah untuk membersihkan Fera dan memberikannya pakaian yang layak.


"Bang lu gila tuh cewek udah bunuh anak lu!!" maki Gani.


PLAK


Tapi Gani malah di tampar oleh Anton karena bicara seperti itu. "Lu bisa bayangin kalo di posisi Fera itu, Lisa atau Lisi!!" maki Anton pada adiknya.


Anton menelpon Dokter Alika yang khusus untuk mental, besok sang Dokter akan datang ke rumah untuk memeriksa Fera.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2