Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 46


__ADS_3

Risma lelah sampai ia memutuskan tidur di sofa ia berusaha cuek saat Anton menjaillinya, sikap pria Italia itu amat gemas pada istri mudanya. Bila di deskripsikan Anton dan Risma lebih cocok menjadi paman dan keponakan di bandingkan suami dan istri.


Anton menatap istrinya yang terlelap di sofa seulas senyum tergambar di bibir tipis milik pria itu melihat istrinya tidur dengan wajah polos. Saat Risma terbangun Anton berpura-pura tertidur. Risma segera melihat jam hampir pukul tujuh.


Risma segera bangun takut seorang perawat mengantarkan makanan atau sarapan untuk Anton jadi ia bangun untuk membersihkan tubuh Anton. Risma mengambil baskom dan kain basah untuk mengelapi tubuh Anton dengan kain yang sudah di basahi Anton masih berakting selayaknya sedang tidur padahal ia sadar jika istrinya sedang membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai Risma ingin ke kamar mandi untuk membuang air yang ada di baskomnya tapi tangannya di genggam oleh Anton. "Anton apa yang kau lakukan? lepaskan aku?" Risma berusaha melepaskan tangannya tapi Anton malah semakin mendekapnya dengan mengesampingkan diri menjadikan tangan istrinya sebagai bantalan.


Risma mendengus kesal ia segera mengambil elapnya dengan tangan satunya lagi kemudian ia menaruh lap tersebut di baskom samping nakas, "Anton ini tidak lucu! lepaskan tang---" belum sempat Risma menyelesaikan kalimatnya pria itu menariknya membuat wajahnya dengan wajah Anton menyatu.sangat dekat.


Anton tak tinggal diam ia memegang tengkuk istrinya kemudian menciuminya hingga puas, tak sadar hingga perawat datang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Risma langsung memerah karena malu sungguh tak tahu malu suaminya ini.


"Ini makanan sama obatnya."


"Te-terimakasih Sus."


"Sama-sama, kalo gitu saya permisi dulu." Perawat itu pergi dengan senyum kecil.


Risma menatap Anton dengan kesal ia mengambil baskomnya untuk ke kamar mandi, "modus!!" ucap Risma dengan ketus. Anton tersenyum ia merasakan selain mengemaskan istrinya juga sangat manis. Sesudah Risma membuang air di baskom ia   kembali untuk menyuapi Anton.


Risma membantu Anton menyandarkan diri di bantal untuk di suapi, makanan pagi ini hanya bubur, sayur kacang-kacangan, dan kuah bubur tanpa ayam dan kerupuk tapi ada sejenis daging. Risma menyuapi suaminya dengan santai dia meniup makanan yang di sendok untuk di masukan ke mulut Anton begitu seterusnya.


Anton bicara pada sang istri. "Risma kamu mau kembali sama saya?" tawar Anton. Risma terdiam ia menaruh makanannya di nakas kemudian tangannya membelai pipi sang suami yang di  tumbuhi bulu halus tapi ketampanannya tak memudar meski sudah berumur 30 an.


Risma menarik nafas kemudian ia hanya mengangguk pasrah, "aku kembali hanya untuk Karina." Jeda "Tapi____soal hubungan atau urusan kasur_____aku masih_____takut." lanjutnya mengingat akan masalalu pada Anton yang mengambil mahkotanya dengan paksa.


"Iya saya paham," ucap Anton yang menyentuh punggung tangan Risma di pipinya. Tangannya merasakan antara tajam dan geli karena bulu halus yang tumbuh. Risma tersenyum kemudian kembali menyuapi Anton dengan telaten.


Risma tak tahu harus kemana lagi ia harus kembali pada Anton lantaran ia tak mau terus-menerus meminta uang untuk menghidupi putrinya kepada adik dan sepupunya. Risma bicara dengan Anton lamban laun keduanya sudah mulai akrab dan mengenal satu sama lain.


"Kita kembali ke Jakarta dan saya akan panggilkan penghulu untuk---uhuk." Anton tersendak lantaran mulut penuh dengan makanan malah bicara. Risma segera mengambilkan minum untuk Anton dan setelah selesai Risma memandang Anton dengan helaian nafas dan gelengan kepala.


"Makannya lain kali kalo lagi makan jangan suka ngomong Om." ucap Risma seolah balik mengejek Anton.


"Kok manggilnya Om sih?" ucap Anton.

__ADS_1


"Ya 'kan umurnya emang udah om-om." Risma bicara sambil meledek Anton.


"Terus kamu apa? Tante?" tanya Anton meledek balik Risma yang sedang sibuk menyuapinya.


"Kalo saya ya Mbak dong karena umur saya 'kan masih muda dua puluh tiga." Risma berhasil membuat raut wajah Anton kesal tentu saja Risma puas lantaran ia sudah muak semalaman di jaili oleh Anton.


"Gini Mbak Yumeko, 'kan situ mbak saya Om. Mau gak ngerasai batang jutsu Om Anton?" tanya Anton sambil menaik-turunkan alisnya.


"Saya udah ngerasain, rasanya sakit jadi gak selera." Risma bicara berusaha untuk tak mau kalah.


"Bener itu baru coba sekali loh? belum nyoba yang kali kedua produknya beda lagi." Celotehan Anton membuat Risma kesal setelah habis Risma memilih pergi daripada berdebat dengan suaminya yang makin tua makin mesum.


"Risma saya---" belum sempat Anton menyelesaikan bicaranya tapi malah di selak dengan kesal oleh Risma yang keluar ruangan.


"Bodo ah!! Om-Om!!"


Anton tersenyum sambil tertawa karena melihat tingkah istrinya yang masih belia ia mengeluarkan ponselnya meminta seseorang untuk bicara dengan Risma perihal pernikahan ulang. Anton tak bisa membayangkan hidup dengan istri mudanya dan anak perempuannya dua orang perempuan yang amat mengemaskan.


'Orang-orang pasti akan menganggapku ayah dari Risma dan Karina saat jalan bersama,' batin Anton yang tersenyum menatap langit-langit kamar.


Tak lama dua orang datang. "Risma!" panggilnya suara itu seperti wanita. Saat menoleh ia melihat Hanna bersama Axel. "Astaga Hanna!!" Risma menyapa teman lamanya sambil berpelukan melepas rindu. "Aku mendengar semuanya, aku harap kau memaafkan Tuan Anjaya dan perbaiki hubunganmu dengannya."


Hanna bicara pada temannya kemudian di jawab iya oleh Risma, mata Risma menatap Axel Herguez lalu Risma hanya tersenyum simpul pada sahabat suaminya yang telah meninggalkan luka padanya. "Silahkan masuk Anton pasti senang bertemu sahabatnya." Risma bicara ramah berusaha membuang masa lalu agar tak ada korban atau orang yang terluka lagi.


Hanna dan Risma bicara dengan akrab sambil menikmati pagi ia amat bersyukur tatkala bisa bertemu lagi dengan sahabatnya. "Hanna kamu____sudah---" Risma menatap cincin yang melingkar manis di jari lentik milik Hanna. "Iya aku sudah bertunangan dengan Axel, sebelum ke Bali aku sempatkan ke Spanyol mengunjungi keluarga Herguez."


"Aku senang kau bahagia." Risma tersenyum. Tak lama seorang anak kecil melompat lalu memeluk ibunya itu adalah Karina. "Mama!" Karina membawa boneka beruang pink berjalan bersama Clara. "Hey, pagi-pagi udah dateng kamu, wangi lagi."


"Ini Karina!!" Hanna membulatkan mata tatkla melihat Karina yang sudah besar berumur 3 tahun.


"Iya." JEDA "Karina salim dulu ama Tante Hanna temennya mama sama Papa."


"Halo Tante."


"Halo Karin...," ucap Hanna tanda amat gemas pada Karina.

__ADS_1


"Yaudah mama masuk dulu, kalian habiskan waktu berdua."


Clara masuk kamar rawat Inap putranya, dan terkejut melihat Axel juga di dalam. "Loh Tante!"


"Axel!!" Pria berparas Spanyol itu langsung menyalimi Clara.


"Maaf Axel Tante gak bisa datang di hari tunangan kamu dengan Hanna."


"Gak masalah Tante, Axel paham kok."


***********************************************************************************************************


Hisako mengendap-endap ia mengenakan baju tidur dengan Kardigan sebagai penutup ia melihat mobil sedan hitam kemudian masuk ke dalamnya agar tak satu pun orang melihatnya termasuk sepupunya Kojiyama. "Apa yang terjadi Hisako?" tanya pria itu.


"Aku akan di nikah 'kan dengan El deanon!"


Pria itu mengeratkan rahangnya lantaran mendengar penuturan dari wanita yang amat ia cintai. "Aku harap kau jangan sampai salah bertindak, Kamu tahu Bibiku adalah Yakuza dan aku tak mau kau berakhir seperti suami sepupuku!" Hisako bicara dengan menatap pria di sampingnya.


"Aku akan bawa kau ke Canada!" ajak Andria.


"Jangan bodoh, kau pikir anggota Yakuza tak mendunia!" ucap Hisako yang melihat pria di sampingnya sangat gegabah saat mengambil keputusan.


"Aku lebih memilih mati, dibandingkan harus menikahi Fuckboy itu!!" Hisako mengeluh pada Andria. "Jadi apa rencanamu."


"Semua tergantung dengan sepupuku, Kojiyama."


"Pria yang baik, dia harus menanggung derita dan masalah akibat ibunya yang kejam." Andria tahu saat Kojiyama harus berurusan dengan pihak Deportasi dan hampir bisnisnya di tarik kembali.


"Aku belum bicara apapun pada Kojiyama tunggu kelanjutannya."


Hisako bicara pada Andria kali ini, Hisako akan bertindak berani jika sampai Yukita menyakiti Andria meskipun hanya sehelai rambutnya maka ia tak segan menghabisi wanita tangan besi itu. "Baiklah aku turun takut Kojiyama menanyaiku ini dan itu, termasuk sepupuku yang sebentar lagi pulang dari rumah sakit."


"Aku juga harus menjenguk Anton...," ucap Andria lirih.


Sebelum Hisako turun tangannya di genggam oleh Andria keduanya bertukar tatapan mata sejenak di tengah terbitnya sang surya di langit Bali. "Hisako kau bagai sebuah cahaya bagiku, hati-hati mawarku." Andria mengecup punggung tangan Hisako yang kemudian gadis Jepang itu tersenyum dan turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


#bersambung


__ADS_2