Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 25


__ADS_3

DI KFC POV


Axel berjalan mencari orang yang di tuju tenyata Hanna sedang asyik memainkan ponselnya sambil minum soda, "Hanna!" Axel menghampiri Hanna dengan pakaian formal.


Hanna menatap Axel dengan mata judes khasnya, "ngapain lu manggil gua?" tanya Hanna dengan ketus.


Axel memesan soda dan roti isi karena ia ingin ke tepat bisnisnya lagi. "Hanna gua mau tanya soal Risma?"


Hanna tersedak dan menatap tajam pria di hadapannya, "ngapain lo nanyain dia, so care."


"Hanna gua peduli ama Anton. Dia depresi dan nyesel karena kehilangan istrinya!! gua harap lu tahu keberadaan Risma demi Anton," jelas Axel.


Hanna dalam hati ia amat tak tega mendengar penuturan Axel pasalnya ia sudah berjanji pada Nyonya Konawa untuk tak memberitahu siapapun tentang Risma yang sudah diubah namanya dan identitasnya untuk menghindari pelacakan.


"Gua gak tahu apapun, biarin aja Tuan Anjaya merasakan apa yang dirasakan Risma selama ini itu disebut karma." Hanna menjawab dengan judes membuat Axel mengepalkan tangan.


"Hanna!! lu bisa gak usah mikir soal karma!! pikir coba seorang yang sudah nyesel asal lu tahu semua orang punya kesalahan dan kesempatan!! masa temen gua gak berhak dapet kesempatan kedua!!" maki Axel yang menarik tatapan beberapa orang.


Hanna menjadi bungkam ada benarnya juga perkataan Axel. "Gua permisi makasih lu udah mau nemuin gua!!" Axel langsung pergi meninggalkan KFC sebelum itu makanan Hanna dibayarin oleh Axel yang membuat Hanna membuka mata tentang sosok Axel.


Setelah kepergian Axel, gadis berparas setengah Jepang itu menatap ke depan tangannya memijat pelipisnya mulutnya bergumam sesuatu. 


"Axel seandainya lu tahu ada alasan gua gak mau ngasih tahu lu keberadaan Risma, gua takut Nyonya Konawa nyakitin lu lagi." Jeda "gua gak sanggup ngeliat lu terluka apa lagi sengsara untuk kedua kalinya, meskipun gua gak suka sama tingkah lu tapi gua respect ama kesetiaan lu akan persahabatan."

__ADS_1


⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─


Pagi di kota Tokyo di awali dengan dinginnya udara yang merasuk sampai ke tulang, Risma masih setia menimang putrinya ia menyusui Karina setelah anaknya tidur, Risma segera pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya karena ia akan pergi keluar untuk menandatangani jika identitasnya akan di ubah untuk menghilangkan Jejak Anton.


Di ruang makan Risma harus terbiasa makan dengan menggunakan sumpit, pagi ini makanan yang tersaji adalah sup miso. "Baiklah Yumeko, setelah makan bersiap." Hisako makan nasi dengan rumput laut kering.


"Yumeko aku akan tunggu di mobil," ucap Hisako pergi meninggalkan meja makan untuk bersiap menuju kamarnya.


Risma berjalan menuju kamarnya dengan menaiki anak tangga ia menganti baju dengan pakaian hangat jaket tebal dan celana bahan agar tubuhnya senantiasa merasa hangat, agar tak demam atau terkena flu. Risma turun ke bawah dan memakai mantelnya di depan halaman sudah ada Hisako dan para gangster sekaligus bodyguard.


"Kenapa kau lama Yumeko? apa Karina tadi rewel?" tanya Hisako di dalam mobil yang duduk bersebelahan dengan Risma.


"I-iya." Risma berusaha mencari alasan.


"Oh, ya perusahaan di Jakarta sedang di pegang oleh Kojiyama. Obasan sedang di Irlandia untuk menanamkan saham kau ingin apa?" tawar Hisako kepada sepupu nya.


"Entahlah, Hisako aku bingung. Apapun itu aku akan terima." 


"Baiklah nanti kau bicara saja pada Obasan."


Hisako berbincang pada Risma di dalam mobil untuk sampai ke suatu tempat, Risma hanya menjawab dengan biasa saja sepertinya Hisako sangat perhatian pada sepupunya ini. Setelah mereka sampai di tempat yang di tuju.


Risma di antar Hisako hanya untuk menadatangani berkas agar mengubah identitasnya. Setelahnya Risma keluar dari gedung ia sempat di tawarkan Hisako untuk ke pusat perbelanjaan tapi Risma menolak secara halus karena mungkin Karina sedang membutuhkan dirinya di rumah.

__ADS_1


Risma menatap keluar jendela mobil melihat keadaan kota Tokyo nampak bersih dan terawat juga banyak orang berlalu lalang mengenakan syal dan pakaian tebal, 'enak sekali jika makan atau minuman yang hangat' gumam Risma yang bisa di dengar oleh Hisako.


"Baiklah sampai rumah kita akan makan yang hangat," ucap Hisako sambil merangkul sepupunya.


Risma tersenyum sambil merangkul leher Hisako, dirinya sungguh bersyukur lantaran selama ini dia sudah bertemu keluarga yang didambakan tapi hatinya tidak.


Dia selalu memikirkan suaminya mengapa cinta itu sangat sulit untuk di lupa, Risma menatap cincin pernikahan dengan Anton yang masih di jari tangannya.


Dia menghembuskan nafas sampai kabut menyembul dari mulutnya karena udara yang dingin, berharap ia bertemu Anton dalam mimpinya, untuk bicara pada suaminya meskipun hanya sekejap mata. Kenapa cinta begitu kejam pada dirinya, memang dirinya salah untuk memberikan cinta ini pada seseorang yang menjadi ayah bagi putrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anton menenggak minuman dirinya sudah mabuk terlalu berat lantaran ia sangat depresi setelah kehilangan anak dan istrinya, mulutnya terus meracau nama istrinya tak lama Gani adik Anton datang melihat kakaknya mabuk dengan kadar tinggi.


"Kak Anton!!" teriak gani saat ingin Anton meraih botol keduanya malah di cegah adiknya itu.


"Risma...Risma...saya menyesal....," racau Anton.


Gani merasa iba pada kakaknya lantaran terlalu memikirkan istrinya, ia juga tak bisa apapun karena Gani juga ambil andil dalam mencaci maki kakak iparnya.


Tanpa basa-basi lagi ia memapah dengan kesusahan tubuh kekar sang Kakak menuju lantai atas kamarnya ia amat menyayangi kakaknya, Gani berusaha menemui Kojiyama dengan menjalin kerjasama dengan membuka club pantai di bali dengan begitu ia bisa mengetahui keberadaan kakak iparnya.


"Jika Kak Risma di temukan gua bakal minta maaf sama dia, gua nyesel kenapa dulu gua ikut terprovokasi." Gani yang berhasil menidurkan Anton di kasur yang masih dengan racauannya ia hanya bisa tidur di sofa panjang agar bisa mengawasi kakaknya.

__ADS_1


Gani mengirim pesan pada Kojiyama agar bisa sedikit membantunya meski hanya lewat whatsaap tapi ternyata Kojiyama juga tidak mengetahui keberadaan Kakaknya, Yukita Konawa memang cukup cerdik tak memberitahu putranya lantaran ia tahu putranya bersikap netral.


__ADS_2