
Risma masuk ke dalam mobil dalam keadaan diam tetapi airmata terus keluar dari pelupuk matanya, mulutnya diam dan tidak mengeluarkan isak tangis. Tangannya mengendong Karina yang keheranan.
"Mama kenapa nangis?" tanya Karina sambil mengusap air mata ibunya. Amara terus memeluk keponakannya dan tangannya mengusap-usap bahu keponakannya.
"Saya tahu ini berat, Nak. Tapi aku harap kamu tenangkan diri dulu Tante gak bisa ngasih solusi jika *mood *kamu lagi tidak stabil." Amara bicara sambil mengusap bahu Risma ia merangkul seolah memberikan kekuatan.
"Eyang...Mama kenapa?" tanya Karina dengan polosnya. Amara hanya tersenyum kemudian mengatakan hal-hal yang mudah di mengerti oleh anak kecil, hati wanita itu amat tak tega melihat Karina yang masih terlalu kecil harus mengalami orangtuanya tinggal terpisah.
"Mama hanya sedang banyak masalah, sayang." Jeda "Karin harus bisa jagain Mama ya."
"Siap Eyang."
Karina yang berusia tiga tahun hanya memeluk ibunya dengan erat tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, masalalu kedua orangtuanya dan bagaimana watak asli sang Nenek yaitu Yukita Konawa. Karina selama ini selalu di berikan apapun oleh sang Nenek tanpa harus memintanya terlebih dahulu, Karina tak pernah menanyakan tentang ayahnya karena bagi anak itu tak masalah tidak memiliki seorang ayah yang penting keluarganya hidup harmonis.
Banyak dari teman-teman kecilnya Karina yang di Jepang mengalami broken home anak itu juga di beri masukan oleh Yukita Konawa jika memiliki seorang ayah maka hidupnya belum tentu damai dan tentram, jika Karina menanyakan dimana ayahnya maka Yukita akan menjawab dengan masukan yang kurang baik.
"Sobo, dimana ayahku?" tanya Karina yang waktu itu berumur mau menginjak tiga tahun.
Yukita Konawa yang sedang melihat kelayar laptopnya tersenyum sambil menyamai tingginya dengan bocah berumur tiga tahun itu, "Karin sayang, mengapa kau menanyakan itu. Apa kau tak lihat jika teman-temanmu yang orangtuanya bercerai?" Yukita membelai kepala cucunya sambil menatap wajah bocah itu.
"Tapi aku ingin tahu soal ayahku?" tanya Karina dengan polosnya, Risma yang berada di tempat itu juga merasa tak tega melihat dan mendengar Karina menanyakan seperti itu.
"Karina, jika kau bertemu ayah kamu belum tentu hidupmu bahagia. Contohnya seperti : Daichi, dan Aiko."
Karina yang masih kecil telah di doktrin oleh Yukita dengan masukan seperti itu sejak saat berusia dini, anak tersebut tak pernah menanyai lagi dimana ayahnya bahkan sama sekali tak mau tahu.
Risma sampai di apartemen, "Risma istirahat nanti kalo sudah fresh kita bicarakan masalah ini dengan ibumu." Amara bicara lalu mengecup kening Risma. Wanita itu masuk sambil mengendong Karina, supir keluarga Konawa mengantar Amara Sabrina pulang dengan selamat sampai tujuan.
Di dalam Apartemen Risma melihat ibunya yang sedang duduk di depan laptop sambil meminum kopi. " Kamu sudah pulang Yumeko?" tanya Yukita kemudian tatapannya melihat putrinya betapa terkejutnya wanita Jepang itu saat melihat kedua mata putrinya sembab seperti habis nangis.
"Astaga!! Yumeko!! apa yang terjadi sayang?!" Yukita mendekati putrinya kemudian memegang kedua pundak putrinya.
"Karina tolong kamu ke kamar dulu!" perintah Yukita pada Cucunya.
"Hai, Sobo."
__ADS_1
Karina berjalan menuju ke kamarnya di tangan bocah itu memegang boneka warna putih. "Duduk dulu...," ucap Yukita yang kemudian diangguki oleh Risma.
Ibu dan anak itu duduk di sofa. Risma hanya menggelengkan kepala dengan menyanggah kepalannya dengan kedua tangannya tanda terlalu lelah. "Apa yang terjadi sayang?" tanya Yukita memeluk putrinya.
"Saat aku di restoran di hotel, aku bersama Tante Amara sedang asyik mengobrol dan Karina sedang bermain di tempat khusus anak____Disaat aku sedang terbawa suasana dengan Tante Amara____"
"Apa yang terjadi selanjutnya, Nak? apa terjadi sesuatu?" tanya Yukita.
"Aku bertemu Kak Anton____dia tahu jika Karina adalah anaknya___dan tahu jika aku berada di Barito."
Sontak penjelasan Risma membuat Yukita terkejut dan marah lantaran bagaimana tahu Anton posisinya, hati wanita itu mengatakan jika ada yang berkhianat dengan membocorkan tempat persembunyiannya. "Sudah-sudah sebaiknya kamu istirahat...mau Okaasan buatkan sesuatu?"
Risma menggeleng yang kemudian ia menyusul Karina ke kamarnya, Yukita berdiri ia menelpon seseorang yaitu Shinjo kaki tangannya untuk mencari tahu darimana Anton bisa tahu keberadaannya.
***************************
*
*
*
Hari ini sabtu kantor tempatnya bekerja libur, Hanna duduk termenung di taman menatap dengan tatapan kosong, ia memakai Kardigan ungu dengan celana training biru, suasana taman lembah gurame nampak sepi hanya ada beberapa orang itu pun bisa di hitung dengan jari.
Seseorang menepuk bahu Hanna yang membuat gadis setengah Jepang itu menjerit dan kemudian berdiri memejamkan mata. "Saya mohon ampun Nyonya Konawa, saya akan lakukan apapun...," mohon Hanna memejamkan mata sambil bersimpuh yang membuat pria itu heran.
"Hanna!! Hanna ini gua!!" ucap Axel yang melihat tingkah Hanna dengan heran.
"Hanna lu kenapa sih?!"
Hanna membuka matanya ia melihat Axel dan hatinya merasa tenang, gadis itu dengan nafas terengah-engah dan mata berkaca-kaca menatap Axel. Axel juga ikut menyamai tingginya menatapnya dengan heran sejenak mata mereka beradu pandang.
"A-Axel..," ucap Hanna yang kemudian merengkuh tubuh Axel Herguez dan menyalurkan ketakutannya.
"Ada apa? lu bisa cerita ama gua!" ujar Axel. "Yaudah lu berdiri bangun, duduk dulu di bangku____jangan begini kotor." Axel membantu Hanna berdiri dan duduk di bangku taman yang tak jauh dari jangkauan mereka.
__ADS_1
"Lu kenapa sih? cerita ama gua!"
Hanna terisak matanya memancarkan ketakutan juga wajahnya pucat. "Axel__hiks__gu-gua takut__hiks."
"Apa yang lu takuti?" tanya Axel lagi melihat Hanna.
"Nyo-nyonya Konawa," kata Hanna.
Axel langsung melebarkan matanya memperlihatkan manik matanya berwarna hijau, "lu bisa cerita ama gua__kenapa apa ada masalah kantor?" tanya Axel yang berusaha menenangkan Hanna.
"Lu gak tahu apa yang sebenernya terjadi___ini bukan masalah kantor___tapi menyangkut pribadi antara gua sama Yukita Konawa."
"Lu bikin masalah apa? cerita ama gua...siapa tahu gua biasa bantu lu." Axel menatap Hanna yang sepertinya perlu untuk rengkuhan dan teman untuk bersandar.
"Gu-gua__gu-gua ngehianatin dia__hiks__dengan ngasih tahu lu tentang keberadaannya dia___tapi kaki kanannya lagi cari tahu siapa yang ngasih tahu."
"Gua bisa lapor polisi."
"Jangan Axel__status gua masih warga negara Jepang, please lu belum tahu sepenuhnya tentang Yakuza." Hisako mencegah Axel.
"Gua takut, Axel."
Hanna menangis tergugu, Axel merasakan derita yang dialami oleh Hanna meskipun ia pernah merasakan disiksa oleh Yakuza itupun hanya sekali. Axel menenangkan Hanna. "Yaudah sini," ujar Axel merengkuh Hanna ke dalam pelukannya yang kemudian mereka menyadari perasaan satu sama lain.
"Lu tenang aja gua akan ada sama lu, meskipun keadaannya___bahaya."
Axel dan Hanna saling memeluk menyaksikan suara indah dari burung-burung di taman dan angin yang berhembus, menjadikan keduanya___sebagai teman dekat.
Hanna Okamoto
Axel Herguez
__ADS_1
#Bersambung