Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 42


__ADS_3

Risma terdiam di tengah angin malam untuk Karina di bawa pulang oleh Amara ke rumahnya di karenakan Yukita Konawa sedang ada di kantor polisi Bali dan pihak deportasi lantaran telah berbuat kriminal di negara orang. Wanita setengah Indonesia itu menghirup udara kemudian menghembuskan nya ke udara mengkhawatirkan suaminya.


"Anda keluarga Pasien?" tanya salah seorang perawat.


Risma mengangguk. "Iya betul saya istrinya." Perawat itu memberikan pakaian Anton pada Risma. "Ini pakaian dan barang milik pasien." Risma hanya mengangguk sesekali mulutnya mengatakan terimakasih. "Baiklah kalo begitu saya permisi." Perawat itu berlalu dan bisa mengerti perasaan wanita setengah Jepang itu.


Tak lama Dokter keluar dari ruang operasi memperlihatkan raut wajah serius. "Apakah anda keluarga pasien?" tanya Dokter. "I-iya" jawab Risma dengan gugup. "Mari, Nyonya ke ruangan saya." Dokter itu bicara serius lantaran raut wajah ada kabar tak mengenakan.


Risma menarik nafas lantaran hatinya sedang kacau balau ia sama sekali tak rela jika kehilangan Anton dan amat menyesal jika sampai Karina putrinya menjadi yatim, Sesampainya di ruangan Dokter Risma duduk di kursi tepat di hadapan Dokter laki-laki itu.


"Nyonya Risma  kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang berada dalam tubuh pasien, tapi kami tak bisa berbuat banyak lantaran racun peluru yang bersarang dalam tubuhnya sudah menyebar dan keadaannya kritis hanya tuhan yang dapat membantunya saat ini."


"Te-terimakasih, Dokter." Risma bangkit lalu keluar ruangan sang Dokter. Dia menangis sambil berjalan menuju ruang ICCU hatinya remuk saat ia ingin masuk harus memakai baju khusus. Saat masuk Risma tak berkata apapun hatinya remuk ini semua salahnya karena rasa egoisnya.


Beginikah rasanya dulu Anton saat dirinya koma ada rasa khawatir, sedih, kecewa, dan perasaan sakit. Risma benar-benar merasakan saat dimana posisinya Anton dulu. Bulir airmata jatuh ke pakaian yang di kenakan Anton di tangannya gemetar sambil membawa barang bawaan milik Anton yang di plastik.


Risma tak menyangka Anton bisa melakukan pengorbanan sebesar ini demi dirinya, suaminya benar-benar berubah Risma salut akan hal itu. Di sisi lain dirinya merasa bersalah lantaran telah meragukan Anton yang sekarang sudah membuktikan cintanya. Risma hanya mengeluarkan isak tangis karena tak kuat melihat suaminya seperti ini.


"Anton...," ucap Risma lirih sambil melihat Anton yang terbaring dengan selang dan alat bantu sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Aku minta maaf, karena meragukan cintamu___hiks___aku gak nyangka kamu rela ngorbanin diri sampai sebesar ini demi aku dan Karina."


Risma amat menyesal dirinya tak mampu berbuat apapun, ternyata Yakuza itu kejam bahkan tak segan membunuh.


"Anton, tolong kembali." Risma hanya bisa membenamkan wajahnya di samping Anton sambil terduduk di kursi tangannya menyentuh tangan kiri Anton yang terdapat selang infus.


*************************************************************************************************************


*


*

__ADS_1


*


*


*


Di rumah keluarga Anjaya malam-malam sedang ribut-ribut. "Apa!! yang terjadi dengan Anton!!" tanya Panji ayahnya Anton.


"Apa yang sebenarnya terjadi Panji dengan Anton!!" tanya Clara ibunya Anton.


"Dia mengalami insiden di Bali," ujar Panji Anjaya. "Oh TIDAK ANTON!!!!!!!!!!!!" jerit Clara yang di tenangkan oleh si kembar.


Clara kekeh ingin ke Bali malam ini juga meskipun hanya mengenakan baju tidur. "Clara ini sudah malam!!" peringat sang suami. "Aku mengkhawatirkan Anton, Mas." Clara sama sekali tak menggubris ucapan suaminya akhirnya Panji dan Clara pergi ke Bali sedangkan tiga orang anaknya ia tinggal di rumah.


Gani bertanggung jawab menjaga adik kembarnya sedangkan Clara dan Panji berangkat dengan menggunakan jet pribadi untuk ke Bali. Jam dua malam dini hari keluarga Anjaya mendapatkan telpon dari Billy kaki tangan sekaligus teman Anton.


Mereka sampai dua jam kemudian dengan menggunakan jet tanpa peduli penampilan Clara hanya mengenakan Kardigan untuk menyamarkan baju tidurnya, "kalian bawa barang-barang ke hotel kami ingin langsung ke rumah sakit." Panji berucap kepada suruhannya.


Sesampainya di rumah sakit Clara menghilangkan rasa malunya dengan menanyai setiap suster yang lewat suster mengatakan jika Anton masih berada di ICCU tak berselang lama Clara dan Panji masuk ruang ICCU dengan masker dan baju khusus.


"Mama, Papa." Risma terkejut dan tak tahu harus apa. "Risma kamu---" belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya wanita Italia itu terkejut lantaran Risma memeluk kakinya dan terus meminta maaf. "Mama maafkan aku." Risma mendekap kaki Clara sambil menangis.


"Bangun sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Clara kepada menantunya.


"Aku minta maaf mama, aku bersalah."


"Apa yang terjadi?" tanya Clara dengan heran begitu juga Panji.


"Mama, Papa aku minta maaf seharusnya Anton tak berurusan dengan Yakuza."


"Yaudah ayo kita ngomong di luar." Clara mengajak menantunya keluar dari ruang ICCU untuk bicara sedangkan Panji Anjaya menjaga putranya.

__ADS_1


Risma menangis ia menjelaskan kepada Clara dengan terbata-bata dan takut, awalnya Clara ingin berteriak marah tapi setelah ada suara seorang anak kecil di belakang memanggil nama ibunya membuatnya meredam amarahnya.


"Mama..," ucap Karina putrinya yang datang bersama Amara.


"Karin ngapain malam-malam kesini emang gak tidur?" tanya Risma pada putrinya yang cantik.


"Karina tidak bisa tidur selalu inget ayahnya," ujar Amara. Clara menjadi terdiam sejenak dan Amara mengenalkan diri sebagai bibi dari pihak ayah Risma.


"Mama itu siapa?" tanya Karina.


"Itu nenek, sayang."


"Nenek?" Karina mengerutkan keningnya.


Clare tersenyum berusaha membuang emosinya kemudian mendekati cucunya yang sudah lama tak ia temui. "Ya tuhan cucuku sudah sebesar ini." Clara langsung berusaha mengambil alih Karina ajaibnya Karina langsung mau pada Clara.


"Panggil Oma saja ya."


"Oma?" Karina heran.


"Iya Oma." Karina memeluk neneknya. Clara tak hentinya menyalurkan rasa rindu yang mendalam pada cucunya yang sudah lama tak pernah di temuinya.


"Berarti Karin punya Nenek tiga dong!" ucap Karina dengan polosnya.


Tak hentinya Clara mengeluarkan air mata karena rasa rindu pada cucunya ini, memang selama ini dia amat tak tega melihat Anton terpuruk tapi hari ini ia amat senang mengetahui jika cucunya sudah sebesar ini.


"Mama aku akan tinggalkan kalian berdua." Clara mengangguk lantaran ia mengerti jika Risma ingin membiarkan dirinya menghabiskan waktu dengan cucunya.


Amara dan Risma pergi untuk mencari sarapan agar Clara dan Panji ikut mengisi perutnya sangat sulit mengetahui ini masih jam 5 subuh, tapi mereka akan berusaha menjari warung makan atau cafe yang masih buka. "Risma sekarang kamu lihatkan pengorbanan suami kamu." Amara bicara demikian.


Risma hanya mengangguk tapi dirinya tak mau Anton celaka lagi oleh Yakuza yang di sebabkan oleh ibunya dirinya mencintai Anton dengan segenap hati, pria itu sudah berubah membuat Risma kagum apalagi saat Anton bicara dengan Karina sifat ke ayahan dalam diri Anton keluar. Risma akan memutuskan nanti saat Anton sadar yang terpenting sekarang adalah Anton sadar dari koma dan sembuh dulu.

__ADS_1


Amara yang berjalan di samping Risma berucap dalam hatinya. "Ya allah tolong satukan mereka beri petunjukmu," batin Amara sambil berjalan di sebelah Risma.


#bersambung


__ADS_2