
Sebuah senja menggelayuti langit sore ini, langit orange itu seolah menemani seorang pria yang menunggui makam bayi mungil menatap dengan sendu hatinya terasa teriris sakit tatkala bayi yang tak berdosa harus jadi korban kebejatannya bahkan air mata saja tak cukup untuk menebus rasa berdosa selama ini pada anak dan istrinya .
Perlahan tangan kekar itu mengusap nisan makam bayi mungil tersebut yang bertuliskan nama bayi perempuan, Kirana Clarissa Anjaya binti Anton Darma Anjaya.
"Papa minta maaf___Kirana," ucap Anton tanpa terasa satu bulir air mata lolos begitu saja.
"Papa mau pulang, Nak. Istirahat dengan tenang___Papa mau melihat keadaan adik kamu Karina yang masih di dalam Inkubator." Anton berdiri dari makam itu, tak lama di belakang ada yang menyentuh bahunya yang membuatnya menoleh ke belakang.
"Anton...," kata seorang pria yang menggunakan Kruk sebagai alat bantu jalan.
Itu adalah Axel dan Andria yang berada tepat di belakangnya, Andria sedikit lebih beruntung karena hanya mengalami lebam pada wajah dan luka ringan dibandingkan Axel yang harus menggunakan Kruk sebagai alat bantu jalan karena habis di pukuli dengan benda tajam oleh gangster Yukita.
"Gua tahu ini berat buat lu___tapi gua tahu sekarang istri lu---" belum sempat Andria menyelesaikan ucapannya, Anton menatap tak suka yang membuat keduanya menunduk.
Anton menarik nafas panjang kemudian ia mulai berucap, "gua tahu ini pasti ulah mertua gua, Yukita Konawa...," ucap Anton menatap kedua temannya lalu mengisyaratkan untuk keluar area pemakaman karena sudah mulai menjelang malam.
Dari sini mereka bisa menyimpulkan jika keluarga Konawa bukan hanya disegani karena kekayaan tapi juga karena berbahaya.
Anton mengajak teman-temannya untuk ke rumah sakit jelas saja mereka harus menemui Risma dan meminta maaf meskipun Risma masih keadaan koma.
__ADS_1
⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─
Clara sedang di rumah sakit ia bicara dengan Hanna dan Hisako sepupu Risma, tak berapa lama Anton, Andria, dan Axel datang. Para pria terkejut melihat kehadiran Clara ibunya Anton.
"Mama...," ucap Anton.
Andria melihat Hisako dengan tatapan terpesona tapi Hisako menatap pria berparas Canada itu biasa saja malah terkesan tak suka, Anton melihat sebuah kertas putih di tangan Clara yang membuatnya mengernyitkan dahinya.
"Apa ini, Mah?" tanya Anton tetapi Clara dengan wajah kecewa menyerahkan kertas itu.
Anton marah bukan main saat yang ia baca adalah surat cerai dari pengadilan agama jakarta, Hisako berjalan mendekati Anton sambil menatap pria itu dengan wajah marah.
Anton dengan mata memerah seperti nyala api malah merobek surat cerai itu di depan semua orang lalu hasil robekan kertas itu di lempar ke tempat sampah tepat di sebelahnya.
"Katakan pada Bibimu!! Jika aku Anton Darma Anjaya tak akan menceraikan Risma Fradiska Anjaya atau Yumeko!!" Anton dengan emosi menabrak Hisako dengan kasar untuk masuk melihat istrinya.
"Anton!! jaga sikapmu pada perempuan!!" maki Clara sambil melihat Anton masuk ke kamar rawat Risma.
"Hisako, tante minta maaf mewakili Anton."
__ADS_1
"Tante jangan minta maaf, aku jadi tak enak hati seharusnya aku yang minta maaf." Hisako tak tahu harus berpihak pada siapa, disisi lain ia tak mau mengkhianati Bibinya yang sudah merawatnya selama 6 tahun tapi disisi lain ia tak tega memisahkan ayah dari anak dan suami dari seorang istri.
Persetanan dengan hati juga logika tapi gadis berparas Jepang asli itu sangat mudah termakan bujukan seseorang.
Yukita yang baru saja meraup keuntungan dari produk keluaran terbaru jadi wanita itu memutuskan untuk langsung ke rumah sakit ia ingin melihat cucunya sebentar saat melewati tempat bayi, wanita berparas Jepang itu mengusap lembut kaca inkubator melihat cucunya masih terlelap berselimut warna merah muda.
"O bāchan, okāsan to issho ni Nihon e tsureteitte kuremasu." Yukita menggunakan bahasa Jepang. (Nenek, akan bawa kamu ke Jepang bersama ibu kamu).
Meskipun Yukita seorang Yakuza tapi ia tak bisa menutup kemungkinan jika masih ada hati nurani dalam dirinya, tanpa ia sadari matanya mengeluarkan bulir air mata.
"Karina, Nenek ingin menemui Mama kamu." Yukita pergi meninggalkan cucunya yang masih dalam inkubator saat sampai di kamar putrinya wajahnya berubah menjadi dingin tatkala ia melihat para pria yang membuat hidup putrinya menderita.
"Obaasan." Hisako menghampiri Bibinya, "bibi, ada apa? apa perusahaan mengalami kerugian?” JEDA “atau pria-pria itu?" tanya Hisako bertubi-tubi sambil menunjuk Axel dan Andria.
"Perusahaan untung besar, Nak." Hisako heran pada bibinya yang mengatakan demikian tapi mengapa wajahnya kesal.
"Kau tahu jawabannya, aku ingin melihat Yumeko." Yukita langsung masuk menemui putrinya tanpa mau bicara pada Clara sang besan.
Hisako sangat terharu tatkala ia baru masuk bersama Bibinya melihat Anton menggenggam tangan Risma dengan wajah menatap wanita yang terbaring itu. "Obaasan...," kata Hisako berusaha menghentikan langkah Bibinya tatkala ingin mendekat.
__ADS_1