Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 71


__ADS_3

Siang ini Risma kelelahan karena Anton selalu menyentuhnya tanpa henti seolah ia adalah mesin. "Anton aku lelah nanti terjadi sesuatu dengan anak kita," ucap Risma. Anton membaringkan tubuh istrinya di sampingnya lalu dengan peluh yang bercucuran di tubuh keduanya.


Risma menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Anton. Sepasang suami istri tersebut berbicang soal bayi atau calon anak yang sedang di kandung oleh istrinya. Anton memang akan membantu Fera tapi anak dan istrinya di prioritaskan yang utama.


"Risma tolong kamu jangan cemburu begitu Fe---"


"Aku tahu Anton dia menderita HIV itu karena ulahnya sendiri," kata Risma yang sangat sensitif.


"Sayang Fera gak tahu kalo ibu kamu itu gangster," bela Anton.


Risma menurunkan kelopak matanya lalu tanpa sadar air mata membasahi pipi gadis berparas setengah Jepang itu, "sayang hei." Jeda "aku akan tetap prioritasin kamu dan anak-anak," janji Anton. Pria berparas bule itu mencium kening istrinya lalu Anton menaikan selimutnya sampai setengah pinggang.


Risma masih setia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Anton, tangan kekar pria itu membelai lembut surai hitam milik istrinya. Kali ini Anton yakin jika hatinya hanya untuk Yumeko Konawa ia memandang langit-langit kamar pikirannya amat bingung bagaimana cara meyakinkan istrinya yang masih muda ini.


-


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


-



Siang ini Karina berlari ke arah dapur rambutnya sudah rapih dengan bando warna merah muda sambil membawa boneka. "Selamat pagi, Bi Munnah dan Bi Iddah," sapa hangat Karina. "Selamat pagi Non." Karina memperhatikan pagi ini kedua asisten rumah tangga yang ada di dapur menyiapkan sarapan.


Karina duduk di kusi meja makan sambil melontarkan berbagai pertanyaan pada dua wanita itu, tentu hal itu lumrah dilakukan karena Karina sudah terbiasa dekat dengan siapapun. "Munnah kamu teh udah siapkan makanan buat Non Fera tamunya Tuan dan Nyonya?" tanya Bi Iddah.


"Belum saya lagi siapkan sarapan dulu."


Karina memiringkan sedikit kepalanya tanda heran siapa tamu yang di maksud. "Siapa Bi?" tanya Karina dengan polos. Bi Iddah menjawab pertanyaan bocah itu dengan bijaksana dan secara halus, "itu Non temannya ayah Non. Namanya Non Fera Bragasatya."


Karina yang memiliki sifat Apatisme atau sifat cuek alias acuh tak acuh pada keadaan yang menututnya tak penting dan tak berguna untuk hidupnya, "nih Non monggo di habiskan dulu susunya." Karina di antarkan segelas susu oleh Bi Munah.


Anton memanggil guru ke rumah untuk mengajari putrinya membaca dan menulis sambil menunggu guru Karina  mengambil bukunya ke kamar saat ingin keluar dari dapur perasaan bocah itu teralihkan ke empat kamar tamu. Karina melangkah dan memasuki salah satunya.


Tubuhnya kurus selayaknya mayat hidup. "Tante ini siapa?" tanya Karina masuk kamar.


Fera tersenyum menatap bocah itu lantaran hatinya pedih melihat bocah yang waktu dalam kandungan sudah ia hina. "Kemarilah sayang!" ajak Fera, Karina melangkah lalu berusaha menaiki ranjang yang besar itu. "Tante ini bukannya yang kemarin waktu di taman?" tanya Karina.


"Tante adalah teman lama Papa kamu," jelas Fera yang berusaha membantu bocah berumur 4 tahun itu naik ke atas kasur. "Kamu pasti Karina," tebak Fera.


"Kok tante tahu nama aku?"


"Papa kamu selalu cerita tentang kamu, Papa kamu sayang banget ama kamu."


Fera bicara dengan lemah lembut pada Karina tanpa sadar air mata keluar dari wajah Fera. "Loh tante kenapa nangis?" tanya Karina lalu mengusap lembut air mata Fera. "Tante cuman----" belum tuntas Fera menyelesaikan kalimatnya suara Risma memanggil putrinya.

__ADS_1


"Karina!! Karina!!" panggil Risma.


"Iya Mama!!" jawab Karina.


"Tante mama manggil aku ke mama dulu ya," kata Karina.


"Iya, bisa gak turun dari kasurnya."


"Bisa kok."


Karina turun dari kasur lalu Fera memberikan boneka kesayangannya untuk Karina. Bocah itu keluar lalu menutup pintu kamar tamu yang di tempati Fera, "darimana kamu Karina!" kata Risma dengan suara bass dan kedua tangan melipat.


"Aku dari kamar tante," ucap Karina dengan polos.


Risma membulatkan matanya lalu tingginya menyamakan tinggi Karina. "Apa yang kamu maksud kamar tante di kamar tamu?" tanya Risma sambil menekan putrinya. "I-iya ma." Karina menjawab dengan terbata-bata, Risma yang masih menyimpan rasa dendam akibat kehilangan putrinya malah sedikit memarahi putrinya.


"Karina kalo bisa jauhi kamar itu!!" perintah Risma dengan tegas.


"Loh kenapa, Mah? Tante itu baik kok."


Risma dengan marah mendorong putrinya suaranya meninggi entah karena hormon kehamilan atau masih berkobarnya api dendam dan amarah. "Karina sejak kapan kamu membantah Mama!!!" maki Risma dengan mulutnya.


Tubuh bocah berumur empat tahun itu bergetar hebat karena ketakutan tak pernah ia lihat ibunya semarah dan semenakutkan ini. Anton tiba-tiba datang dengan celana training dan kaos santai, "hei ada apa ini ribut-ribut." Anton mendekati putrinya lalu dengan cepat Karina memeluk sang ayah.


"Aku sedang memperingatkan putri kita!!" kata Risma.


Satu kalimat yang mengahiri perdebatan semuanya. "DIA MEMBUNUH SAUDARIMU KARINA!!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2