Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
EPILOG


__ADS_3

“Geser dikit lagi Mang!” perintah Gani memasang foto keluarga yang sudah lengkap.


Pagi ini Gani dan Anton sibuk merombak gaya rumah agar kedua anak mereka bebas berlarian, Antonio sudah beberapa kali kepentok barang jadi Risma dan Anton memutuskan merombak seisi rumah.


Risma sedang menyiapkan kopi untuk Mang Adi dan semua pekerja yang tengah merombak rumahnya, tiba-tiba Anton memeluk istrinya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.


“Apa yang kamu lakukan Anton? Banyak orang disini?” ujar Risma pada suaminya.


Anton semakin posesif dengan mencium leher Risma yang berorama parfume ume warna ungu, “emang gak boleh manja sama istri sendiri.” Anton memonyongkan bibirnya ke depan dengan dagu menempel di pundak istrinya.


“Woilah romance kali kalian berdua ini,” ucap Gani merusak momen romantis mereka sambil menjatuhkan panic.


“Sialan lo!!” maki Anton refleks melepas pelukannya, Risma hanya mengelengkan kepalanya. Tangannya membawa kopi ke depan untuk di minum oleh para pekerja yang memindahkan barang-barang di ruang tamu.


Karina sedang berlarian di taman belakang bersama adiknya yang mulai merangkak, Karina dengan antusias berusaha membantu adiknya berjalan meskipun masih meraba dinding. “Nio awas nanti jatuh.” Dengan sigap Karina memegang adiknya lalu memeluknya, bayi kecil itu hanya tertawa.



Bi idah membawa Karina ke atas sofa dekat kolam renang Antoni sangat nyaman di pelukan kakaknya wajah keduanya sangat khas dengan Asia timur raya, tetapi kulit mereka putih seperti orang Italia.


Antonio sudah mulai dekat dengan kakak perempuannya tak lama Anton datang menghampiri kedua anaknya, “Karin ayo siap-siap!” perintah ayahnya. “Emang mau kemana, Papa?” tanya Karina sambil bermain bersama Antonio.


“Papa sama Mama mau foto keluarga,” ucap Anton. Tak lama Risma menghampiri keduanya dan mempersiapkan Antonio untuk foto keluarga. “Anton siapkan popok dan kresek di mobil untuk Antonio.” Anton hanya mengangguk lalu mempersiapkan semuanya.


****


Pagi ini Risma menyalami suaminya untuk berangkat kerja tak lupa Anton memeluk Karina dan menciumi putranya yang ada di gendongan Risma, setelah kepergian suaminya ia pergi ke dapur untuk Karina bermain bersama Antonio di ruang tamu yang luas.


Di ruang tamu terpasang foto keluarga kecil yang sudah lengkap dan bahagia, mereka sangat serasi pasangan suami istri berbeda usia 12 tahun itu sudah memiliki dua orang anak tak lupa foto anak mereka di pajang di kamar Karina.



Risma hanya tersenyum tatkala melihat anaknya tengah bermain sepertinya Karina akan menjadi kakak yang baik, dulu dirinya tidak memiliki siapapun kecuali dengan ayahnya, bibi Amara merantau dan entah dia tak pulang lagi.


Tapi takdir mempertemukannya kembali di Bali, saat tengah memasak Karina berteriak dan Antonio menangis karena tangannya di Tarik, “adek jangan makan ini!!” maki Karina dengan panik.


Risma yang mendengar anak-anaknya berteriak dan menangis langsung mencuci tangannya yang beraroma bawang, “Bi Iddah tolong gantiin saya sebentar.” Risma menyuruh Bi iddah yang sedang memotong tempe, “baik Nyonya.” Risma menghampiri keduanya.

__ADS_1


“Astaga Antonio!!” kata Risma dengan panik.


Risma menepis lilin mainan itu lalu terlempar sedikit jauh, “Aduh sayang kenapa kamu tidak mau mendengarkan kakak.” Risma menenangkan Antonio yang menangis karena ia di recoki oleh ibu dan kakaknya.


“Aku udah larang tapi adek keras kepala,” adu Karina.


“Kakak!! Harusnya kamu jangan main lilin begini bisa gawat kalo sampai adek kamu makan!!” maki Risma.


“Tapi tadi aku lagi main masak-masakan dan aku suguhkan ama Antonio, tapi malah dimakan beneran.”


“Yaudah lain kali kamu jangan mainan lilin-lilinan lagi! Sekarang rapikan main aja monopoli pakai boneka dadu jangan dadu yang kecil, ada boneka dadu ‘kan yang waktu itu di kasih tante Lisa untuk ultah kamu!” ucap Risma yang masih menenangkan Antonio.


Karina merapikan mainannya lalu menaiki tangga untuk mengambil bantalan dadu, saat turun Karina melihat ibunya masih menenangkan Antonio setelah tenang bayi itu di turunkan. “Ini mah bantal dadunya,” kata Karina.


Antonio malah merebutnya paksa lalu menarik rambut Karina, “aduh adek sakit!!” jerit Karina berusaha melepaskan rambutnya.


“Antonio gak boleh gitu sama kakak!” tegur Risma dengan  jari telunjuknya lalu membantu Karina yang rambutnya tengah di Jambak oleh Antonio.


Risma membuat suasana menjadi lebih nyaman dengan membuat beberapa permainan ular tangga dengan karpet lalu bantal berbentuk dadu itu sebagai penentu, ibu dan anak itu bermain bersama.


Sampai anak-anak itu kelelahan lalu tertidur di karpet Risma hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu ia menaiki tangga masuk kamar untuk mengambil selimut waktunya bagi anak-anak itu istirahat.


Juga soal janji kepada Karina dan Antonio, Wanita itu akan menjelaskan jika pada hari sabtu dan minggu papa selalu punya kejutan. Ide dari Risma membuat keduanya mengerti terkadang Risma berfikir kemana ibunya Yukita Konawa.


Mengapa ibunya tidak menemuinya apa wanita itu tidak merindukan cucu-cucunya? Apa wanita itu marah? Tapi mengapa ia tak bisa melupakan masa lalu, Risma tak bisa memilih antara suami dan ibunya.


Seolah keduanya sangat berharga dalam hidupnya, naluri seorang anak dalam dirinya tak bisa di hilangkan. Sejak kecil ibunya pergi meninggalkannya dan baru bertemu saat dirinya berusia 20 tahun membawanya ke Jepang.


Hidupnya penuh dengan misteri. Dimanakah ibunya apa wanita itu tidak merindukannya dan tidak merindukan cucu-cucunya, jika wanita itu membenci Anton setidaknya pikirkan juga perasaan putrinya dan perasaan cucunya.


***


Malam hari tiba saat Risma tengah makan malam bersama anak-anaknya ada yang membunyikan bel ternyata itu adalah suaminya, “kamu abisin makanannya mama mau bantuin papa dulu.” Karina hanya mengangguk sambil mengunyah makanannya.


Di depan pintu Risma ingin membawakan tas suaminya tapi Anton pulang tidak sendirian ada Kojiyama bersamanya dengan mata yang sembab. “Koji kamu kesini?” tanya Risma. Wanita itu senang adiknya mengunjunginya.


Saat menengok lagi ada Andria dan Hisako. “Ini kejutan kalian kesini!” ujar Risma dengan riang gembira.

__ADS_1


“Bi Idah bawa Karina masuk kamar, dan makanannya juga bawa.”


“Baik Tuan,” patuh Bi Iddah.


“Papa udah pulang,” ujar Karina melompat ke pelukan ayahnya lalu Anton menciumi putrinya sambil mengendong.


“Iya sayang.” Anton bicara sambil memeluk putrinya, “Kojiyama Ojisan dan Obasan Hisako juga disini!!” ucap Karina dengan riang gembira lalu memeluk keduanya.


Karina di bawakan boneka barbie oleh Hisako dan boneka beruang warna coklat oleh Kojiyama, “Karin makannya di kamar ama Bi Iddah Papa mau ada pekerjaan.” Anak perempuan itu langsung mengangguk diantarkan oleh ART dan ibunya.


“Risma aku mau ngomomg sama kamu,” kata Anton sambil memegang tangan istrinya.


“Apa yang kamu ingin katakan?” tanya Risma pada Anton.


Anton melihat untuk Karina ia pastikan masuk kamar agar tak ada mendengar pembicaraan mereka karena ini menyangkut Yukita Konawa. "Okasan melakukan Harakiri saat di kepung oleh kepolisian,” jelas Kojiyama.


Bagai di sambar petir Risma langsung merasakan kram pada perutnya ia tak menyangka jika ibunya bisa melakukan hal ini. “Hiks! Bagaimana itu bisa terjadi!!” ujar Risma menangis dengan pilu.


Kojiyama menceritakan semuanya ia tak menyangka jika ibunya yang selama ini baru menghabiskan waktu beberapa saat padanya meninggalkannya, waktu itu Yukita amat putus asa ia mengalami hal memilukan sekutunya memutuskan pergi menjauhinya karena di anggap lemah.


Di tambah anak buahnya pada berhianat juga ia sedang di kejar oleh pihak kepolisian dunia karena bekerja sama dengan ISIS, mungkin ia yang dinamakan karma karena Yukita menghancurkan hidup tiga gadis sekaligus.


Siska, Salsa, yang paling parah adalah Fera. Memang tuhan tidaklah tidur untuk membalas kejahatan manusia, tuhan maha adil. Risma hanya melihat bungkusan kresek berisi abu jenazah ibunya yang di kremasi dalam mesin.


“Besok kita larungin abu okasan di laut,” ujar Kojiyama.


“Gak mungkin Okasan!!” ucap Risma menangis pilu ia harus kehilangan ibu dan ayahnya.


Pagi ini semua orang berkumpul di laut Ancol semuanya memakai pakaian hitam termasuk Antonio yang di gendong oleh Clare, Risma melarung abu jenazah ibunya ke laut ancol.


“Ayo kak, yang kuat.” Kojiyama menguatkan kakaknya, meskipun mereka berbeda ayah tapi mereka tetap satu rahim.


Saat abu terakhir Risma menumpahkan abu itu di kepalanya lalu menangis semua orang melihat Risma ia amat tak tega termasuk Salsa, meskipun hidupnya hancur karena ulah Yukita Konawa tapi berkat Amara bibi pihak ayah dari Risma hidupnya terbantu.


Salsa maju dengan mengenakan baju hitam dan rambut terurai ia memeluk Risma ia amat kasihan pada Risma yang dari kepala dan baju hitamnya di penuhi oleh abu jenazah ibunya. “Masih ada kami, kamu memilik anak dan suami itu yang utama.”


Risma menangis di pelukan Salsa lalu Anton memeluk istrinya untuk di bawa ke mobil ia amat tak tega melihat istrinya. Semua sudah selesai masalah yang menimpa empat keluarga telah berakhir dengan karma yang saling menimpa satu sama lain.

__ADS_1


“Semua berakhir yang tersisa hanya anak-anak tak berdosa yang tak mengerti situasi,” batin Risma sambil menatap anak-anak Salsa juga anak-anaknya.


...TAMAT...


__ADS_2