
Karina sedang ketakutan di sergap oleh teror bom yang menyerupai ninja hitam.
"Om lepasin Karina," ucap bocah itu lirih.
Tapi salah satu dari mereka tak ada yang bisa bicara bahasa Indonesia, membuatnya tak tahu apapun.
Karina terus menangis karena ketakutan sampai akhirnya salah satu, pria mengatakan.
"Hei Nak, apa kamu ingin permen atau gula-gula." Pria itu berbicara dengan bahasa Indonesia tapi logat asing.
Karina langsung berhenti menangis, "nanti ketemu nenek terus di kasih gula-gula dan permen."
mendengar kata permen dan gula-gula Karina langsung diam dan berbinar, Karina senang akhirnya akan di kembalikan pada neneknya.
(・o・)(・o・)(・o・)
Sesampainya di sebuah ruangan Karina melihat Yukita Konawa sedang melipat kedua tangannya, "kalian sudah selesai sekarang." Yukita Konawa berlari memeluk cucunya.
"Aku bisa bantu kalian lagi jika kalian mau," tawar Yukita dengan senyum licik.
"Jika ada bantuan maka ada harga, apa yang kamu inginkan lagi Yukita." Pimpinan Tero*ris itu berkata dengan membuka penutup wajahnya.
El Deanon masuk ruangan sambil membawa koper yang berisi lembaran uang dolar agar membiayai teror mereka, "ini uang kalian bisa beli senjata, bom, atau apapun."
"Tapi aku menginginkan kalian menangkap seorang gadis Jepang." Emmanuel duduk sambil menyalakan rokok.
"Aku akan kirim fotonya," ucap Emmanuel sambil menyembulkan asap rokoknya ke udara.
"Kami tak ingin lagi menculik seseorang itu akan meninggalkan jejak oleh detektif," kata salah seorang pria.
"Kalian tak akan ketahuan karena kami akan atasi," ujar Yukita sambil menggendong Karina cucunya yang tidur.
"Aku tahu kalian dendam kami bisa bantu maka harus ada imbalan," lanjut Yukita.
"Baiklah kami setuju," ungkap pimpinan teror itu.
"Soal Dana selama misi ini kalian akan di biayai oleh kami, lalu setelahnya kita putus hubungan takut terlacak oleh agen detektif. Setuju."
Pimpinan ******* itu tersenyum lantaran wanita di depannya ini selain cantik juga mematikan bahkan tak segan membunuh.
"Setuju," ucap anggota.
"Setuju."
"Setuju."
Pimpinan berjalan mendekati Yukita lalu membisikan sesuatu, "Aku setuju, Sweetie."
__ADS_1
Yukita Konawa tersenyum puas dan Emmanuel tersenyum sambil bertepuk tangan, lalu mengeluarkan minuman botol agar merayakan kerja sama mereka.
(‘◉⌓◉’)(‘◉⌓◉’)(‘◉⌓◉’)
Di rumah Kojiyama mereka bicara mengenai hubungannya dengan pengeboman di kota Italia yang menyebabkan Karina hilang.
"Apa yang harus kita katakan pada istriku?" ucap Anton.
"Aku juga tidak tahu, Kak Anton."
Di situ ada selain Anton dan Kojiyama, juga ada Gani, Hanna, dan Axel. Anton menatap langit-langit ke atas berharap istrinya mau kembali dengannya.
Anton selain mencintai Risma ia juga mempunyai kebutuhan biologis, Anton merindukan istrinya di pelukannya.
"Anton lu pasti bisa bujuk tuh istri lu, dia 'kan lagi hamil." Axel bicara pada temannya.
Hanna menatap Anton ia bisa mengerti perasaan sahabatnya, wanita berparas setengah Jepang itu juga paham keadaan sahabatnya.
Hanna bukannya tak mau membela ia tak tahu pasti akar permasalahannya, juga tak mau salah langkah yang menyebabkan keretakan pada rumah tangganya.
"Apa aku bisa mengutarakan pendapat ku?" ujar Hanna yang berdiri membuat Axel menatap istrinya.
"Tentu saja, Hanna." Anton bicara dengan menghomati Hanna selaku istri dari sahabatnya juga sahabat dari istrinya.
"Anton Aku akan tempatkan Fera, di apartemen lamaku tinggal. Meskipun tidak mewah tapi apartemen itu cukup bersih dan terawat," ungkap Hanna membuat suaminya tersenyum.
Anton menghelai nafas lalu tersenyum ia kemudian menatap Adik iparnya lalu Kojiyama menganggukkan kepala.
"Oke, tolong jaga Fera gua gak tahu lagi dia udah sakit parah." Anton bicara sambil tersenyum.
"Yaudah lu ke istri lu dulu Sono, tenangin 'kan dia lagi hamil." Axel bicara pada sahabatnya.
Anton mengangguk sedangkan semuanya yang ada di ruangan itu bicara bagaimana menemukan Karina, sedangkan Anton naik ke lantai atas untuk menemui istrinya.
"Sayang kamu dimana?!" tanya Anton sampai pria itu merasa jika istrinya berada di kamar ini.
"Risma!!" jerit Anton melihat istrinya meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
Anton langsung membopong tubuh istrinya lalu ia meniduri di atas kasur.
Pria itu memeluk istrinya agar lebih tenang, Risma memejamkan matanya ia merasa nyaman saat ke dalam pelukan suaminya dia merasa jika pelukan Anton seperti obat dan rasa kram dan sakit di perutnya berangsur hilang.
Mereka berdua bertatapan sejenak sampai Anton mencium bibir istrinya, Risma memejamkan matanya kondisinya sekarang sudah hampir menginjak 5 bulan.
"Sayang kita pulang sekarang," ucap Anton tapi Risma malah menggelengkan kepalanya tanda tidak siap.
Rasa traumanya semakin menjadi saat Anton malah main tangan waktu itu, dengan menamparnya dengan keras.
__ADS_1
"Risma saya minta maaf," kata Anton sambil memeluk istrinya ke dalam pelukan nya.
"Aku tak mau kembali ke rumah itu saat pembunuh anakku masih tinggal di rumah itu," ungkap Risma sambil menatap Anton dengan isak tangis dan bibir bergetar.
"Fera akan di urus ke pindahannya oleh Axel dan Hanna, mereka melakukan itu untuk calon keponakan mereka." Anton bicara sambil membelai pelan rambut Risma.
"Aku takut anak kita yang ini akan jadi korban," ucap Risma ketakutan bicara dengan mulut bergetar.
"Sayang hei... tenang," ucap Anton lalu memeluk istrinya.
Anton mencium bahu dan leher istrinya yang sudah hampir 3 hari tak di rasakan, rasanya amat rindu.
Anton memeluk istrinya di kamar ini pria berparas Italia itu mendekap istrinya sambil terlelap kepala Risma di sandarkan di dada Anton.
'Bagaimana caranya menjelaskan sama kamu sayang, jika anak kita hilang saat pengeboman di Italia.' Anton bicara dalam hatinya.
Anton terus mendekap istrinya dengan menyelimuti sang istri dengan selimut agar tak kedinginan. "Aku cinta kamu," ucap Anton.
(o´・_・)っ(o´・_・)っ(o´・_・)っ(⊃ • ʖ̫ • )⊃(⊃ • ʖ̫ • )⊃
Karina sedang di kamar, pojok sana sambil memeluk lututnya. Yukita Konawa mendekati cucunya.
"Karina sayang, kemari jangan takut sama Obachan." Yukita mendekat tapi Karina seolah menjauh karena takut dengan sang nenek.
"Kenapa takut dengan Obachan apa aku berbuat salah denganmu Nak?"
"Aku mau pulang ketemu mama sama papa," rengek Karina sambil terisak.
"Karina jika kamu ikut sama Obachan nanti, akan Obachan ajak jalan-jalan, kasih gula-gula, dan masih banyak lagi."
Karina langsung berhenti menangis lalu memeluk sang nenek, "anak pintar kamu cucuku yang paling pintar."
Yukita tersenyum bahagia akhirnya ia bisa mendapatkan cucunya tinggal keponakannya saja yang sedang berada di Canada, ia harus mendapatkan Hisako demi masa depan keluarga Konawa.
Yukita tersenyum puas tatkala bisa meraih hati cucunya, "Karin mau ikut nenek ke Hirado?" tawar Yukita lalu Karina mengangguk sambil berbinar.
"Baiklah nanti mau makan apa, takoyaki, okonomiyaki, sushi, nasi matsutake, atau apa? nenek bisa kabulkan keinginan cucu nenek."
Karina berfikir. "Apa ya? emm aku mau Nasi matsutake saja deh," jawab bocah itu.
"Nanti nenek suruh pelayan buat bikin nasi matsutake." Yukita menurunkan cucunya tak lupa ia mencium kening bocah itu.
"Karin main disini ada mainan, nenek ada pekerjaan sebentar," ujar Yukita.
"Iya nenek," patuh bocah itu.
Yukita berjalan keluar dengan senyuman puas lantaran berhasil mengkait hati cucunya tinggal beberapa pekerjaan lagi ia bisa ke Hirado untuk menutupi bisnis kotornya dan mulai bisnis baru hidup dengan memimpin Yakuza dan hidup damai bersama Karina atau Yuriko Konawa..
__ADS_1
#bersambung