Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 82


__ADS_3

Pagi ini seorang gadis berparas setengah Jepang sedang membuat susu hamil untuk ia minum agar jabang bayi yang di kandungannya selalu sehat, tak lama sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya membuat Risma terperajat kaget.


"Anton...," kata Risma dengan lirih sambil merasa di bahunya dagu Anton menyandar.


"Ada apa sayang?"


Anton mencium bahu dan telinga Risma dengan sangat gemas. Kedua tangan yang melingkar di pinggang Risma perlahan salah satu tangan memegang perut Risma yang setengah buncit yang berisi calon anaknya.


Kali ini pria berparas setengah Italia itu benar-benar menjaga istrinya seolah Risma barang berharga yang tak boleh hilang apalagi rusak, Anton mencintai wanita yang dulu pernah ia cacimaki dan hina sekarang Risma adalah bagian dari setengah jiwanya.


"Papa disini sayang kamu sehat-sehat ya di dalam."


Risma tersenyum malu karena ia masih terlalu canggung pada suaminya, padahal sudah terlihat jelas dari mata Anton jika pria berparas Italia itu sekarang mencintai istrinya.


Anton mencium perut Risma yang sedikit membuncit yang sebentar lagi usia kandungan nya berusia 5 bulan, Risma meminum susunya lalu setelah habis menaruh gelasnya di atas meja.


"Anton...kamu harus berjanji padaku jauhi si sundal itu," ungkap Risma sambil mengelus kepala suaminya yang rambutnya tipis.


Anton berdiri lalu membalikan tubuh istrinya lalu wajah mereka saling berada kemudian Anton mencium puncak kepala istrinya. "Saya akan jauhi Fera demi calon anak kita," ucap Anton lalu mengecup puncak kepala istrinya.


Anton kemudian merendah untuk mendengarkan suara anak dalam kandungan istrinya, wajahnya di tenggelamkan di perut Risma.


"Papa disini nunggu kamu lahir, kamu baik-baik di dalam."


Risma tersenyum tipis kemudian dia jadi teringat akan sesuatu yang kurang yakni putrinya Karina yang entah berada dimana.


Anton kemudian berdiri lalu memperhatikan istrinya wajahnya nampak cemas, "ada apa sayang?" tanya Anton berdiri lalu mengakar dagu istrinya dengan lembut.


"Aku memikirkan putri kita Anton."


Anton menarik Risma ke dalam pelukannya demi memenangkan wanita hamil itu, karena Risma terkadang sering pingsan atau jatuh bahkan tak segan perutnya kram di sebabkan terlalu memikirkan Karina yang hilang entah kemana.


"Sayang kamu tenang saja aku sudah menyewa Intel dan dektektif demi mencari putri kita yang hilang entah dimana."


Anton memeluk istrinya ia memejamkan matanya kenapa masalah selalu menimpanya, apa ini sebuah ujian untuk mencari jalan kebahagiaan.


Dua hari lalu Anton mendengar kabar jika kota tempat tinggal sahabatnya Andria, yakni Toronto juga kena bom karena aksi teror. Yups, Canada kena bom di kota Toronto dan yang lebih menyanyat hati jika calon istri Andria juga menghilang.


"Mau jalan-jalan?" tawar Anton tapi Risma hanya menggeleng tanda menolak, sikapnya masih terlalu canggung pada suaminya karena ia masih trauma akan masa lalu.

__ADS_1


"Yaudah mau periksa ke dokter?" Tawar Anton sekali lagi sambil menyentuh perut sang istri.


"Nanti siang," ucap Risma.


Anton sengaja mengambil libur agar bisa menjaga istrinya karena semenjak mendengar Karina menghilang membuat Risma menjadi stress berat padahal wanita hamil tak boleh stress.


"Risma kamu tenang saja, kita pasti akan menemukan Karina anak kita."


Risma sangat bosan akan permainan takdir kenapa saat hidupnya mulai tentram dengan suaminya ia harus kehilangan putrinya.


"Aku sudah kehilangan satu putri, aku tak mau kehilangan putri yang lain." Anton bicara seolah itu adalah Dejavu dari hatinya.


Risma hanya terdiam merasakan kehangatan yang Anton telah salurkan padanya, meski dulu Anton sering mencaci makinya dan menganggap benalu tapi sekarang pria berparas setengah Italia itu menjadikan Risma separuh hidupnya.


Risma kemarin mendengar kabar dari Kojiyama adik setengah kandungnya jika ibunya Yukita Konawa tak tahu soal kabar kehamilan nya, jika Yukita sampai tahu bisa-bisa wanita itu menyusun rencana agar memisahkannya kembali dengan Anton.


...****************...


Amara siang ini berencana mengunjungi Risma keponakan nya, karena ia berjanji untuk mengantarkan Risma memeriksa kandungan nya.


Amara sangat menyayangi Risma kenapa ia sangat terlambat untuk menyelamatkan cucunya yang akan di teror bom, perasaan nya mengatakan jika Karina sedang bersama Yukita.


Sesampainya di rumah Risma Amara turun dari dalam mobil lalu ia masuk sampai suatu ketika ia melihat adegan romantis Risma dan Anton, Amara memilih keluar dan meminta Bi Iddah mengatakan jika Ia sudah datang.


"Nyonya Amara Monggo di suruh Tuan Anton ke dalam."


"Terimakasih ya Bi," ucap Amara dengan santun.


Amara masuk dengan celana dan blazzer tak lupa rambutnya panjang menjuntai, "udah kalian mesra-mesraan nya?" ucap Amara sambil meledek.


"Anton maaf Tante ke sini mau nemenin Risma untuk meriksa kandungan," ucap Amara.


"Iya Anton aku yang meminta."


"Yah padahal Anton udah ngambil cuti."


"Oh ya, Anton Tante mau bicara sama kamu? soal Fera?!" ucapan Amara sangat tegas dan matanya menatap tajam menantunya.


"I-iya...," kata Anton.

__ADS_1


"Kenapa ada masalah sebesar itu aku baru dengar dari Gani? kamu kenapa melakukan hal gila dengan membawa perempuan sundal itu masuk menganggu rumah tangga kalian."


Anton menghelai nafas ia menjelaskan jika selama ini ia melakukan itu untuk menghilangkan rasa trauma pada istrinya, dengan cara memberikan Fera masuk.


Tak lupa Anton juga menjelaskan jika Fera sudah terkena penyakit Aids karena ulah Yukita Konawa, Amara tahu itu tapi ia tak mau ambil pusing lagian salah sendiri siapa suruh menjadi pelakor.


"Anton jika Tante menjadi Risma maka Tante akan lakukan hal yang sama," ucap Amara.


Kemarin Amara memarahi semua orang dari Kojiyama, Gani, dan juga sepasang suami istri Herguez yang membela kesalahan sungguh biadab mereka tak bisa menyadari kesalahan yang membuat Amara terasa sesak tatkala Hanna juga mengikuti suaminya.


"Anton ini peringatan yang pertama juga yang terakhir, jika Tante tak mau ada wanita lain yang bukan mahram atau siapapun termasuk Fera tinggal disini selama kalian menikah!" tegas Amara kepada menantunya.


"I-iya Tante."


"Iya apa!!" ucap Amara.


"Jangan ada siapapun di Antara aku dan Risma."


Amara mengangguk lalu menjitak Anton dengan pulpen, "dasar Londo gemblung."


Amara bicara lalu ia menatap Risma menahan tawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hisako terbangun tatkala ia melihat sekeliling di kamar dan semuanya di teralis, sungguh ia tak bisa apapun.


"Aku dimana?" ucap Hisako.


Tak lama Emmanuel masuk bertepuk tangan kemudian bicara. "Bonjour, calon istri ku."


"Kamu sekarang ada di Paris."


Hisako berlari ke pojok ruangan lalu menangis meratapi hidupnya yang sengsara apa ini karena ulah bibinya.


"Obasan aku membencimu."


Hisako menatap Emmanuel, "apa mau mu?"


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2