Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
BAB 88


__ADS_3

Anton mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan membuat Risma ketakutan lantaran mengingatkannya akan malam dimana Anton mengambil mahkotanya secara paksa lalu menyiramnya dengan derita.


"Kak Anton pelan-pelan...," ucap Risma ketakutan berusaha memegang apapun untuk jaga-jaga menyelamatkan diri.


"Diam!" ungkap Anton dengan nada dingin.


Risma semakin ketakutan belum pernah ia melihat Anton semarah ini, wanita hamil itu mengusap perutnya. "Anton kamu harus ingat aku sedang mengandung."


"Tak apa jika kita mati! kita akan mati bersama menyusul Kirana!"


Anton mengucapkannya dengan sembarangan membuat Risma semakin ketakutan, tanpa di duga Anton tidak membawa ke rumah melainkan ke tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan rumah itu terlihat seperti villa berada di kawasan puncak Bogor.


"Turun!" nada dingin itu membuat Risma mau tak mau menurut.


Baru saja turun dari mobil Anton menarik tangannya dengan kasar membawanya ke dalam rumah. "Anton sakit lepaskan aku!" keluh Risma.


"Anton menghempaskan tubuh Risma di sofa lalu menatap kasar istrinya. "Anton kamu bawa aku kemana! ini dimana?" tanya Risma.


"Ini di Villa milik saya."


$$$


Siska di Perancis di rumah besar milk Emmanuel ia bermain internet sepuasnya bahakan ia tak menyadari hanya akan di jadikan penghasil pewaris oleh pria mafia itu.


"Siska!" panggil Emmanuel.


"Kenapa Om, ucap Siska sambil asyiknya bermain laptop."


"Nanti malam kita ke Club chateua. Jadi bersiap."


"Iya Om."


Siska tak peduli dengan Emmanuel lantaran ia sudah cukup dengan kehidupannya bersama pria itu, bagaimana tidak Emmanuel selalu memanjakannya dengan barang mewah merek Perancis yang ternama, seperti Dior, Vluiston, dan lainnya.


Emmanuel sangat tampan di mata gadis Asia, Siska tak menyadari jika ibunya Amara sedang mencarinya bahkan ia meminta bantuan Kojiyama dan Gani bahkan Anton untuk mencari putrinya.

__ADS_1


Risma dan Anton


Risma sedang termenung di dalam ruangan karena Anton sedang mengurungnya di dalam ruangan yang terletak di lantai atas Villa ini, Risma ke pojok kamar ia was-was tatkala suaminya masuk dan berteriak marah seperti sebelumnya.


"Apa yang kamu inginkan Anton!!" maki Risma. "Seharusnya aku menuruti perintah Okasan!"


"Aku ingin bersamamu, aku hanya ingin kamu!"


Mereka berdebat satu sama lain saling menyalahkan dengan keadaan yang sedang menimpa keluarga mereka, putri mereka yang hilang dan hanya Risma yang tahu jika putri mereka di bawa oleh Yukita Konawa, bahkan rumah tangga mereka sedang kacau.


"Ini semua salah aku, oke! Kamu puas!" gentak Anton.


"Ya semua salah kamu!! kenapa kamu tidak ada udahnya ngurusin si sundal itu!"


" jelas semuanya jika anak kita meninggal karena ulah dia!! aku gak pernah nuntut apapun itu. aku hanya ingin perceraian!!" maki Risma mengunkit luka lama.


Wanita itu melepaskan cincinnya lalu mengembalikannya ke Anton, dengan tangannya. "Aku tidak berhak memakai ini lagi."


Selayaknya api yang membakar semuanya, hati anton seperti terbakar saat Risma memberikan cincin pernikahannya. "Apa yang kamu lakukan!?" ucap Anton dengan mengerut keningnya.


Pria setengah Italia itu tak menyangka jika Risma mampu mengatakan ini. "Anton aku tahu, diriku hanya sebagai perusak di hidupmu sebelum aku datang aku rasa kamu lebih bahagia."


Anton mematung dan di tangannya tergengam cincin yang di berikan Risma, Yumeko Konawa sudah terlihat dewasa dan bijak ia bisa melihat jika Anton itu adalah tipe pria tak tega.


Saat Risma ingin berlalu tiba-tiba Anton yang mematung menyentuh tangannya, Yumeko konawa yang wajahnya sudah penuh dengan airmata menatap Anton yang matanya berkaca-kaca.


Tanpa di duga Anton menarik tangan Risma menuju lantai atas balkon daerah puncak yang dingin di tambah daerah yang sejuk. Anton berteriak yang membuat Risma diam dan mundur lalu terduduk di sofa balkon tatkala Anton berteriak sampai suaranya mengema di puncak.


"AKU BISA GILA TANPAMU RISMA!!!"


Risma mengusap perutnya yang membuncit guna menenangkan diri karena takut jika Anton akan melakukan suatu yang buruk padanya.


Anton berteriak sepuasnya mengeluarkan isi hatinya selama ini sampai suaranya mengema. "RISMA KEMBALI PADAKU!!" jerit Anton.


"YUMEKO KONAWA TOLONG JANGAN PERGI!!!"

__ADS_1


"RISMA AKU SANGAT MERINDUKANMU!!"


"RISMA AKU HANYA PRIA BODOH DAN GILA YANG HANYA BISA HIDUP BERSAMAMU!!"


Setelah puas berteriak mengeluarkan isi hatinya Anton luruh di lantai dengan kedua kaki menekuk dan duduk menghadap ke daerah ke pegunungan, lalu menangis guna mengurangi rasa sakit dan deritanya.


Risma melihat Anton mementokan kepalanya berkali-kali di ubin dengan posisi luruh di lantai. Wanita berparas Jepang itu mendekati suaminya lalu ikut dudk luruh di lantai.


"Anton berhenti!" cegah Risma.


"Lupakan saja!! biarkan aku mati!!" maki Anton pada istrinya sambil mementokan kepalanya di ubin.


Risma langsung menjadikan telapak tangannya pelindung untuk kening Anton, "cukup Anton!!" cegah Risma sekali lagi.


Risma langsung menarik kepala Anton ke dalam pelukannya, saat itu Anton mulai tenang dan mulai bisa mengendalikan diri.


Tangan Risma membelai kepala Anton dan mulutnya mencoba menenangkan Anton. "Tolong jangan lakukan itu lagi."


"Aku gila!! aku gila karena tak ada kamu Risma," ucap Anton dengan suara parau.


"Selama ini kamu tidak menjengukku apalagi berusaha membawaku kembali padamu kenapa?" JEDA "setidaknya kamu jenguk calon anak kita. Kamu malah menemui wanita sundal itu!" cerca Risma dengan berbagai pertanyaan membuat Anton histeris kembali.


Risma berusaha menenangkan suaminya untuk itu ia berusaha membujuknya masuk ke dalam karena udara puncak sangat dingin.


"Ayo masuk...,"ajak Risma.


"EHMMM, aku udah merasa hangat di peluk gini ama kamu."


Risma hanya mendengus lelah tatkala suaminya bersikap manja padanya, "yaudah masuk dulu nanti di dalam aja ya."


Anton masih tak bergeming terpaksa Risma mengikuti kemauman Anton sambil menfdengus lelah, wanita hamil itu saat terasa pegal ia mengubah posisinya.


Tangannya membelai kepala Anton yang sepertinya sangat nyaman di posisi seperti ini, Risma memeluk Anton di dadanya tangannya membelai kepala Anton.


Anton semakin mempererat pelukannya seolah tak ingin istrinya ini jauh, Risma hanya mengikuti Anton dengan memeluknya berusaha menenangkan suaminya.

__ADS_1


#bersambung


__ADS_2