
Risma mengendong Karina untuk menemui Anton ia ingin pria itu membuktikan keseriusannya, meskipun Yukita Konawa sebelum ia pergi bicara dengan nada tak suka. "Yumeko aku tak pernah ikhlas jika kau kembali dengan bajingan itu!" maki Yukita tanda tak setuju jika putrinya kembali di sakiti.
Sesampainya di taman Anton menunggunya lalu ia mengambil alih Karina putrinya, Risma masih kesal dan sedikit__ilfil pada Anton. Risma enggan mengandeng tangan Anton hanya berjalan di samping suaminya tanpa ekspresi wajahnya muram.
Anton menarik nafas panjang lantaran istrinya masih mengingat tingkahnya dulu yang membuat Risma menganggap Anton tak saling kenal, Karina dari tadi terus melontarkan pertanyaan pada Anton yang membuat pria itu menjawab setiap pertanyaan pada putrinya ini.
"Papa itu apa?" tanya Karina sambil menunjuk sebuah gapura dan patung.
"Itu namanya pura, tempat ibadah orang hindu."
"Kalo yang itu?"
"Itu namanya tari Legong," jelas Anton yang melihat penari yang di setiap sisinya di lihat oleh turis.
Risma dalam hati mulai mengagumi perubahan pria yang berusia 35 tahun itu, mereka seharusnya hidup rukun tapi karena keegoisan dan rasa selalu benar dalam diri masing-masing membuat hidup mereka terpisah. "Risma." Anton membuyarkan lamunan gadis berparas setengah Jepang itu.
"I-iya." Risma terbuyar menatap Anton.
"Kamu mau makan apa? Kita cari makan dulu."
"Terserah kamu, aku ikut aja."
Risma menjawab dengan suara biasa saja seolah ia tak mengenali Anton di sertai senyum terpaksa. Tanpa di duga Anton menggenggam tangan Risma yang membuatnya menoleh ke Anton ia menatap wajah pria setengah Italia itu dengan ragu pasalnya selama dia hidup bersama dengan Anton.
__ADS_1
Pria itu selalu memberikan wajah tak bersahabat dan dari awal mereka mengelilingi taman Risma hanya menundukkan kepalanya tanda masih canggung dan berusaha menganggap Anton tak saling kenal. Anton menarik nafas panjang kemudian ia menurunkan Karina agar gadis kecil itu bisa berjalan sambil melihat indahnya bunga dan berlari.
"Sampai kapan kamu menganggap saya seperti itu?" tanya Anton pada Risma.
"Apa maksud kamu? perasaan dari tadi aku biasa saja." Risma menatap suaminya dengan tak suka.
Anton mengelar tikar yang di khususkan tempat untuk keluarga ia melepas sepatu mengkilapnya begitu juga Risma melepas sendal sepatunya sambil memantau keadaan Karina yang sedang asyiknya bermain. "Aku tahu kau masih berumur 23 tahun perasaan kamu masih labil, tapi tolong jangan egois pikirkan Karina."
Risma langsung menegakan kepala menatap Anton, Risma terdiam.
Anton mengambil tangan istrinya kemudian menggenggamnya ada perasaan aneh di hati Risma tatkala tangannya di genggam oleh Anton, berusaha ia melepaskan tangannya dengan alasan malu di lihat oleh orang. "Kenapa harus malu, kita 'kan suami istri." Anton bicara sambil menatap istrinya.
"Bagaimana jika Fera melihat kita? lalu bagaimana dengan kamu yang menganggapku aib dan rasa malu?" tanya Risma menatap Anton tajam. Pria berparas setengah Eropa itu menghembuskan nafas lelah tanda sangat sulit menarik hati istrinya lagi. Dia paham Risma masih sangat muda dan pikirannya belum dewasa tapi disisi lain dirinya juga bersalah.
"Astaga, Risma bagaimana lagi saya meyakinkan kamu?" Anton nampak frustasi karena di mata Risma dirinya sudah terlihat benar-benar buruk.
Risma menarik nafas dalam berusaha menghilangkan rasa trauma dalam dirinya kemudian tangannya menyentuk lengan Anton dan wajahnya berusaha menatap wajah suaminya yang tampan, "aku minta maaf Anton, kamu pasti paham aku masih trauma...," ucap Risma berusaha terus terang.
"Saya 'kan sudah bilang jika, saya akan berusaha menghilangkan rasa trauma kamu dan____berusaha menjadi suami yang baik dan juga ayah bagi Karina." Anton ingin mencium bibir ranum sang istri tapi Risma melarangnya karena ini tempat umum meskipun banyak bule atau orang asing yang menganggap itu biasa saja.
Tapi dalam darah Risma masih ada darah Asia yang mengalir, Asia identik dengan budaya dan sopan santunnya. "Ini tempat umum," ucap Risma. Anton mengangguk ia paham jika istrinya masih ada darah Asia sedangkan dirinya setengah Eropa.
Anton hanya memeluk bahu Risma kemudian merangkulnya, jujur saja Yumeko Konawa masih ada perasaan untuk Anton semakin ia berusaha jauh dari suaminya semakin pula di dekatkan. Mereka tak pernah saling menyentuh apalagi bermesraan seperti ini hanya selama Risma koma saja itu pun sekedar berpegangan tangan tak lebih.
__ADS_1
"Kembalilah padaku Risma...," mohon Anton tapi Risma hanya menatap ke depan memperhatikan Karina.
*****************************************************************************************************************************
Hanna belakangan ini merasa dekat dengan Axel entahlah apa mungkin ia menyukai orang Spanyol tapi sejak kapan ia mulai mengagumi bule, Dia sedang mengerjakan pekerjaannya tak segan Axel dengan penuh perhatian mengantarkan kopi juga memasakkan makanan khas spanyol dan ada juga makanan khas sunda.
Hanna tersenyum saat Axel mengambilkan nasi padanya, Hanna mendukung Axel saat ingin menjadi manager hotel milik keluarga Herguez di Spanyol dan California, di indonesia Axel merintis usaha di bidang kuliner yang membuat Hanna semakin respect dengan Axel memperkenalkan masakan Indonesia di luar negeri dengan membangun restoran Indonesia.
"Besok mau masak apalagi Baby?" tanya Axel pada Hanna Okamoto.
"Apapun itu." Hanna tersenyum dengan santai.
Sungguh saat ini memang pekerjaannya di kantor banyak tapi dengan adanya Axel ia menjadi tertolong sungguh ia tak menyangka Axel sudah banyak berubah, Hanna menyesal hanya melihat dari satu sisi bukan dari dua sisi seperti Kojiyama yang melihat dari kedua belah pihak tidak hanya satu pihak.
"Ayo bicara saja, agar besok akan aku buatkan?" tawar Axel Hanna hanya tersenyum manis yang membuat Axel puas lantaran wanita setengah Jepang ini sebentar lagi akan takluk.
"Baiklah aku mau Rawon dan_____kepiting asam manis." JEDA "Tapi kali ini kepitingnya sudah ada di kulkas kau tinggal memasak saja." Hanna bicara demikian.
Awalnya Hanna meminta Axel untuk tinggal di rumah apartemennya tapi karena mereka belum menikah AXel menolaknya secara baik-baik, Hanna tak kecewa ada benarnya juga ucapan Axel.
Hanna juga tak ingin Axel terus menggunakan uangnya ia hanya ingin Axel menyimpan uangnya agar ia bisa merintis usaha lalu memikirkan masa depan, meskipun mereka berdua belum jadian atau pacaran tak lebih hanya sekedar teman. Hanna berharap jika Axel yang menyatakan perasaanya tapi gadis berusia 26 tahun itu ingin jika ia saja yang mengutarakan perasaannya karena gengsi jadi ia urungkan.
#BERSAMBUNG
__ADS_1