
Risma sudah sampai di Jakarta kakinya melangkah dan terus melangkah, pikirannya mengingat segala kenangan buruk saat Anton menggenggam tangannya. Risma terus diam dengan wajah pucat ia ketakutan Anton akan mengulang kesalahan yang sama.
"Risma!" panggil Anton yang di dalam mobil melihat istrinya diam sambil menatap ke depan, "Risma!" panggil Anton lagi kali ini Risma berani menatap suaminya dengan tersenyum tipis. "Ada ap---" belum sempat Anton menyelesaikan kalimatnya tapi Risma tersenyum dengan canggung.
"Tak apa___hanya___sedikit gugup." Risma mengalihkan fakta yang sebenarnya ia takut jika Anton mengulang kejadian yang sama, Anton juga tersenyum kemudian tangannya merangkul Risma tapi wanita setengah Jepang itu malah bergetar.
"Besok kita mulai akad nikah, sekarang kau istirahat di rumah."
Di rumah? apa maksud pria berparas Italia ini, apa rumah yang mereka tempati dulu saat Anton memberikannya luka. "Rumah? rumah mana?" tanya Risma sambil mengerutkan keningnya tanda heran.
"Tentu rumah kita," jawab Anton antusias.
"Apa____rumah yang____saat kita____tinggal _____bersama?" tanya Risma.
"Yeah!" ujar Anton antusias.
"Anton sebaiknya aku, menginap di hotel saja!" ucap Risma yang dari nada suaranya bergetar ketakutan.
"Loh kenapa Risma?" tanya Anton dengan heran.
Risma berusaha mencari alasan untuk menyangkalnya tapi apa otaknya berfikir keras. "Kita____belum suami-istri secara agama." Alasan Risma masuk akal tapi Anton heran kenapa Risma seperti ketakutan begini.
"Tapi tenang saja saya tak akan menyentuh kamu. Dan kita tidur terpisah," ujar Anton dengan santainya.
Risma memejamkan matanya ada rasa khawatir dan takut dalam hatinya, apa benar dirinya akan di tempatkan di kamar pembantu lagi? apa benar dia dan Karina akan tidur di kamar pembantu? pikiran masalalu dan kejadian buruk semuanya berterbangan di otaknya tentang Anton bagaimana pria itu memperlakukan dirinya.
Karina bicara akrab dan melontarkan berbagai pertanyaan pada sang ayah dan dengan senang hati Anton menjawabnya dan tak pernah bosan. "Papa kapan kita bisa ke negara asalnya Oma?" tanya Karina pada Anton. "Nanti papa ajak Karin ke Italia mau? kita ke kota Milan." Anton menciumi puncak kepala putrinya.
Karina amat bahagia dan jiwa masa kecilnya keluar dari diri gadis kecil itu, Risma tersenyum tipis.
Risma juga berusaha meyakinkan dirinya bahwa Anton telah berubah tapi hatinya enggan berfikir yang sama tetap meyakini jika Anton memiliki sikap yang sama.
Sesampainya di rumah. Risma keluar mobil ia menarik nafas dalam melihat rumah itu menjadi saksi awal derita pada dirinya, tak lama Anton menyentuh tangan istrinya lalu mengecupnya. Hal itu dilihat oleh Karina putri mereka, sungguh Anton tak punya rasa malu melakukan itu di depan bocah umur 3 tahun.
Risma di ajak masuk tapi langkahnya berat, Risma membenarkan jaketnya. Dia melangkah masuk dengan air mata yang keluar setetes demi setetes, air mata yang keluar untuk menghilangkan sebuah beban agar kakinya bisa melangkah masuk ke rumah yang menjadi masalalu deritanya.
Risma di gandeng oleh Anton di sisinya ada para pelayan yang menyambut mereka dari kediaman keluarga Anjaya. Karina turun dari gendongan ayahnya lalu melihat adik sepupu dan keponakan Anton yang berusia lebih tua dari Karina mengajak bocah itu main.
__ADS_1
"Lihat aku punya temen main sekarang!!" ujar Karina sangat senang.
"Yaudah aku mau ke kamar istirahat dulu....," ujar Risma dengan lirih.
Risma ingin melangkah ke kamar masa lalunya tapi di cegah oleh Anton dengan menggenggam tangannya. "Kamu mau kemana Risma?" tanya Anton dengan heran. "Ke kamarku Anton." Risma dengan polosnya melepaskan diri dari genggaman Anton kerena tak enak jika di lihat orang-orang yang berada di rumah itu, melihat disini ada banyak keluarga Anjaya dan keluarga Montague.
Keluarga Montague adalah keluarga besar dari pihak Clara Gabriella Anjaya, ibunya Anton. "Anton aku capek biarkan aku istirahat di kamarku," pinta Risma yang matanya sudah mulai mengantuk. "Kamarmu bukan disitu, tapi diatas." Anton bicara pada Risma.
"Anton apa kita satu kamar?" tanya Risma pada Anton.
"Iya memang kenapa?"
"Anton kita belum---"
"belum sah jadi suami istri, tapi tenang saja aku tak akan menyentuhmu."
"Anton biarkan aku tidur di kamar itu." Risma mengatakan demikian.
"Itu untuk kamar pembantu khusus karena letaknya dekat dapur." Anton bicara sambil menarik tangan Risma menaiki atas tangga.
Tanpa di duga Anton mengendong tubuh mungil Risma saat sampai di lantai atas membuat Risma sedikit berontak, "diam Risma atau aku akan menyentuhmu malam ini juga!" ucap Anton Risma dengan pasrah mengalungkan kedua tangannya di leher Anton.
"Kita sudah sampai, my lady." Risma terdiam ia mengingat jika kamar ini saat dirinya melihat Anton dan Fera____gadis itu ingin kabur tapi Anton berusaha menariknya masuk ke kamar. Ini adalah cara Anton untuk menghilangkan trauma pada diri Risma.
"Anton aku tidak mau!! biarkan aku ke kamar lamaku!" ucap Risma.
Di kamar Anton Risma melihat foto pernikahan lalu dan dirinya di pajang oleh Anton. "Ini akan menjadi kamar kita." Risma memejamkan mata ia masih takut jika tidur dengan Anton mengingat pria itu____sangat. Di tengah lamunannya Risma terdiam sampai Anton memeluknya dari belakang membuatnya terperajat kaget.
"Anton lepaskan aku," pinta Risma tubuhnya bergetar ketakutan. Anton malah menciumi bahu dan leher gadis itu. "Anton!!" suara itu dari luar kamar dan sangat mengenalnya yaitu suara Clara.
"Iya ma!" jawab Anton dengan hati yang kesal.
"Sepupu Risma datang!" Clara menjawab.
"Oh shittt!!" Anton kesal bukan main sedangkan Risma amat senang.
*
__ADS_1
*
*
*
*
*
Di kamarnya Anton Hisako terus bicara pada Risma membuat Anton duduk di sofa kamar sambil memainkan ponselnya. "Aku senang kau akan menikah dan kembali dengan suamimu." Hisako sangat antusias. "Obasan Amara dan Siska akan kesini, mereka memutuskan menginap di hotel milik keluarga Konawa di Jakarta," jelas Hisako.
Tak lama dari luar kamar datanglah Lisa dan Lisi di belakang mereka juga ada Susi sepupu Anton dari pihak ayah, "Lisa! Lisi!" Risma bicara yang membuat Anton dan Hisako melihat ke ambang pintu. Risma berdiri begitu juga Hisako.
"Kalian sedang apa mari gabung dengan kami biar aku kenalkan pad----" belum sempat Risma menyelesaikan kalimatnya salah satu si kembar yang bernama Lisi berlari kemudian bersujud lalu memeluk kaki Risma yang membuat Hisako dan Anton membulatkan mata.
"Kak Risma aku mengaku salah___hiks___aku juga sudah berdosa__hiks__aku sangat malu atas dosaku."
"Lisi bangun apa yang kamu lakukan." Hisako dan Risma membantunya berdiri. kedua wanita berparas Jepang itu amat heran dengan adiknya Anton.
"Aku sudah memaafkanmu, itu masa lalu. Ayo kita lupakan jangan sampai ada korban lagi yang di rugikan apalagi nyawa." Risma saat menyebut nyawa menatap Anton dan Hisako seolah menyindir keduanya lewat tatapan. "Kak Risma aku sangat malu pada diriku, benar kata sahabatku___hiks__karma itu selalu nyata." Lisi terus terisak menangis.
"Aku sudah maafkan lupakan dendam masalalu, semua dendam dan api kebencian sudah padam."
Lisi terus terisak kemudian memeluk kakak iparnya yang dulu ia anggap sangat jijik dan kumal. Tetapi gadis itu sadar jika semua perbuatan akan mendapatkan balasannya. Lisi terisak terus menerus membuat Anton dan Lisa menjadi tak tega.
Risma yang sudah punya pengalaman ia memeluk adik iparnya hal itu membuat semua yang ada di kamar itu menangis haru biru. "Tunggu dulu." Jeda "Lisi___perutmu___" Risma melepaskan pelukannya menatap Lisi. "Aku__hamil__tanpa suami." ucapan Lisi pada kakak iparnya.
Risma dan Hisako membulatkan mulut dan menutupnya dengan tangan kecuali keluarga Anjaya. "Yaudah duduk dulu, jangan menangis." Risma menyuruh Lisi duduk di sofa lalu mengusap air mata adik iparnya meskipun umur mereka sama tapi Risma berusaha menjadi contoh dan menghargai adik iparnya,
#Bersambung
*
*
*
__ADS_1