
Pagi ini Siska buru-buru menemui Dosen untuk sidang skripsi hatinya tak tenang sampai tak memperhatikan jalan sampai ia hampir tetabrak oleh mobil dan tugas skripsinya jatuh gadis itu kesal sambil memunguti skripsinya yang berjatuhan. "Woy liat-liat kalo jalan!" maki seseorang yang keluar dari dalam mobil. "Eh lo yang meleng!" maki Siska yang tak mau kalah.
"Lo itu jalan kagak liat-liat!" maki orang itu.
"Woy songong lu ya!! mentang-mentang tampang bule!!"
"Dari pada lo!!" Gani berkacak pinggang dengan kedua tangan di pingganganya. "Idung pesek, pipi tembam, jidat jenong!!" ejek Gani. "What!! Lo ngehina gua!!" maki Siska tak terima. "Iya ngapa gak suka." Gani menjulurkan lidahnya tanda mengejek Siska.
"Eh meskipun idung gua pesek, tapi muka gua itu LO-KAL, alias asli. Native." Sindir Siska. "Daripada lo tampang doang bule tapi bajunya begini, tampang bule kantong bolong!!" sindir Siska sambil mendelik tak suka. "Wah ***** juga lu ya bocah!!" tunjuk Gani tak suka.
"Ngapa!! Uek__Uek." Seolah Siska menantang sambil menjulurkan lidahnya. "Eh pergi gak lu atau gua kepret lu," ancam Gani pada gadis yang seumuran adik kembarnya. "Eh dasar om gak usah lu ancem gua!! UEK!!" Siska langsung pergi sebelum pergi Siska mengatai Gani.
"Bule Strees!!" Siska berlari untuk meninggalkan tempat kejadian perkara sambil membawa tugas skripsinya. "Eh dasar Bocil, gua sumpahin lu dapet pacar Terong busuk!!" Gani mengucapkan sumpah serapah pada gadis lokal itu.
Gani melajukan mobilnya untuk menganti sang Kakak yang sedang di rumah sakit bisnis keluarga Anjaya yang di Bali sedang di pegang oleh Anton, tapi karena keadaan Anton sedang koma jadi Gani yang menjadi penganti sementara waktu.
"Mimpi apa gua semalem ketemu bule jadi-jadian!" gerutu Siska sambil berjalan menemui dosenya.
Gani di dalam mobil juga mengerutu sambil mengeluarkan sumpah serapah. "Dasar tuh bocah, awas aja sampai gua telat meeting! ketemu lagi gua giling!!" gerutu Gani sambil memukul setirnya. Tentu saja keduanya telat karena mereka berdebat terlalu lama lantaran mereka merasa benar satu sama lain. Gani memutuskan pulang dari meeting ingin ke rumah sakit menemui kakaknya juga melihat keponakannya.
**************************************************************************************************************************************
Siska telat ia di marahi dosen dan tentu saja ia mendapatkan dopress dari dosen killernya, yaitu tugas tentang budaya Indonesia salah satunya wayang dan tarian. "Emang dasar tuh, Bule pembawa sial!! gua 'kan jadi kena hukuman lagi!! mana dosen killer lagi!!" gerutu Siska pada temannya.
"Aduh udah deh kalo mau tuh bule buat gua aja Sis! Gua rela kok perawan gua pecah ama dia!!"
"Eh jangan gila lu!! kerasukan apa lu Naj!" ucap Siska melihat tingkah gila temannya.
"Eh temen lagi menderita juga lu!"
"Sini Siska sayang." Bujuk temannya.
"Kenapa sih, pagi-pagi udah sensi nanti darah tinggi lu."
"Bukan darah tinggi lagi gua, udah komplikasi mental tahu gak!!" gerutu Siska.
"Kenapa sih cerita diong ama gua...," ucap Hani.
__ADS_1
"Gua pagi-pagi udah ketemu bule tampang kuda tahu gak!! ngeselin banget!! gara-gara dia gua telat!!"
"Bule? kenapa emangnya?" tanya Hani.
Mereka tinggal di Bali sudah biasa mengetahui keberadaan bule itu pun termasuk hal yang lumrah, "Haduh kenapa sih, gua harus ketemu tuh bule jadi-jadian kena bala tahu gak gua." Siska membenamkan wajahnya di tangan yang dua bertumpuk di atas meja.
"Yaudah sabar nanti kita bantuin oke, please dong jangan cemberut," hibur Hani.
Tak lama ponsel milik Siska berdering membuat semuanya terdiam, gadis Indonesia asli itu mengankat ponselnya ternyata ibunya Amara menelpon. "Eh diem dulu nyokap gua nelpon!" ucap Siska.
"Hallo, Mah...," ujar Siska dengan lembut.
"...."
"Yah mah tapi aku lagi ada tugas nanti aja kalo sempet abis dari kampus."
"....."
"Iya mah, nanti sebisa mungkin Siska ke rumah sakit jenguk suaminya Kak Risma."
"....."
Siska memasukan kembali ke dalam tas ranselnya yang kecil di belakang, "kenapa Sis?"
"Suami sepupu gua sakit, biasa ada insiden."
"Tunggu-tunggu maksudnya yang berita penembakan warga keturunan Italia ama warga keturunan Jepang itu?" tanya Hani.
"Entahlah."
Siska orangnya sangat Introvert jadi gadis itu tak memiliki banyak teman dan tak terlalu populer jika ada kabar tentang dirinya maka semuanya akan menanyainya selayaknya selebriti. "Udah yuk kerjain sekarang biar besok langsung gua kirim ke emailnya tuh Dosen."
"Oke, Come in." Para geng itu mengerjakan tugas bersama-sama di area favorit mereka sebuah Cafe kecil dengan jajanan murah.
************************************************************************************************************************************
Gani menggerutu kesal karena ia terlambat gara-gara gadis itu. "Awas saja aku bertemu bocah itu akan aku goreng nanti!" ucap Gani. Pria setengah Italia itu ingin menemui Kakaknya yang masih berada di rumah sakit dan belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Mama! Kak Risma!" panggil Gani yang berjalan menuju kedua wanita itu.
"Kak Risma aku minta maaf atas kesalahanku dulu." Meskipun umur Risma dan Gani berbeda beberapa tahun tapi Gani amat menghormati Kakak iparnya itu.
"Tak apa Gani! lupakan masalalu aku disini yang harusnya minta maaf." Risma ingin menangis lagi lantaran penyesalan karena telah meragukan Anton.
"Loh Dimana keponakan kecilku? aku ingin melihatnya sudah lama sekali 3 tahun lalu."
"Dia sedang jajan Ice Cream dengan Bibiku, Tante Amara."
Gani tersenyum ia ingin masuk ke ruangan ICCU untuk melihat kakaknya, sebelum masuk ia harus mengenakan pakaian khusus dan masker. "Risma aku tahu disini kamu menyesal____beginilah rasanya menjadi Anton dulu saat kau tinggalkan." Risma memeluk ibu mertuanya, Clara tersenyum bahagia ia bisa kembali memeluk menantunya.
"Mama! Oma!" ucap seorang anak kecilĀ sambil membawa ice cream.
"Karina kalo makan duduk gak boleh jalan." Risma memberitahu putrinya.
"Sini duduk sama Oma!" Karina menuruti perintah neneknya gadis itu keliatan dekat dengan Ibunya Anton sedangkan saat bersama Yukita anak itu selalu merasa ketakutan karena waktu itu Yukita pernah marah dan memukul anak buah yakuza tepat di hadapan Karina yang membuat gadis kecil itu ketakutan.
"Karin mau ikut Oma ke Jakarta!" ajak Karina.
"Jakarta?"
"Iya sayang tinggal sama Oma dan Opa, juga ada mama dan papa." Clara bicara demikian agar menantu dan anaknya kembali bersama sudah lama sekali ia mengharapkan hal ini.
Risma juga mengaharapkan itu tapi ia takut jika ibunya mencelakai Anton untuk yang kedua kali dirinya amat takut jika kehilangan Anton. "Mama nanti biar aku bicara dengan Anton dulu jika sudah sadar dan pulih." Risma bermaksud untuk menikah secara ulang dengan syariat islam karena jika suami tak memberikan nafkah selama enam bulan secara tak langsung sudah termasuk talak.
"Iya mama mengerti." Clara tersenyum dan tahu kemana arah perkataan menantunya, karena ucapannya tak pantas bila di dengar oleh Karina yang masih terlalu kecil.
#Bersambung
_
_
_
_
__ADS_1