
Mereka duduk bersama Bibi dan keponakan saling melepas rindu, "Risma bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya Amara Bibinya. "Aku baik tante," Jeda "cuman soal pernikahan aku__ buruk ceritanya panjang." Nafas Risma tercekat hatinya mengingat masalalu bagaimana perlakuan Anton saat itu. "Apa pernikahanmu ada masalah, Nak?" tanya Amara yang langsung dengan sigap merangkul keponakannya. "Baiklah begini saja, lebih baik kau aku kenalkan dengan anak tante namanya Siska."
Risma mengeryitkan dahinya kemudian bertanya-tanya, "Tante punya anak?" tanya Risma sambil memiringkan kepalanya. "Iya, dia kuliah di Universitas pendidikan Nasional di sini. Suami Tante meninggal karena kanker otak jadi Tante yang mengurusi usaha suami tante." Risma amat tak menyangka selama ini Bibinya pergi lantaran ia merantau tanpa kabar.
"Yaudah, kalo mau cerita kita ke rumah tante aja." Risma mengangguk kemudian ia membawa Karina tapi Amara malah mengendong Karina sambil menciumnya dengan gemas. Di dalam mobil Risma terdiam tapi Amara membuka pembicaraan, "Ris anak kamu kok mukanya ada bulenya?" tanya Amara. "Iya Tante," Risma bicara dengan canggung lantaran ia tak siap bercerita pedihnya masa lalu dimana rumah tangganya terbentuk karena keterpaksaan.
Sesampainya di rumah Amara, Risma amat canggung untuk melangkah rumahnya amat mengesakan ada patung-patung bali juga gazebo berbentuk gapura yang membuatnya amat indah, meskipun Amara seorang muslim tapi ia tetap menghormati para pelayannya yang orang Bali asli bahkan membiarkan mereka beribadah sesuai kepercayaan mereka. "Ini rumah tante," ucap Amara dengan senyum ia mengendong Karina yang rupanya sangat betah di pelukan neneknya.
Amara dan Risma berbicang sedangkan Karina sedang asyiknya memaikan alat musik khas Bali yang memang di pajang di rumah itu, "Risma aku minta maaf soal menanyakan kamu yang tentang rumah tangga kamu. Saya memang tidak tahu kamu sudah menikah." Amara menampilkan raut wajah kecewa dan sedih. Risma menyentuh tangan bibinya kemudian mulai bercerita tentang masalalunya. Amara awalnya nampak marah tatkala suaminya Risma brengsek tapi setelah kejadian di rumah sakit Amara langsung memberikan saran kepada keponakannya ini.
"Risma__sebaiknya kamu berikan kesempatan pada suami kamu, tolong jangan pikirkan ego Nak. Pikirkan tentang Karina yang membutuhkan sosok ayah di sisinya semua orang pernah berbuat khilaf." Amara memberikan nasihat pada Risma yang sebetulnya dari dulu Amara memang tak suka pada Yukita Konawa, hubungan kedua wanita itu penuh dengan kekacauan dari dulu karena Yukita yang selalu merasa benar dan tak mau mendengarkan saran orang lain.
"Kembali sama Anton?" Risma terdiam ia tahu bahkan hatinya terasa teriris tatkala ia memaki Anton. "Tapi bagaimana dengan Kirana putriku yang terbunuh?" Risma masih dendam karena selama ini ia selalu di panas-panasi oleh Yukita Konawa.
"Nak, Kirana sudah tenang tolong jangan diungkit lagi iklaskan putrimu. Maafkan suamimu, buang rasa benci di hatimu pikirkan jangan sampai Karina bernasib sama sepertimu hanya di besarkan oleh orangtua tunggal." Tanpa sadar Amara meneteskan airmata yang tulus mengingat bagaiman mendiang kakaknya menghidupi Risma seorang diri.
"Aku tak bisa Okaasan melarangku kembali dengan Anton," ucapnya. Amara mengelengkan kepalanya, "jangan pikirkan ibumu, pikirkan Karina dan kebahagiaanmu." Amara menyentuh tangan keponakannya yang sudah lama tak bertemu. Mereka saling menatap sampai ada seorang gadis masuk yang baru selesai kuliah.
"Mama, aku pulang."
"Asallamualaikum kek, ini malah teriak-teriak kaya di hutan."
"Iya maaf-maaf."
__ADS_1
"Mah ini siapa?" tanya Siska yang melihat wanita berparas Jepang.
"Sepupu kamu," ucap Amara pada putri satu-satunya.
"Hah! emang di keluarga kita ada keturunan Jepang?" tanya Siska dengan heran dan bingung.
"Gak dulu paman kamu nikah ama orang Jepang," jelas Amara. Gadis berparas imut itu hanya ber-oh saja tak lama ia melihat anak yang sedang bermain alat musik. "Mah ini anak---" Jeda "ih imut banget warna matanya hijau." Risma hanya tersenyum dan mengelengkan kepala tatkala sepupunya menciumi putrinya dengan gemas.
Karina menolak tanda tak mau, "Siska jangan!" perintah Amara yang mengambil alih Karina. "Yaudah kamu istirahat."
"Baiklah Tante aku harus pulang takut, Okaasan mencariku."
"Iya hati-hati, Nak."
Di apartement Risma tak bisa menghidar dari cercaan pertanya Nyonya Konawa. "Darimana kamu?" tanyanya tapi Risma di ajarkan harus jujur oleh sang ibu akhirnya tanpa basa-basi, Risma menceritakan semuanya termasuk bertemu Amara. Sontak raut wajah Yukita berubah lalu wanita Jepang itu menyuruh putrinya masuk kamar.
********************************************
*
*
*
__ADS_1
*
*
*
Pagi ini seorang gadis termenung sendirian di atas balkon rumah ia amat tak tahu harus apa lantaran hidupnya menjadi lara karena sebuah karma berbalik padanya, "Lisi." Saudara kembarnya berjalan menghampiri. "Sudah jangan lu pikirin terus Papa, Kak Anton, ama Kak Gani 'kan lagi cari tahu siapa yang pe*kosa ama lu." Seolah saudara kembarnya yang bernama Lisa mengerti tentang perasaan kakak kembarnya ini.
"Lisa gua mau ke makam Kirana." Permintaan Lisi pada saudara kembarnya. "Iya tapi kita izin dulu sama Mama." Lisi hanya mengangguk setuju kemudian dua saudara kemabrnya itu pergi menemui ibunya yang sedang membaca majalah.
"Iya tapi hati-hati ya." Clara menatap kedua putrinya kemudian memberi izin untuk ke makam cucunya.
Lisa dan Lisi pergi ke makam keponakannya dengan mobil hitam tak lama mobil itu sampai terparikir di depan gerbang makam, Lisa dan Lisi turun menyusuri jalan setapak tak hentinya air mata Lisi keluar tatkala melangkah di jalan setapak itu.
Telihat nisan mungil yang berdiri manis dengan tulisan nama keponakan mereka, tak lupa selalu ada bunga di atas makam yang sepertinya Anton sangat rajin mengunjungi makam putrinya itu. Lisi berjongkok di samping makam keponakannya yang selalu ia hina saat di dalam rahim kakak iparnya, tangannya mengusap nisan itu kemudian tangisnya pecah tatkala ia merasakan pedihnya sebuah karma yang di berikan tuhan.
"### ### Kirana....hiks....maafkan Tante...hiks...tante janji...hiks...setelah bertemu ibu kamu...hiks...tante akan langsung minta maaf...hiks...kalo perlu besujud di kaki kak Risma." Suara dan tangis bercampur menjadi satu amat terdengar pilu karena ia membenarkan perkataan sahabatnya yang waktu menghina Kakak iparnya di depan minimarket Karma itu ada dan rasanya sangat pedih.
#BersMBUNG
__ADS_1