Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 79


__ADS_3

Pagi ini Risma kembali ke rumah suaminya, Anton belum berani bicara soal putrinya yang hilang kepada sang istri takut mempengaruhi kandungannya.


Risma mengamit lengan suaminya, di dalam rumah Risma di bopong oleh Anton lalu kedua tangannya mengalung di leher Anton. "Anton turunkan aku," ucap Risma.


"Risma aku mau jatah...," pinta Anton dengan manja pada istrinya.


"Anton turunkan aku dulu, aku mau menelpon Mama." Mendengar ucapan istrinya membuat Anton terdiam lalu menurunkan Risma dari gendongan nya.


"Kenapa kamu diam? Anton aku akan menelpon Mama sekarang aku menghawatirkan putri kita," ujar Risma pada suaminya.


Tapi Anton menarik tangan Istrinya saat Risma ingin berjalan ke arah telepon rumah, karena ponselnya mati saat di kamar mandi tercebur ke dalam air.


"Kenapa kamu melarangku?" tanya Risma sambil mengernyitkan keningnya, "Anton apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Risma sekali lagi.


"Anton bagaimana keadaan putri kita?!" maki Risma yang membuat Anton bimbang antara bercerita dengan istrinya atau tidak jika ia bercerita maka takut akan mempengaruhi kandungannya.


"Risma kamu mandi dulu nanti---" ucapan Anton terputus tatkala Risma sang istri menyelaknya.


"Anton aku sudah lelah tolong jujur sama aku." Jeda "kamu lupa di pernikahan kita berjanji untuk selalu terbuka satu sama lain!! ada apa Anton apa terjadi sesuatu sama Mama," ucap Risma menatap mata Anton.


Tapi suaminya tak berani menatap matanya entah karena tak berani mengungkapkan yang sebenarnya atau ada alasan lainnya.


"Anton aku harap kamu tidak ingkar dengan janji pernikahan kita," kata Risma menatap suaminya menggenggam tangan suaminya lalu menarik-narik nya.


"Risma duduk dulu aku harap jika kamu yang mendengar yang sesungguhnya kamu tidak terjadi sesuatu padamu," kata Anton sambil membelai dan memainkan rambut Risma yang pendek.


Anton berusaha menenangkan istrinya Risma duduk mendengarkan perintah suaminya, dari mata Anton terlihat kekhawatiran yang tinggi tatkala ragu akan menceritakan pada istrinya atau tidak.


"Aku yakin__Aku kuat Anton bersama calon anak kita," tekan Risma menggenggam erat tangan suaminya meyakinkan Anton jika tak akan terjadi sesuatu jika ia mendengar kebenaran.


"Risma terjadi pengeboman di kota kelahiran Mama yaitu Milan, para Teror*is mengebom bandara, kantor pemerintah dan sarana publik." Anton menjelaskan pada istrinya, reaksi Risma membulatkan mata lalu menutup mulutnya.


"Lalu putri kita...," lanjut Risma.


"Anton kenapa kamu diam!! ayo katakan bagaimana keadaan putri kita dan mama," ucap Risma menggenggam erat tangan suaminya.


"Putri kita___dia di culik oleh para peneror bom, sedangkan keadaan mama dia sedang kritis di rumah sakit."

__ADS_1


Seolah tubuh Risma lemas dan kaku, seakan tulang-tulang yang ada di tubuhnya lepas satu-persatu mendengar kabar buruk ini.


Kepalanya sakit seperti terhantam batu, hatinya beku sekarang. "Sayang tenang___hey___sayang." Anton menegakan istrinya yang tengah mengandung matanya berkaca-kaca.


"Anton aku mau ke Italia sekarang!!" tegas Risma menatap suaminya dengan berkaca-kaca.


"Risma kita tak bisa ke Italia sekarang karena pariwisata di hentikan sementara waktu," ucap Anton pada istrinya.


"Bagaimana mungkin bisa putri kita berada di Italia dan entah keberadaan nya dimana___hiks___tolong kita harus ke Italia sekarang___hiks___Karina___putri kita."


Risma terisak pilu tatkala mendengar kabar itu ia amat mengkhawatirkan putrinya yang entah berada dimana keberadaan nya, "sayang tenang." Anton memeluk istrinya ke dalam pelukannya guna memenangkan wanita hamil itu.


"Aku mengkhawatirkan Karina, Anton. Putri kita entah berada dimana aku amat menyanyanginya," ucap Risma sambil menangis di pelukan Anton.


"Tenang aku sudah mencari dektektif dan hack handal untuk mencari Karina, aku juga mencintaimu dan putri kita."


Anton menaruh dagunya di puncak kepala istrinya untuk menenangkan sang istri yang tengah mengandung anaknya, sungguh Anton tak ingin kehilangan keluarga kecilnya.


"Tenang sekarang kamu ke kamar istirahat nanti makan di antar ke kamar," ucap Anton berusaha membuat Risma betah di rumah bersamanya.


Anton merasa tak keberatan saat Risma tidur di pangkuannya lantaran hatinya sudah amat mencintai sang istri yang dulu pernah ia sakiti.


Anton menarik nafas panjang lantaran ia harus menanggung resiko saat menikahi wanita yang berumur masih labil yaitu 24 tahun ia harus bisa menyeimbangi wanita ini karena sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak dari rahim Risma dan umurnya akan menginjak 36 tahun bulan ini.


Risma memang kelihatan imut dan menggemaskan membuat Anton betah saat bersama Risma, jujur saat awal bertemu istrinya di campus hatinya sudah bergetar hebat.


Sungguh terlambat saat ia tak menyadari jika sudah mencinta wanita setengah Jepang itu, matanya Risma sedikit sipit mirip seperti ibunya yaitu, Yukita Konawa.


Yukita Konawa tak ada sudah nya membuat Risma dan Anton bercerai padahal saat ini Anton menyandang status sebagai menantunya dan ayah dari cucunya.


Yukita Konawa memiliki prinsip tak boleh di kasih kesempatan bagi seorang yang berkhianat dan berbuat kesalahan agar orang itu belajar menjadi lebih baik lagi.


Anton mencium Istrinya lalu membenarkan kepala istrinya agar tertidur di bantal, hari ini ia ada pertemuan dengan seseorang yaitu Bibinya Risma.


Siapa lagi jika bukan Amara, wanita itu mendengar kabar semuanya dari mulut Gani dan Kojiyama, perasaan wanita itu sangat kita dan menebak-nebak apa benar Yukita Konawa bekerja sama dengan para Tero*is untuk menculik Karina.


Di ruang tamu Amara datang dengan blazer dan sepatu hak tinggi. "Anton...," ucap Amara lalu Anton mencium tangan Amara.

__ADS_1


"Tante silahkan duduk dulu, kita bicara soal Karina."


Amara duduk lalu bicara. "Anton aku sangat tak percaya hal ini terjadi pada kalian," ucap Amara sangat perihatin dengan keadaan menantunya.


"Tante punya foto dari Italia, karena Tante ada kenalan dari agen rahasia ia memberikan foto terakhir lewat cctv jalanan di Italia."


Amara mengeluarkan sebuah foto-foto dari Italia yang di kirim kemarin oleh teman lamanya dia adalah orang Amerika kulit hitam yang bekerja sebagai agen rahasia.


Amara bertemu dengannya saat ada pertemuan bisnis di Hawai enam tahun lalu dan hubungannya tetap harmonis sampai sekarang.


"Ini letak ibu kamu sebelum gedung itu di bom," ucap Amara.


"Tante tahu informasi ini dari mana?" tanya Anton melihat beberapa lembar foto yang diambil.


"Tante ada kenalan orang Amerika yang bekerja di agen rahasia dan mata-mata, dia orang kulit hitam."


Anton mengangguk lalu ia paham, "baiklah sisanya rencana, kamu yang atur soalnya Tante gak bisa masuk ke dalam jaringan tero*is karena Tante gak ada kenalan temen yang bisa hacker."


"Gak apa Tante, Anton terima kasih karena Tante selalu mau bantu Anton sama Risma."


Anton bicara soal berhutang budi pada wanita yang sudah menyatukannya dengan sang istri dan masih banyak lagi bantuan yang di berikan Amara.


"Hey gak perlu terima kasih kamu dan Risma itu keponakan Tante loh," ucap Amara pada Anton.


"Tante makan malam disini aja gimana?" tawar pria itu pada Amara.


" Iya boleh tapi Tante ingin melihat Risma dimana keponakan Tante itu?"


"Di kamar Tante lagi istirahat."


"Sekali lagi selamat Anton kamu akan memili anak lagi, Tante percaya sama kamu buat jagain keponakan Tante." Jeda " Yah, meskipun kadang usia Risma masih labil dan kadang menyusahkan kamu."


"Gak apa Tante, Anton paham jika gak mudah buat rujuk bersama Risma yang dulu sudah Anton buat trauma dan buat derita."


Amara tersenyum lalu menepuk dan mengusap-usap pundak Anton yang sudah jadi menantunya.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2