Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 74


__ADS_3

Pemandangan kota Milan Clara menyewa hotel milik keluarga Montegue di Italia, Clara bersama cucunya Karina satu kamar. Lisa di kamar berbeda selain untuk liburan Lisa ingin membuka bisnis di negara ibunya. Clara sedang memandikan Karina.


"Karina mau ke salon dulu," tawar Clara pada cucunya.


Karina hanya mengangguk tanda ingin."Yaudah Karina pake mantelnya biar gak flu," ujar Clara memakaikan mantel pada cucunya lalu mengandengnya keluar kamar. Clara menempelkan kartu kamar agar bisa membuka pintu secara otomatis, sekarang tak menggunakan kunci melainkan kartu.


Clara mengandeng tangan mungil Karina menuju salon, cucu dan nenek itu menghabiskan waktu bersama di kota Italia itu. Clara berencana mengajak cucunya ke menara Pisa besok sekarang mana sempat , di sisi lain mereka tak sadar jika sedang di pantau oleh seseorang.


"Oma kapan kita ke menara Pisa?" tanya Karina saat rambutnya sedang di tata.


"Besok, abis ini kita makan dulu." Clara bicara pada cucunya.


***********************************


Hujun turun di sertai petir seolah mewakili perasaan seorang wanita yang berperan sebagai istri sekaligus ibu yang menjadi korban kebiadaban, suami dan wanita sundalnya itu. Risma menuruti permintaan Anton agar berdamai dengan pembunuh anaknya kali ini Risma sedang menyuapi Fera dengan wajah masam.


"Yumeko aku minta maaf...," ucap Fera yang terbaring lemah di kasur.


"Sudahlah, sudah kejadian mau diapakan lagi yang berlalu biarlah berlalu." Risma berucap dengan ketus sambil menyuapi Fera yang tubuhnya kurus dan wajahnya pucat.


"Aku bersalah Yumeko karena telah membuat duka di hatimu, dengan---" ucapan Fera terpotong tatkala Risma menyelaknya.


"Tak usah di ungkit Fera!!" ucap Risma dengan kasar mengetuk mangkuk bubur dengan sendok yang membuat Fera menjadi mingkem.


"Ma-ma-maafkan aku Yumeko," ucap Fera tergagap.


"Sekarang kamu habiskan buburmu lalu setelah sembuh pergi dari sini jangan ganggu lagi keluargaku!" ucap tegas Risma.


"Ba-baik."


Meskipun Fera sudah berbuat jahat di masa lalu dengan Risma tapi wanita berdarah setengah Jepang itu berusaha memperlakukan wanita itu dengan baik. Fera di dalam hati perlakuan Risma padanya memang pantas di terima karena masa lalu.


Fera juga bisa mengerti perasaan seorang ibu saat anaknya di bunuh, Risma menatap Fera dengan rasa amarah yang mendalam karena tangannya menyuapi dan merawat pembunuh bayinya. Setelah habis Risma membawa nampan itu keluar kamar.

__ADS_1


Risma membawa nampan itu dengan gelas dan air putih, "ya ampun Nyonya?" ucap Bi Iddah pada majikan mudanya.


"Kenapa gak minta tolong saya atau Munnah saja!! Nyonya 'kan lagi hamil." ucap Bi Iddah sambil membawa kemoceng di tangannya.


"Ini saya lakukan demi suami saya," ucap Risma menurunkan kelopak matanya dengan berkaca-kaca.


"Yaudah ini biar saja bawa Nyonya ke kamar saja! minum vitamin terus istirahat takut terjadi sesuatu sama jabang bayinya." Bi Iddah mengambil alih mangkuk dari tangan Risma kemudian wanita dengan mata berkaca-kaca itu naik ke lantai atas untuk ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Risma melempar barang-barang karena kesal bukan main, dirinya begitu bodoh meau kembali dengan Anton. "Aku benci ini!!! aku bodoh sekali!!" Risma berteriak sambil menarik rambutnya ia luruh di lantai tempat tidur.


Kepalanya mendongkak ke langit-langit kamar ia mengingat saat berdebat dengan Anton sampai Karina di bawa oleh mertuanya agar memperbaiki hubungan, memang wajar masalah dalam rumah tangga bahkan masalah kecil saja bisa menjadi besar.


Hatinya merasa kesepian saat tak ada Karina di sampingnya  biasanya Karina menjadi obat saat Anton memberinya luka. Kepalanya terasa berat, wanita itu berdiri untuk mengambil obat dan vitamin. Tapi tubuhnya terasa lemas perutnya rasanya kram, tanpa sadar tubuhnya tumbang.


Anton masuk kamar setelah mendengar apa yang terjadi dari Bi Iddah dengan marah ia masuk kamar tapi amarah seketika padam tatkala melihat istrinya tak berdaya, "Risma!!!!!!!!!" jerit Anton.


Pria itu membopong tubuh istrinya ke atas kasur, lalu mencari minyak angin untuk istrinya. Anton memejamkan matanya dirinya amat mencintai sang istri tapi Fera adalah masa lalunya meskipun Fera sudah membunuh anaknya tapi gadis itu tetap menjadi temannya karena ibunya Fera pernah berjasa pada keluarga Anjaya.


Risma terbangun ia menoleh ke samping suaminya berada tepat disisinya meskipun kepalanya berdenyut nyeri, Anton berusaha membantu istrinya tetapi Risma malah menepis kasar tangan Anton. "Risma gimana keadaan kamu?" JEDA "bagaimana mungkin bisa kamu pingsan?" tanya Anton tapi Risma malah menatap Anton dengan marah di sertai mata yang berkaca-kaca.


"Risma apa maksudnya?!" gentak Anton pada istrinya yang dalam keadaan lemah.


"Aku tak mau bersamamu lagi, hidupku seperti ini mengingatkanku akan masa lalu Anton. Saat wanita sundal itu membunuh anak kita," ujar Risma yang berusaha berdiri tapi tubuhnya oleng.


"Saya lelah Risma dengan sikap kamu yang kekanakan!!" maki Anton dengan menunjuk istrinya.


"Aku juga lelah dengan sikap kamu yang tukang selingkuh, dan pembela pembunuh!!" Risma juga tak kalah berteriak.


Mereka berdebat masing-masing merasa diri mereka paling tersakiti.


"Saya juga menderita Risma!!!! apa kamu pikir aku tak tersakiti di saat seorang ayah kehilangan putrinya!!!"


"Kamu kehilangan anak kamu karena ulah kamu sendiri siapa suruh kamu main api!! yang akhirnya api itu membakar semuanya, aku dan kedua anakku!!!"

__ADS_1


"Saya mengaku salah dan---------" ucapan Anton di potong Risma.


"Dan apa!! kamu meilih kembali dengan wanita binal itu!!!!!!!" maki Risma sampai Anton mengusap kasar rambutnya.


"Udah cukup!! mulai malam ini kita tidur pisah ranjang!!!!" kata Risma lalu pergi keluar kamar menuju kamar Karina.


"Risma kamu mau kemana?!" tanya Anton dengan menaik-turunkan dadanya. "Risma kita belum selesai bicara!!!" Anton mengikuti istrinya.


Suara berdebatan mereka bisa di dengar oleh semua pelayan dan juga Fera. Risma sampai di kamar Karina. Tangan Risma berhasil meraih gagang pintu kamar tapi Anton mencengkram kuat lengannya, Risma menatap tajam suaminya yang berhasil membalikan tubuhnya dengan kasar.


"Kenapa kamu seperti ini!!!" tekan Anton.


Tapi Risma dengan kasar berusaha memberontak tapi cengkraman Anton lebih kuat membuat gadis itu meluruhkan air matanya. "Kita bicarakan ini secara baik-baik!" ucap Anton.


"Bicarakan baik-baik ya! kamu pikir kematian putri kita bisa di bicarakan baik-baik!!" maki Risma pada Anton.


"Aku seharus mendengarkan okasan jika kamu tak pantas untuk jadi suamiku, okasan benar."


PLAK


Anton menampar istrinya sampai terjatuh ke lantai. Risma memegang pipinya yang memerah saat di tampar lalu hidungnya mengeluarkan darah. "Kamu gak pernah berfikir atau menggunakan hati nurani bagaimana sakitnya saat aku menyesal Risma, aku selain seorang ayah aku juga seorang suami!!"


Anton dengan marah menjambak rambut Risma yang membuat air mata istrinya semakin deras keluar, hidungnya yang mengeluarkan darah tak di pedulikan oleh Anton. "Bunuh aku Anton," ucap Risma. Satu kalimat itu membuat Anton tersadar akan perbuatannya yang termasuk KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga).


"Astagfirullah, Risma!!" ucap Anton sadar lalu memeluk erat tubuh istrinya yang lemah.


"Akh!!!" tiba-tiba Risma merintih kesakitan tatkala prutnya tersa kram dan amat sakit.


"Risma!! kamu kenapa?!!" ucap Anton.


"Pe-perut-ku sak-sakit. Akh!!" teriakan Risma semakin keras sampai Anton mebopong tubuhnya lalu membawanya ke rumah sakit.


"Bertahan sayang, kita akan ke rumah sakit!!" ujar Anton.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2