Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 53


__ADS_3

Gani menyetir mobilnya kemudian memarkirkan mobilnya di depan gedung yang terdapat mobil-mobil. "Iya gua ke sana sekarang juga," ucap Gani sambil menaruh benda pipih canggih itu di daun telingannya. Pintu mobil tertutup di saat itu Karina segera keluar.


Karina keluar lewat jok atau tempat duduk belakang lalu membuka pintu mobil kemudian menutupnya kembali. Bocah itu berjalan sambil membawa bonekanya tanpa alas kaki yang di kenakan. Diam-diam Karina mengikuti pamannya menaiki tangga lalu disitu Karina segera bersembunyi.


"Loh kok ada Papa?" batin Karina. "Hah Mama, kok di gituin ama Obachan?" ucap bocah itu melihat pemandangan tak lazim. Kasihan Karina tak seharusnya bocah seumurannya mengalami masa-masa seperti ini.


*


*


*


*


*


*


*


*


Risma terkejut tubuhnya lemas tatkala para gangster suruhan ibunya membawanya secara paksa dengan kasar. "Ini minum dulu." Yukita Konawa dengan paksa memberikannya minum melalui botol. "Ayo ikut aku!!" ucap Yukita Konawa yang diikuti oleh para bodyguardnya.


Risma yang masih mengenakan riasan pengantin dan sepatu hak tinggi berjalan dengan pasrah karena tubuhnya lemas, "Kak Risma!!" ucap Kojiyama yang melihat kakaknya dalam keadaan memperihatinkan. Risma tangannya di ikat ke belakang sedang duduk menggunakan kedua betisnya, lehernya di gengam erat oleh Yukita Konawa.


"Tega sekali anda melakukan ini pada putrimu sendiri!!" maki Anton tak terima jika istrinya di perlakukan seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri.


"Aku ingin kau menceraikan putriku dan mengembalikan cucuku!!"


"Apa kau gila!!" bentak Anton. Saat pria berparas Italia itu ingin maju Yukita menembakan peluru ke atas yang membuat Anton mengurungkan niatnya untuk mendekat.


"Cukup Okasan!!" Jeda "Kau menebarkan awan hitam di kepala semua orang!! kau hanya ingin memperluas pengaruh dengan mengadaikan putri-putri dari keluarga Konawa!!" ujar Kojiyama yang melihat ibunya semakin merajalela.


"Hisako akan menikah dengan pilihannya sendiri!!" ujar Kojiyma.


DOR!!


Yukita Konawa menembakan pistolnya ke atas tanda amarahnya keluar. "Aku ingin menikahkan Risma dan Hisako pada keluarga yang berpengaruh!!" ucap tegas Yukita.

__ADS_1


"Anton___" Risma memanggil suaminya tanda minta di selamatkan dari ibunya yang sudah mengila.


"Anton pergilah___jaga anak kita____jangan sampai ia di gadaikan dengan di nikahkan oleh keluarga yang terlibat bisnis hitam," mohon Risma pada sang suami.


"Okasan!" tekan Kojiyama pada ibunya.


"Dasar wanita berhati hitam, lihat putrimu!!" bentak Gani yang tak percaya.


"Diam kau bocah bawang!!" balas Yukita sambil mengarahkan pistolnya ke Gani.


"Okasan! tolong lepaskan Kak Risma!!"


"Anton tolong lindungi putri kita____pergilah Anton." Risma memohon dengan tatapan sendu berharap suaminya melakukan amanah darinya. "Okasan aku____hiks___bersedia kau bawa kembali ke Tokyo____hiks___tapi tolong jangan ada korban lagi." Risma bicara dengan terisak pilu.


Yukita menarik leher putrinya ke belakang lalu mengarahkan pistolnya ke pipi Risma. "Yumeko!! aku yang memberikan masa depan untukmu dan putrimu!!" maki Yukita Konawa. Meraka tak sadar jika kejadian itu di saksikan langsung oleh Karina yang bersembunyi di belakang mereka.


"Okasan cukup!!!" suara Risma meninggi dengan amarah ia menatap ibunya. "Bunuh aku saja dengan pistolmu___hiks____jika itu dapat membuatmu berhenti melakukan____hiks___hal keji dan tak manusiawi." Risma menangis pilu,


Risma akan lebih terhormat jika ia di korbankan dan ibunya berhenti melakukan tindak kejahatan yang dapat merugikan semua orang, "Risma apa yang kamu katakan!!" ucap Anton. "Iya Kak Risma pikirkan Karina!" Gani menimpali.


"Bunuh aku okasan!!!" bentak Risma dengan mata berkaca-kaca. "Bunuh aku!! jika itu yang kau mau!! tapi bebaskan putriku!!" ucap Risma yang tak ingin putrinya di nikahkan dengan seorang keluarga yang terlibat bisnis gelap.


"Anton jaga putri kita...," ucap Risma lirih.


Risma memakai kebaya pengantin juga riasan pengantin, Anton amat tak tega melihat gadis yang ia cintai harus menderita karena api yang berkobar di akibat ia yang mulai dulu. "Anton aku mencintaimu, jaga Karina pergilah!!" ucap Risma pada suaminya.


Amara secara diam-diam mendapatkan pesan dari Anton dan Kojiyama tentang apa yang terjadi, wanita itu memutuskan untuk melapor polisi dan membawa pasukan polisi dan tak lupa para bodyguard miliknya. "Ya allah tolong selamatkan keponakanku___aku merasa bersalah jika terjadi sesuatu padanya."


Amara di dalam mobil bergumam dengan memanjatkan doa-doa untuk keponakannya itu. "Wanita iblis itu!! tak ada sudahnya menyakiti semua orang!!"


Sesampainya di tempat ke jadian para polisi berhasil menyergap para gangster tapi Yukita Konawa lolos sambil membawa Risma, "jangan mendekat atau aku tembak dia dan aku!" ancam Yukita sambil membawa putrinya.


"Anton___," ucap Risma pada sang suami.


Tapi Kojiyama yang merasa perbuatan ibunya itu salah maju ke depan dan berhasil mengarahkan senjata saat pelatuk pistolnya ingin di tarik bahkan pelurunya di tembakan ke sembarang arah, lalu para bodyguard berhasil meringkus Yukita Konawa untuk membawanya ke kantor deportasi.


Anton mendekati Risma yang sedang di papah oleh Kojiyama. "Kak Yumeko," ujar Kojiyama sambil memeluk kakaknya, kemudian Anton berjalan mendekati istrinya lalu Risma dan Anton berpelukan saling melepas Rindu. Anton tak segan menciumi wajah sang istri di depan Amara, Kojiyama, dan Gani.


Amara mendekati keduanya lalu ia tersenyum bahagia, "selamat atas pernikahan kalian." Jeda "Anton tolong jaga keponakan saya, jangan sakiti lagi dia," kata Amara sambil mengelus bahu Anton. "Iya Tante itu pasti." Anton masih memeluk istrinya.

__ADS_1


Mata Amara sedikit menyipit saat di ujung sana terlihat seorang anak yang tertembak dan tak sadarkan diri. "Ya allah!" Amara berteriak dengan refleks. Para bodyguard milik Amara memeriksa siapa bocah yang sepertinya terkena tembakan peluru yang di keluarkan Yukita tadi.


"Ya tuhan Nona Karina terkena tembak!!" teriak bodyguard itu dengan panik.


"Apa Karina!!" Risma berteriak lalu memeluk putrinya ke dalam dekapannya. "Bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!!" perintah Anton berteriak pada bodyguard sambil mengendong tubuh mungil yang sekarat itu.


Mereaka buru-buru menaiki mobil untuk menuju rumah sakit terdekat Risma terus menangis menghawatirkan putrinya, mata Karina terpejam tapi mulutnya terus mengeluarkan rintihan kesakitan. "Risma tenang sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit!!" ucap Anton yang menenangkan istrinya.


Sesampainya di rumah sakit Karina di larikan ke ruangan UGD. "Dokter suster tolong anak saya!!!!" Anton berteriak Dokter dan suster segera berlari dan menidurkan Karina yang sudah terdiam di atas brankar untuk di masukan ke UGD.


"Tenang kami akan segera melakukan yang terbaik." Perawat itu bicara lalu menutup ruang UGD.


"Hiks___hiks___hiks. Karina," isak Risma yang khawatir akan putrinya yang terkena tembakan peluru.


Anton memeluk Risma dalam pelukannya, "hei tenang__tenang." Anton menangkup kedua wajah istrinya yang sudah penuh dengan air mata. "Putri kita akan baik-baik aja, sayang tenang." Anton menangkup kedua pipi istrinya lalu mendekapnya ke dalam pelukannya.


Tak lupa Anton juga mengeluarkan air mata karena khawatir akan putrinya, ia juga tak sadar selama istrinya tak ada ia juga sudah menyakiti putrinya. Anton melepaskan pelukannya lalu melepas jas hitam yang di kenakannya untuk di pakaikan di punggung istrinya.


Anton tak peduli dengan keadaan Risma yang sekarang, ia ingin mendekap istrinya selamanya. "Tante Anton titip istri Anton sebentar." Risma di suruh duduk di sebelah Amara lalu di tenangkan oleh wanita setengah baya itu.


"Gani gua mau ngomong ama lu sebentar!" ujar Anton dengan suara penuh penekanan sambil menarik adiknya kasar dengan amarah, Kojiyama juga mengikuti kemana kakak iparnya pergi karena tak ingin Anton berbuat ricuh di rumah sakit.


PLAK!!


Anton menampar adiknya lalu mencengkram kerah kemeja Gani, "lu sengaja pengen bunuh anak gua!!" bentak Anton sambil mencengkram kerah kemeja Gani. "Gua gak tahu kalo Karina ada di mobi gua!!" Gani berusaha membela diri.


"Kak Anton!!" Jeda "Cukup!! ini rumah sakit bukan tempat latihan tinju!!" Kojiyama memisahkan dan menenangkan.


"Kak Anton tolong jangan buat ricuh suasana." Kojiyama bicara.


"Gani kabarin Tante Clara, dia berhak tahu keadaan cucunya."


Kojiyama menjadi pereda agar tak terjadi kericuhan antara kakak dan adik ini. Gani setuju ia keluar untuk ke depan ruangan UGD untuk menelpon ibunya tentang keadaan Karina yang terkena peluru. Di depan ruangan UGD hati Gani tak tega melihat keadaan Kakak iparnya yang menangis pilu karena menghawatirkan keponakannya.



Karina Clarissa Anjaya


#### BERSAMBUNG

__ADS_1


*


*


__ADS_2