
Ketika langkah Risma hampir sampai dia malah melihat suaminya dan teman- temannya tengah duduk di depan kelas. "Jadi, rencana lo selanjutnya apa? Mau tetep mempertahankan rumah tangga sama tuh ******, apa mau ceraikan tuh anak abis itu lu bakal lanjutin hubungan sama Fera?" Tanya salah satu teman suaminya yang bernama Axel pria berparas Spanyol tersebut.
" Ya sudah jelas Anton bakal milih Fera daripada Risma si cewek kampung, lo pada 'kan tau mereka saling suka dari dulu sedangkan Risma cuma pohon tumbang yang menghalangi kelancaran hubungan mereka berdua, ya gak Anton?" Tanya Andria teman Anton yang memiliki paras Canada dengan keras saat melihat Risma berjalan melewati mereka tanpa ada rasa kasihan.
"Yoi, lagian tuh cewek dari kampung gak pantes sama pangeran kampus kaya lo," sahut Axel yang sejak tadi duduk di samping Anton.
"Ya iya lah, gua bakal cerain dia. Kalian sendiri 'kan tau kalo selera gua tinggi soal cewek, jadi gak mungkin gua bakal pertahanin rumah tangga gak berguna itu," jawab Anton dengan santai.
Pulang dari tempat wisuda Risma memasuki kamar ia masih memikirkan apapun yang tadi ia dengar dari teman-teman Anton hatinya hancur berkeping-keping tatkala mendengarkan gunjingan lagi.
Flashback
Risma saat itu sangat senang memakai toga kemudian memilih keluar campus untuk membeli air mineral, tentu saja melewati cafe yang favorite tongkrongan sang pangeran campus. Risma melihat suaminya dan dari situ ia berharap agar ia bisa di kenalkan dengan para sahabat suaminya.
Tetapi yang ia dengar malah gunjingan ia menguping pembicaraan mereka.
"Eh, ya engga lah, emangnya gue Anton, cewek jalan dipake," kata Salsa. Ketakutan Risma berhenti saat sadar mereka membicarakannya.
__ADS_1
Di sana ada Anton, Salsa, Andria, dan Axel. Satu geng yang selalu menjadi idaman para mahasiswa lain. Salsa, wanita bermulut cabai yang selalu membuat Risma menangis.
"Hahaha, iya. Gua juga engga. Senakal-nakalnya gua gak pernah tuh mainin cewek jalanan." Axel menambahkan.
"Lagian lo ga jijik pas nyoblos, Ton? Ternyata. Tipe lo yang kaya gitu." Andria tertawa.
"Engga kali, Anton 'kan abis ditolak sama Fera, jadi buta ga bisa liat mana yang berkualitas," ujar Salsa.
"Udah jangan goda dia mulu," ucap Andria ikut menggoda.
"Lu pada mau bisnis bisnis lu kandas? Udah diam, jangan goda boss kita, lagian dia emang suka sama itu cewek, cewek yang doyan keluar malam," ucap Axel.
"Wooohooo, boss kita marah. Setelah sekian lama akhirnya berkicau juga." Axel tertawa keras.
"Tapi, Ton. Emang lu yakin mau punya istri kaya gitu selamanya?" Tanya Andria.
"Ya engga lah, 'kan Anton bilang dia mau cerain tuh cewek kalau udah lahiran," ucap Salsa.
__ADS_1
"Serius? Kapan dia bilang gitu?" tanya Andria.
"Waktu party kemarin, lu masa lupa?" Salsa menggoda.
"Dia bilang dia tuh jijik sama tuh cewek kampung, udah miskin, bau, kumal banyak kumannya lagi."
"Tapi cantik, Sal. Mukanya mulus bersih, kinclong." Axel membayangkan wajah gadis itu.
"Ya mulus, soalnya di gosok mulu sama om-om." Setiap tawa mereka, membuat air mata Risma menetes semakin deras.
"Bisa pada diem ga sih lu?" Ucap Anton kesal.
"Udah sih, Ton. Jangan baper." Salsa mengerucutkan bibir.
"Tapi, Ton. Jawab gua yang jujur. Lu lebih benci atau jijik sama dia?" Keheningan tiba tiba melanda, Risma terdiam, napasnya terasa tercekat. Sampai Anton menjawab, "gua jijik sama dia, gua nyesel pernah perkosa dia." Risma menyeka air matanya.
'Ya Tuhan, dosa apa yang telah hamba aku ini buat sampai kau memberikan cobaan yang begitu berat? Kapan aku akan bahagia? Bagaimana nasib anak ku nanti?' batin Risma sambil membelai perutnya.
__ADS_1
Seseorang tanpa sengaja menyenggol bahunya, membuat gadis berwajah Asia itu berteriak dan terjatuh hal tersebut menarik perhatian teman-teman Anton. Salsa berdiri dan melihat Risma, dia tertawa. "Oow, Ton. Your wife nyusul nih!"