Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
BAB 87


__ADS_3

MAAF JARANG UPDATE KARENA BANYAK DAN PADATNYA TUGAS KULIAH SEBAGAI PENEBUSAN RASA BERSALAH KALO ADA WAKTU SENGGANG UPDATE 2 KALI.


Pagi ini Risma keluar rumah dengan perutnya yang sedikit buncit, pagi ini secara mengendap-ngendap Risma memakai masker dan tudung jacket agar tak di ketahui, sesudah keluar gerbang dan bodyguard bertanya mau kemana.


"Yumeko-san, doko ni iku no?" tanya bodyguard berwajah Asia dan bermata sipit itu. (nona Yumeko, anda ingin kemana?)


***"**Bitamin to tabemono o kaitaidesu\, sā." *Risma berkata sambil mengenakan maskernya. **(**Saya ingin membeli vitamin dan makanan, Pak.)


Pria itu menawarkan akan mengantar Risma tapi wanita berbadan dua itu. "Watashi wa wakai masutā ni nani o iubekidesu ka?" ujar bodyguard itu.(Apa yang harus saya katakan kepada tuan muda?).


"Shibaraku undō suru to itte kudasai sore wa nagaku wa kakaranaideshou." (Katakan saja aku akan berolahraga hanya sebentar tak akan lama.)


"Hai."


Setelah itu Risma memakai masker nya lalu pergi menuju suatu tempat. Gadis menemui seseorang di pemakaman karena posisi ini yang paling strategis dan sepi,  dia adalah seorang wanita Indonesia namanya Indina. "Apa ada informasi dari okasan?" tanya Risma sambil membuka maskernya menanyakan ibunya pada gadis yang bernama Indina itu.


"Ya, Nona Yumeko. Nyonya merawat Karina dengan benar tapi Nyonya ingin menjodohkan Karina dengan putra  Kartel dari Mexico."


"Baiklah, ini." Risma memberikan sebuah amplop coklat yang berisi uang dan beberapa tulisan tangan darinya. "Berikan ini pada Okasan dan uangnya untukmu."


"Terimakasih Nona."


"Aku pergi, kita harus pergi aku takut suami atau adikku mengetahui ini."


Risma segera memakai masker kembali lalu berjalan menuju rumahnya yang tak jauh titik dimana pertemuannya. Risma mengusap perutnya saat dalam perjalanan menuju rumah tiba-tiba ada panggilan masuk.


Risma mengakat ponselnya lalu menempelkannya di telinga saat sedang menelepone wanita hamil itu sangat sensitif saat mendengar nama pembunuh putrinya di ucapkan.


"Dengar Hanna aku tak mau dengar apapun lagi soal si sundal itu!!" maki Risma di sebrang telepon.


"Risma dengar Fera sudah mendapatkan karma atas dosa-dosanya sampai berapa lama kau akan menghukumnya, dia selama ini terjerat oleh bayang-bayang penuh dosa."


Hati Risma terketuk tatkala mendengar penjelasan dari Hanna. Tapi tetap saja bayangan masa lalu terus menghantuinya bagaimana Fera dan Salsa membuat hidupnya penuh derita, Risma berjalan gontai sambil memegang perutnya.


"Risma apa kamu disana!! Hello!!" ucap Hanna memanggil-manggil nama sahabatnya.


Persetanan antara hati nurani Risma di sisi lain wanita berdarah setengah Jepang itu masih menyimpan rasa dendam yang amat pilu tapi di sisi lain hatinya amat tak tega pada Fera apalagi ia juga seorang wanita, Risma tak bisa bayangkan jika ia ada di posisi wanita berparas Australia itu.


Wanita hamil itu langsung mematikan telepon nya sepihak lantaran ia bimbang antara ingin memaafkan atau tidak karena Fera sudah membunuh putrinya, hal paling berharga dalam hidupnya. Risma berjalan seolah tak ada roh yang mendiami tubuhnya.


Risma bisa memaafkan Fera jika wanita itu tidak membunuh putrinya. Wanita itu menghapus air matanya tatkla ada sebuah mobil yang mengklason, kaca jendela terbuka memperlihatkan Harris sahabat lamanya yang masih membela nya.


"Ris lu mau kemana?" tanya Harris.


"Gua mau pulang tadi gua lagi cari siomay karena gua lagi pengen," alibi wanita itu.


"Yaudah gua anter lu ke rumah Pak Koji."

__ADS_1


Harris bicara karena Kojiyama adalah atasannya, yups Harris bekerja sebagai pegawai di kantor milik keluarga Konawa. "Gak usah gua jalan aja, buat olahraga."


"Please jangan nolak ada yang harus gua omongin ama lu."


Risma yang penasaran apa yang ingin di bicarakan Harris langsung mengiyakan ajakan Harris untuk mengatarnya pulang ke rumah. Risma masuk ke dalam mobil Avanza putih itu lalu mereka berbincang hangat karena sudah lama tak bertemu.


"Gua turut berduka cita atas meninggalnya istri lu, maaf gua gak bisa datang kepemakaman istri lu."


"Iya gak pa pa, lagia waktu itu lagi ada di Jepang."


"Risma gua boleh izin buat nanya soal rumah tangga lu?" tanya Harris menatap sahabat lamanya.


"Boleh tanya aja."


"Lu ngalamin KDRT ya ama Tuan Anjaya." JEDA "Ya gua paham lu lebih milih tinggal ama Tuan Koji di banding ama Tuan Anjaya, yah karena suami lu itu begitu. Tapi lu jangan sekali-kali nyalahin adik lu, Tuan Koji gak berpihak ama Anton atau Nyonya Konawa tapi dia berusaha memandang dari dua sisi berbeda."


Ya memang antara Yumeko dan Kojiyama Konawa pikirannya lebih dewasa Koji di bandingkan Yumeko atau Risma. Sedih dan kecewa yang di rasakan Risma saat mengingat masa lalunya ia tak ingin sejarah lama terulang kembali.


"Risma gua seneng akhirnya adik Ipar lu, Lisi. melahirkan dengan selamat bayinya namanya Eric."


"Iya aku selalu berdoa untuk keponakan ku."


"Aku ingin menikahinya!" ucapan Harris membuat Risma membulatkan matanya bagaimana mungkin bisa Harris mencintai adik iparnya.


"Yah aku memang tak sekaya keluarga Anjaya tapi aku akan berusaha membahagiakan Lisi," ungkap hati Harris.


Risma menoleh ke sahabatnya sambil tersenyum tipis tangannya menyentuh pundak Harris, "gua dukung lu tapi gak sekarang lu ungkapin isi hati lu, karena lu tahu 'kan masalah yang menimpa keluarga Anton."


"Lu belom tahu cinta itu apa? karena lu tipe yang gak setia!! buktinya lu malah pindah hati saat bini lu udah gak ada."


Ucapan Risma gak di pikir dua kali enatah karena hormon kehamilan yang kadang tak stabil atau karena hatinya sedang bimbang, "Harris gua mau ke apartemen Hanna ama Axel."


"Mau ngapain lu, disana 'kan ada tuh sundal," ujar Harris pada sahabatnya.


"Gua mau kesana ada suatu hal yang harus gua omongin ama si sundal."


"Yaudah gua temenin lu." Harris bicara pada Risma sambil menyentuh tangannya untuk memberikan kekuatan.


"Terimakasih lu udah support gua."


"Iya sama-sama, kita ini ;kan sahabat lu tetep sahabat gua."


Harris bicara pada sahabatnya sambil melajukan mobilnya ke apartemen milik teman kantor mereka Hanna. Sesampainya di apartemen milik Hanna. Keduanya melihat Hanna sedang menyirami tumbuhan, "Fera sedang di dalam memang apa yang akan lu omongin ada suami kita di dalam."


"Yaudah ayo masuk."


Risma langsung masuk ke kamar dimana Fera berada untuk bicara sesuatu ia ingin bicara kedamaian karena ia tak ingin membebani mendiang putrinya di alam sana yang sudah tenang. Risma ingin menghapus dendam di hatinya dan berusaha mengiklaskan semuanya.

__ADS_1


Harris berjalan mengikuti Risma berjalan sesampainya di kamar Risma dan Harris melihat Axel dan Anton, Risma terdiam hatinya sakit tatkala ia melihat Anton menyuapi Fera lalu tangan Anton mengusap lembut noda yang ada di bawah bibir Fera dengan lembut. Apakah suaminya masih menyimpan  cinta pada wanita sundal itu.


Hormon kehamilan dan rasa sensitif dalam hati wanita hamil itu langsung mengeluarkan air mata dirinya hancur, Pantas selama ini Anton tidak pernah datang ke rumah Kojiyama untuk membujuk untuk kembali apalagi menjenguk dia dan calon anaknya.


Tubuh Risma mematung mata Risma berkaca-kaca tatkala melihat itu Harris langsung berteriak marah. "Dasar cowok gak tau diri!!" maki Harris.


Axel dan Anton langsung menoleh ke arah makian itu. Hanna datang tatkala ia mendengar Harris berteriak, Hanna langsung melihat semuanya Anton memegang piriring dan sendok juga Fera yang sedang mengunyah makanan.


"Sayang kamu---" Anton tercekat tatkala istrinya disini melihat semua yang terjadi.


"Ris ini gak seperti yang kamu liat...," bela Axel.


"Gak seperti yang diliat gimana!! jelas-jelas gua ama Risma liat semuanya!!" maki Harris pada semuanya.


Anton menaruh piring di nakas lalu berjalan mendekati istrinya. "Sayang aku...," ucap Anton lirih berusaha bicara pada istrinya.


Saat Anton perlahan berjalan mendekat Risma mundur tanpa di duga Risma berlari keluar kamar, "sayang!! hey!!" teriak Anton ikut mengejar.


Harris hanya mengeleng tak percaya menatap Hanna juga Axel. "Lu tahu itu gak pantes kenapa lu diem aja!!" maki Harris kepada Axel.


"Heh kita temenan!!" bela Axel.


"Temenan!! gua gak pernah sekalipun nyuapin Risma apalagi Lisi cewek yang gua cintai karena gua tahu itu gak pantes!!"


Axel diam tanda membisu. "Dan lu Hanna!! masa lu tega ngehianatin Risma ama Nyonya Konawa!!" ucap Harris.


Harris keluar ruangan menyusul sahabatnya kemana ia akan pergi Harris tak menyangka Risma dan Anton berdebat di depan apartemen membuat orang-orang melihat mereka.


Pantes selama ini kamu gak pernah negokin aku apalagi anak kita!! bahkan bujuk aku kembali pulang!!!" maki Risma pada suaminya.


"Sayang denger dulu!" ucap Anton.


"APA!! KAMU PERNAH SEKALI NGERTI PERASAAN AKU!!"


"Oke aku yang salah aku minta maaf!!" Anton mengusap rambutnya karena deperesi.


"Aku minta cerai setelah anak ini lahir!!"


Risma ingin pergi tapi Anton dengan marah mencengkram tangan Risma membuat Risma meringis kesakitan, Anton menarik Risma ke dalam dekapannya mata mereka berhadapan. Risma menatap mata Anton dalam hatinya ia melihat amarah dalam diri suaminya.


Tapi Risma berusaha melepaskan tangannya yang di cengkram Anton dengan kuat tanpa basa-basi Anton menyeret istrinya masuk kepariran ke dalam mobil.


"Anton lepaskan aku!!"


ucapan Risma tak di gubris oleh Anton tatkala Anton sibuk menyetir Risma ingin keluar tapi Anton mengunci pintu mobil secara otomatis.


"Anton!! lepaskan aku!!" maki Risma pada suaminya.

__ADS_1


"Kamu milikku!!"  ucap Anton sambil menyetir mobilnya.


#bersambung


__ADS_2