
Seorang bocah menutup kedua telinganya di dalam kamar tatkala kedua orang tuanya telibat cek-cok yang cukup panas. "Mendaki gunung lewati lembah...Sungai mengalir indah ke Samudra....Bersama teman bertualang." Mulut Karina bernyanyi dan kedua tangan mungilnya ia gunakan untuk menutup kedua telinganya.
"Tempat yang baru belum pernah terjamah......Suasana yang ramai di tengah kota.....Selalu waspadalah kalau berjalan....Siap menolong orang dimana saja...," ucap Karina dalam mulutnya tatkala mendengar kedua orang tuanya cek-cok.
Seolah ada minyak panas yang di siram melalui telinga bocah itu tatkala mendengar cek-cok antara orangtuanya, Di kamar Risma dan Anton saling cek-cok tiada henti.
Di Kamar
Risma dengan Anton saling berteriak satu sama lain merasa jika opini mereka benar, "aku capek Anton kamu bakal ngulangi kesalahan kamu yang fatal!!" kata Risma sambil berkacak pinggang."Risma!! sudah berapa kali saya bilang!! itu masa lalu!!"
Anton tak kalah meninggikan suara karena sudah muak akan kelakuan istrinya yang amat sensitif. "Kamu berfikir selalu negatif gak pernah positif!!" gentak Anton yang membuat air mata wanita hamil itu terurai lalu Risma berlari keluar kamar.
"Risma mau kemana kamu!!" teriak Anton yang mengikuti istrinya berlari keluar kamar. "Kamu jangan egois Risma!! Risma!!" Anton berlari menyusul istrinya yang sedang marah.
Fera mendengar semuanya dari dalam kamar sambil berbaring menatap langit-langit kamar, matanya terus berkedip sembari mengeluarkan air mata hatinya menyesal harus menjadi orang ketiga diantara mereka lagi.
Anton berhasil meraih tangan istrinya yang lari menuruni tangga menuju taman belakang mereka tak ada sudahnya cek-cok, "Risma!! kamu bisa gak sih dengerin ucapan suami kamu!!!" gentak Anton yang membuat Risma diam dan hanya menyisakan kepiluan.
"Risma dengar jika seperti ini terus aku bisa gila!! kamu tahu aku dan Fera tak ada hubungan apa-apa!!!" gentak Anton.
Suara gentakan demi gentakan yang keluar dari mulut Anton membuat kepala Risma pening, hanya terdengar suara gema dari mulut Anton perlahan tubuh itu tumbang di tanah. "Risma!!" jerit Anton sambil memegang tubuh istrinya.
"Bi Iddah!!! Bi Munah!! Tolong saya!!" teriak Anton pada dua asisten rumah tangganya.
Para pelayan di rumah itu membantu mengotong tubuh Risma lalu menidurkannya di kursi ruang tamu, "weladalah apa yang terjadi sama Nyonya!!" ucap Munnah.
__ADS_1
"Munnah!! Shut!!" kata Bi Iddah menghentikan Munnah.
Bi Iddah mengusapkan minyak aromaterapy seperti freshcare dan minyak kayu putih di bawah hidung Risma, Anton menelpon teman lamanya yaitu Dokter Rudi yang ahli kandungan ia memeriksa Risma. Dokter Rusdi sampai hanya beberapa menit karena macet.
"Anton kenapa lu nelpon gua malam-malam?" tanya Rudi.
"Istri gua," kata Anton memperlihatkan istrinya yang terbaring di sofa ruang tamu.
Dokter Rudi selaku Dokter kandungan memeriksa Risma, Ia meminta izin Anton untuk membuka perut Risma agar bisa memeriksa kandungannya. Dokter Rudi melihat kandungan Risma perkembangan janinnya sangat baik tapi pikirannya sangat deperesi berat.
"Anton lu apain istri lu?!" tekan Rudi pada sahabat lamanya.
"Apa maksud lu Rudi?!" ucap Anton yang menekan juga.
Anton sedikit tak percaya apa yang di katakan sahabatnya ternyata dampak ibu hamil bisa sampai segitu parah. "Lu harusnya tahu dong ini istri lu hamil yang kedua," kata Rudi.
Seolah Anton tersindir oleh kalimat yang di lontarkan Rudi. "Yaudah ini resep vitamin sama obatnya, ingat jangan biarin pikirannya stress." Rudi pamit sebelum pulang karena anak dan istri sudah menunggunya di rumah.
Anton membopong tubuh istrinya ke kamar lalu membaringkan tubuh itu di atas ranjang. Tangannya membelai rambut pendek Risma menatap wajah pucat istrinya, hati Anton memikirkan Karina suaranya terdengar seperti bernyanyi dari kamarnya.
Anton menghembuskan nafas lelah setelah menidurkan istrinya ia beranjak pergi ke kamar Karina dari suaranya yang terus bernyanyi, pria itu memasuki kamar putrinya tatkala melihat Karina di pojok kamar sambil menutup kedua telinganya mulutnya masih terus bernyanyi.
"Gozaru Gozaru itulah asalnya....Pembela kebenaran dan keadilan......Hai Ninja Gozaru......"
"Ninja Hatori yang mulai beraksi.....Menjaga anak-anak bermain di taman......Bunga-bunga indah terbang ke awan......Membawa hati kita jadi gembira....." Karina di pojok kamar meringkuk dengan dua kaki yang di tekuk sambil menutup kedua telinganya.
__ADS_1
Kaki Anton perlahan melangkah mendekati putrinya lalu menepuk bahu mungil Karina membuat bocah itu melompat sambil berteriak. "Karina tenang ini papa!" ucap Anton sambil menarik Karina ke dalam pelukannya agar bocah itu tenang.
"Papa temenin Karin bobo ya, malam ini." Anton membelai surai coklat milik Karina.
Anton terus mendekap tubuh mungil Karina yang bergetar karena takut, dia menyadari jika Karina tak sepantasnya merasakan ini karena rasa egois dan sensitif dari kedua orangtuanya. Anton semakin mendekap putrinya ia menyadari keslahan di masa lalunya.
Anton sengaja membawa Fera kesini untuk menghilangkan rasa trauma yang amat besar di sikis istrinya karena Fera yang menjadi rasa trauma bagi Risma.
Pria setengah Italia itu bingung bagaimana cara meyakinkan istrinya hatinya sudah amat mencintai Risma ia tak ingin kehilangan istrinya, langkah yang ia ambil sesuai keputusan hatinya entah benar atau tidak Anton sama sekali tak tahu jika dampaknya ia akan sering adu mulut oleh istrinya.
Anton memeluk putrinya sambil menatap langit-langit kamar ia merasa jika langkah yang diambil dalam menghilangkan trauma istrinya amat besar tapi hati kecilnya merasa ini adalah tindakan yang tepat.
-
-
Yukita Konawa mendatangi kelompok para te*oris di daerah padang pasir, "apa yang membawamu kemari untuk pemimpin Yakuza yang terhormat." Rupanya pimpinan itu menyambut hangat pemimpin Yakuza itu.
Yukita Konawa memberi instruksi untuk anak buah Yakuzanya menyalakan rokok untuknya, Yukita Konawa menghisap rokok itu lalu menyembulkannya ke udara. "Aku hanya ingin cucuku," ujarnya sambil menyembul asap rokok itu ke udara.
Para terori* itu membuka masing-masing penutup kepalanya yang mereka kenakan, "berapa kau akan membayar Yukita Konawa?" tanya pimpinan dengan wajah khas timur tengah di tengah diskotik di kota Paris. Mulutt Yukita Konawa bersiul lalu membuka koper berisi uang dolar.
"Jika masih kurang aku tahu rahasiamu," ucap Yukita Konawa dengan suara mendesah. "Kau ingin membom salah satu gedung pemerintah 'kan di kota Milan Italia?" tebak Yukita Konawa sambil menaik turunkan alisnya sembari menghisap rokoknya.
#Bersambung
__ADS_1