Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 44


__ADS_3

Risma masuk ke ICCU menatap sang suami yang terbaring tak berdaya beginikah rasanya dulu saat dirinya diposisi Anton sang suami, sudah hampir dua minggu sang suami tak kunjung sadar hatinya benar-benar perih tatkala merasakan penyesalan yang mendalam.


Wanita berumur 23 tahun itu akan menerima konsekuensinya saat Anton terbangun nanti dan siap menerima ungkapan sinis dari suaminya.


Tak lama Risma menyadari pergerakan dari tangan Anton dan segera memencet tombol untuk memanggil perawat, sang perawat tiba segera dua perawat itu memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Anton.


Dokter melepas semua selang bantu bernafas dan segera memindahkan Anton ke ruang rawat inap VVIP, Risma masih diam mematung melihat sang suami sedang di periksa dokter lalu Anton mengedipkan matanya dan melihat sekeliling. "Dimana saya?" tanya pria itu linglung. "Tuan Anjaya di rumah sakit...," ucap sang dokter.


Anton melihat Risma dengan tatapan sulit di tebak tepat di hadapannya. "Keadaannya sudah mulai pulih hanya luka saja nanti akan di beri obat lewat suntikan infus agar meredakan rasa sakit karena racun peluru," jelas sang dokter. "Terimakasih Dokter." Risma berucap dengan senyuman khasnya.


"Kalo begitu saya permisi, mari Nyonya Anjaya." Risma tersenyum menatap kepergian dokter ia melihat suaminya sejenak.


Risma menarik nafas kakinya berjalan mendekat tatapannya melihat Anton yang hanya menatap langit-langit kamar, Risma juga siap mendengar ungkapan marah dari sang suami dan siap di lontarkan kata-kata kasar seperti masa lalunya. Tangan Risma perlahan menyentuh tangan Anton yang terpasang selang infus.


Saat Anton menyadari yang menyentuh tangannya adalah istrinya pria berparas Italia itu menoleh ke sang istri yang membuat Risma meloloskan air mata, Anton tidak marah apalagi menghindar ia tersenyum tipis dengan bibir yang pucat kemudian mengambil tangan Risma untuk di kecup lalu di taruh di dada.


Bulir demi bulir airmata Risma keluar dari pelupuk matanya sungguh biadab dirinya tak menyadari cinta dari sang suami, "mana Karina?" tanya Anton pada istrinya dengan senyum tipis. Risma menghapus airmatanya lalu menjawab. "Di luar sama Mama." Risma bicara lalu duduk di samping ranjang sebelah Anton dengan kursi.


"Kamu---" Risma belum menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Clara datang sambil mengendong Karina dan tersenyum.


"Syukurlah Anton kamu sudah sadar, Nak."

__ADS_1


"Iya mama." Tangan Anton masih setia menggenggam tangan istrinya meskipun itu dilihat Clara.


Risma belakangan ini bersama sang adik lantaran ibunya sudah di deportasi dan bisnis yang ada di Bali di gantikan oleh Kojiyama adik setengah kandung Risma. Clara mengajak Risma tinggal di rumah milik keluarga Anjaya yang ada di Bali tapi Risma menolak secara halus.


Meskipun sudah di paksa ia hanya ingin tinggal di Rumah Amara, karena Karina belakangan ini sudah amat dekat dengan Siska. Tapi Karina juga tak segan mengunjugi Clara atau sebaliknya. "Mama aku---" belum sempat Risma berucap Clara bicara seolah mengerti perasaan menantunya.


"Mama paham sayang, kamu pulang dulu istirahat nanti malam kamu bisa gantikan mama menjaga Anton." Di dalam hati Risma amat tak mau untuk meninggalkan Anton yang sangat ia rindukan, sekarang cinta gadis setengah Jepang itu kembali bersemi untuk Anton melihat pengorbanan pria tersebut sampai rela nyawa sebagai taruhannya dan rela berhadapan dengan Yakuza demi mendapatkan dirinya dan Karina.


Risma mengangguk kemudian ia pamit dan membawa Karina awalnya anak itu tak mau berpisah dari neneknya karena sudah belakangan ini anak itu amat dekat dengan neneknya. "Karin pulang dulu yuk, nanti nginep lagi rumah Oma." Risma mencoba membujuk putrinya yang kemudian Karina mengangguk.


Risma pulang dengan di jemput oleh Hisako, gadis itu lari dari perjodohannya berkat bantuan Kojiyama dan berhasil sembunyi dari Yakuza. "Bagaimana keadaan Tuan Anton?" tanya Hisako yang menyetir sambil mengenakan kacamata hitam. "Dia sudah sadar, hanya tinggal luka kecil saja."


"Baiklah pertama kau pergi ke rumah Nyonya Amara titipkan Karina dulu, Kamu tahu 'kan kita akan membicarakan apa?" Jeda "Tak baik bila di dengar oleh anak kecil."


"HAI."


Dua sepupu itu melajukan mobilnya di jalanan kota Bali untuk segera ke rumah Amara, Hisako, Yumeko, dan Kojiyama mereka ingin membicarakan perihal bisnis gelap yang di jalankan oleh Yukita Konawa mereka berusaha menutupi ini semua dari kepolisian.


Yukita Konawa juga bertanggung jawab atas penyakit yang di derita Fera Covrev yakni HIV dan tentu saja ia sudah kena pasal di Jepang karena melibatkan nyawa, Kojiyama yang paling di garda depan untuk menangani semua ini karena Kojiyama akan mewarisi semua kekayaan ibunya termasuk bisnis kotor.


Karina tertidur dalam perjalanan jadi ia bisa menidurkannya dengan pengasuh, sedangkan Amara sedang berada di restoran miliknya dan Siska sedang kuliah jadi Karina bersama sang pengasuh. "Yumeko!" Kojiyama memeluk kakaknya dan di balas Risma memeluk sang adik.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? apa---" belum sempat Risma berucap Kojiyama bicara dengan marah dan mata memerah tangannya mengebrak meja.


"Kōji ya ma, ochitsuite kakkoī atama de hanashite ne!" (Kojiyama, bicaralah dengan tenang dan kepala dingin)


Hisako berujar dalam bahasa Jepang, ia bisa mengerti perasaan adik sepupunya lantaran ini semua adalah musibah yang sedang menimpa keluarga Konawa tapi Hisako tak mau menikahi putra Tuan El deanon yang menyukai pergaulan bebas sungguh kotor dirinya jika menikahi pria arogan itu.


**********************************************************************************************************************************


Hisako malam ini menatap langit dan bintang membayangkan orangtuanya berada di atas sana melihatnya yang sedang bersedih, jujur saja dirinya merasa iri dengan sepupunya Risma bisa merasakan cinta sejati meskipun banyak rintangan sedangkan dirinya harus terkurung di sangkar milik Yukita Konawa dan tak bisa memilih pria yang ia idamkan.


"Seandainya kalian masih hidup_____Aku bisa memilih calon suami pilihanku." Hisako berucap seolah ia mengharapkan cinta yang datang, ia pernah bermimpi sewaktu kecil menikahi seorang pangeran yang diimpikan tapi yang akan dinikahinya bukanlah pangeran melainkan raksasa.


Hisako pernah bermimpi dalam tidurnya yaitu sahabatnya Anton yang berwajah Canada beberapa kali tapi ia tak tahu namanya, wajahnya menyiratkan ia orang yang baik tapi dirinya tak sanggup jika sampai pria itu bernasib sama seperti suami sepupunya Yumeko Konawa.


"Ya tuhan aku berharap_____aku menemukan cinta sama seperti sepupuku." Hisako berdiri beranjak masuk rumah yang di tinggali bersama sepupu laki-lakinya Kojiyama. Sungguh malang Hisako sebuah ibarat seorang princess yang terkurung oleh seorang raksasa dan penyihir berharap Prince tampan menolongnya tapi itu semua hanyalah sebuah cerita dongeng saja bukannya realita.


Hisako memasuki kamarnya ia membaringkan dirinya ke samping melihat sebuah foto masa kecilnya bersama kedua orangtuanya yang telah lama meninggal dunia, hatinya pedih berharap penderitaanya berakhir ia ingin bebas seolah dirinya seperti seekor burung yang terkurung di sangkar dan mengharapkan kebebasan untuk terbang kemanapun yang ia suka.


"Aku berharap bertemu pria itu dan tahu namanya." Hisako menatap langit-langit kamar sambil membatin dalam hati. Selalu terbayang wajahnya yang tampan.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2