
Anton mondar-mandir tak jelas karena menghawatirkan Risma, entah kapan ia mulai merasa khawatir pada seorang wanita yang sudah di telantarkan olehnya. Hanna segera menghubungi Nyonya Konawa tentang apa yang terjadi pada Risma.
Tentu Nyonya Konawa langsung marah, "Yumekoo!!" jerit Yukita sambil melempar barang-barangnya yang ada di meja ruang kerjanya.
"Dō shita no, obasan?" (Ada apa, bibi?)
Tiba-tiba seorang gadis Jepang yang hampir seusia Risma menghampiri bibinya yang berteriak, gadis itu dari toilet pribadi di ruang kerja Bibinya. "Pria iblis itu telah membuat putriku berakhir di rumah sakit, Hisako."
Hisako tercengang ia membulatkan mulutnya sambil meletakan satu tangannya, "Ya ampun." Jeda "Baiklah obasan lebih baik sekarang kita ke rumah sakit," ujar Hisako sambil memapah bibinya.
****
Sesampainya di rumah sakit Nyonya Konawa melihat Hanna yang tepat berada di luar pintu rumah sakit menunggu atasannya itu, "Hanna__dimana Risma yang sedang di tangani?" tanya Hisako sambil menenangkan bibinya.
"Nona, Risma sedang berada di ICCU. Ayo kita kesana sekarang!!" ajak Hanna segera memandu atasannya yang sekaligus sudah menyelamatkannya dari kehancuran.
"Nyonya Konawa Risma ada di dalam sana sedang di tangani oleh, dokter. Tolong anda tenang," ucap Hanna Okamoto.
Tiba-tiba Anton yang sedang duduk dengan rasa khawatir menghampiri Hanna yang membawa orang-orang Jepang tentu saja hal itu membuat pria berdarah separuh Italia itu merasa heran. "Hanna! Siapa mereka?" tanya Anton.
__ADS_1
"Tuan Anton, ini adalah atasanku sekaligus ibu dari Risma yang---" belum sempat Hanna menyelesaikan kalimatnya Yukita Konawa dengan amarah yang seperti lahar dari gunung api langsung mencengkram kerah baju Anton.
"Kau pria kejam!! tega sekali kau berbuat seperti itu pada anakku!!" bentak Yukita yang membuat orang-orang melihat mereka sambil menarik kerah baju Anton, "maaf...," ucap Anton lirih.
"Maaf hanya itu yang bisa kau katakan!! setelah semuanya kau lakukan tanpa dosa!!" bentak Yukita yang masih setia mencengkram kerah kemeja menantunya itu.
"Astaga, Nyonya Konawa tolong berhenti!!" ujar Hanna.
"Iya, Bibi ini bukan negara kita. Malu orang-orang sudah melihat kita." Hisako berusaha membantu Hanna membuat Nyonya Konawa tenang.
Mendengar kegaduhan dua satpam rumah sakit menghampiri mereka, "ada apa ini?!" tanya satpam rumah sakit, Yukita mulai tenang dan melepaskan kerah baju Anton.
"Pak, mohon maaf atas kebisingan ini...," ucap Hanna yang berusaha meyakinkan penjaga.
"Baiklah, mohon tenang karena kebisingan dapat menganggu pasien lainnya." Dua orang satpam kemudian pergi meninggalkan mereka, juga satu-persatu orang-orang yang menonton mereka membubarkan diri.
Tak lama setelah keheningan diantara mereka seorang dokter keluar dari ruang ICCU. "Keluarga pasien!" panggil sang Dokter.
"Saya suaminya Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Anton wajahnya amat serius.
__ADS_1
"Istri bapak selamat sekarang masih dalam keadaan koma, sedangkan anak bapak keduanya perempuan tapi maaf kami tak bisa menyelamatkan salah satu anak tuan."
Yukita berteriak ia menangis sejadi-jadinya lantaran salah satu cucunya tiada karena salah menantunya yang gila, "Mama...," ucap Anton berusaha mendekati mertuanya.
"Jangan sentuh aku!!" maki Yukita. "Kau!! ini semua salahmu!! salahmu dan wanita sundalmu itu!!" tunjuk Yukita sambil menunjuk pada Anton tanda marah dan kecewa.
Tak lama Clara datang, "Anton mama ke sini karena mendengar Risma terbentur meja," ucap Clara dengan panik.
"Kau!!" maki Yukita berjalan mendekati Clara kemudian juga tak segan memaki wanita Italia itu.
"Karena putramu, anakku menjadi korban!! dan karena putramu salah satu cucuku pergi ke akhirat!!! ini salahmu!! ini salah putramu dan wanita sundalnya itu!!" Yukita marah sambil mendorong-dorong tubuh Clara.
"Obasan tolong berhenti!!" kata Hisako berusaha melerai.
Clara hanya diam tanda ia tahu amarah seorang ibu jika anaknya tersakiti, "Anton mama sama papa ingin bicara mari keluar!" ucap Panji ayahnya Anton.
Ayahnya Anton adalah pria jawa asli sedangkan ibunya adalah wanita Italia. "Aku harus membalaskan rasa sakit putriku!" Yukita dengan gelap mata dan hati.
"Nyonya apa ingin anda lakukan?" tanya Hanna yang amat takut jika seorang Yakuza sudah bertindak maka akan tahu akibatnya, seperti kasus Junko Fruta yang hampir terkenal di seluruh dunia.
__ADS_1
"Obasan ini negara orang lain tolong jangan---" Hisako berusaha menghentikan bibinya itu.
"Diam," emosi Yukita sambil mengamati tangannya tanda berhenti. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan pada sundal dan laki-laki gila itu." Yukita langsung membuka ponselnya kemudian mengirimi pesan kepada kelompok Yakuza yang ia pimpin.