
Karina sedang asyiknya berenang jam dua belas siang saat matahari sedang terik. Anton juga tak segan menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga kecilnya,pria itu berenang bersama anaknya sedangkan Risma duduk di kursi sambil membaca majalah melihat kedekatan suami dan putrinya.
"Papa pegangin Karin takut," eluh bocah itu yang sepertinya dalam hitungan minggu sudah berusia empat tahun.
"Jangan takut Papa pegangin." Anton terus memandu putrinya yang berada di atas ban renang. Karina dan Anton mulai kembali dekat.
Karina juga sudah melupakan saat Anton mengentaknya, tapi hasil operasi Karina yang baru membuat orangtuanya juga ekstra hati-hati menjaga bocah itu. "Karin kakinya gerakin di bawah ban!" perintah Anton pada putrinya. Risma mengingat betapa keayahan sifat Anton.
Meskipun di matanya Anton tak pernah berubah tapi Risma tetap belajar berdamai dengan keadaan, tak ada gunanya lagi mengungkit akan masalalu, dan yang terjadi biarlah terjadi. Karina terus tersenyum saat bersama ayahnya.
Karina menuruti perintah ayahnya untuk menggerakkan kakinya di bawah ban tak pernah lelah Anton terus memandu putrinya. Anton melihat istrinya yang belakangan ini jadi pendiam mengingat pembicaraan kemarin dengan istrinya tentang ibunya.
Risma membuka majalah dan koran baru yang tadi pagi, betapa terkejutnya ia saat melihat berita yang terpampang di koran tentang El deanon. Pria keturunan Perancis itu rupanya tak ada sudahnya membuat masalah malah di Mumbai ia tak segan menjual narkoba jenis sabu dan heroin.
"Apa-apaan ini?!" batin Risma menatap benci pada berita di koran. "Pria itu tak ada sudahnya membuat masalah di negara orang!" lanjutnya dalam hati. Bahkan di berita juga terpampang jika Yakuza yang di pimpin oleh Yukita Konawa sekarang di pegang kendali El deanon, saat Yukita Konawa bebas barulah wanita itu kembali memimpin Yakuza.
Anton tak fokus melihat istrinya sedang membaca koran dengan wajah yang sepertinya sedang muak, "Karin renangnya udah ya?" ucap Anton pada putrinya. "Yah kenapa Pa?" tanya Karina dengan kecewa. Anton seolah berfikir alasan apa yang cocok untuk di utarakan pada bocah ini.
"Kulit Karina udah item tuh," kata Anton yang menunjukan kulit putrinya yang menjadi belang. Karina mengangguk kemudian Anton ke tepi lalu menaikan tubuh putrinya ke atas permukaan. Risma langsung melihat putrinya sudah selesai berenang.
Risma menaruh korannya lalu berjalan menghampiri putrinya sambil membawa handuk, "Karin udah selesai renangnya?" tanya Risma pada putrinya. "Udah mah." Karina bicara lalu mata Risma tertuju pada Anton yang hanya memakai boxer dan tubuhnya amat sexy.
__ADS_1
Risma segera mengalihkan pandangannya ke arah putrinya, "mama kapan aku punya adik?" tanya Karina. Risma langsung berfikir jika Anton yang menanamkan ideologi ini pada Karina. "Kapan Mah?" tanya bocah itu lagi sambil menguncang pelan tubuh ibunya.
"Karin sebentar lagi punya adik kok, dari tante Lisi."
Risma lalu mengandeng Karina untuk ke kamar mandi dekat dapur agar bisa memandikannya dan mencuci rambutnya. "Yah Mah aku 'kan maunya adik dari mama," dengus Karina kecewa. Anton sedang ada di kamarnya mandi dengan shower dan air hangat dari tombol showernya.
Risma sedang memandikan Karina dengan gayung tapi Karina amat senang karena ada bebek mainan yang di berikan Lisi, saat di pakaikan sabun bebek itu bisa mengeluarkan gelembung. Setelah memandikan Karina Risma memakaikan baju untuk putrinya.
Pertama Risma memakaikan minyak telon, bedak lalu memakaikan kaos lengan pendek dan celana pendek. "Mama kelonin," pinta Karina manja. Risma mengangguk kemudian ia menidurkan Karina terlebih dahulu. Risma mengingat ucapan putrinya yang menginginkan adik darinya.
Tapi masa lalunya yang membuatnya enggan untuk hamil lagi karena masih taruma akan masalalu yang terulang sama. Dirinya melahirkan saat dengan cara operasi pengeluaran janin itulah yang paling mengerikan. Risma tak yakin untuk hamil yang kedua kalinya.
Meskipun ia amat ingin hamil lagi tapi bayangan akan masalalu selalu hadir dalam benaknya. Risma memejamkan matanya mengingat kepedihan saat ia mengandung kedua putrinya, ia belum bisa percaya Anton sepenuhnya meskipun lubuk hatinya sudah ada cinta yang sudah bersemi.
Kojiyama menemui sang ibunya di lapas penjara hanya di batasi kaca. "Waktunya hanya sebentar gunakan dengan baik."
"Hai." Kojiyama bicara dengan ibunya hanya di batasi kaca di antara keduanya.
"Konichiwa Okasan," sapa Kojiyama pada sang ibu.
Yukita Konawa tak bergeming melihat putranya datang karena wanita Jepang itu sudah amat membenci putranya yang berani membelot dan berhianat. "Apa yang kau inginkan?" tanya Yukita Konawa dengan ketus.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu, Okasan."
"Tidak perlu kau melihatku, lebih baik kau pergi saja!" bentak Yukita.
Suara keras Yukita Konawa membuat Polisi memberikan peringatan agar tak berteriak. "Cuih, Dasar anak durhaka, lebih baik kau cepat pulang!" maki Yukita pada putranya.
Kojiyama merasa berdosa pada perbuatannya pasalnya jika ia tak membelot maka akan ada korban lagi, "Okasan! kau tahu apa yang kau lakukan! hampir melukai banyak orang termasuk menantu dan cucumu!" ucap Kojiyama yang sudah tak peduli batasan agar sang ibu mau berubah jauh lebih baik.
"Apa maksudmu?" tanya Yukita Konawa.
"Kau ingat waktu itu peluru yang kau lepaskan malah mengenai Karina!"
Ucapan Kojiyama mampu membuat Yukita diam seribu bahasa dia tak menyangka jika peluru dari pistolnya mengenai cucunya yang selama ini amat ia lindungi, "okasan tolong hentikan sudah cukup banyak korban!"
Kojiyama amat pengertian, tanpa banyak basa-basi Yukita Konawa meminta polisi mengirimnya kembali ke lapas selangkah berjalan air mata wanita Jepang itu mulai membasahi pipinya tanda menyesali perbuatannya.
"Karina maafkan, Obachan." Yukita Konawa membatin dalam hatinya.
Sungguh penyesali berada di akhir tak pernah ada di awal. Kojiyama menarik nafas kemudian ia berdiri dari kursi tak lupa ia mengucapkan terimakasih. Hatinya merasa sakit tatkala sang ibu mengatakan anak durhaka pada dirinya.
Padahal Kojiyama tak ingin ada korban jiwa lagi.
__ADS_1
#BERSAMBUNG