
Siang ini di kediaman keluarga Anjaya masih sibuk mencari Karina yang entah kemana bocah itu bersembunyi, sampai akhinya Mang Adi selaku tukang kebun dan pengurus taman untuk keluarga Anjaya mendapatkan panggilan masuk dari telpon rumah.
"Iya, Halo."
"Nyonya!! Nyonya!!" panggilan dari Mang Adi membuat semuanya ke ruang keluarga.
"Ada apa Mang?" tanya Clara khawatir.
"Ini telpon dari Den Gani yang ada di rumah sakit."
Clara langsung mengambil alih telpon rumah dari tangan pelayannya. "Halo Gani, ada apa Nak?" tanya Clara. "Gani!! di rumah Karina---" belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya, wanita berparas Italia itu langsung terlihat panik mendengar penuturan putranya lewat telpon.
"Apa!!" ucap Clara membuat semua yang ada di situ keheranan.
"Mama ada apa?" tanya Lisi.
"Bagaimana bisa Karina ada di rumah sakit, Gani?" tanya Clara di panggilan telpon.
"What!!" ujar Lisi yang keheranan. "Karina masuk rumah sakit!" lanjut Lisi.
"Ya tuhan, Mama ke sana sekarang Gani!!" ucap Clara mengahiri panggilan telpon.
"Mas ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Clara dengan panik kepada suaminya.
"Memang apa yang terjadi pada cucu kita," ucap Panji.
"Ceritanya nanti saja Mas. Karina sedang ada di UGD," jelas Clara yang buru-buru ke kamar untuk memakai kardigan rajutnya.
"Yaudah saya siapkan mobil dulu, Lisi kamu di rumah aja."
"I-iya Pa," patuh Lisi.
Pasangan suami istri Anjaya itu segera ke rumah sakit dengan Panji yang menyetir mobilnya, "ya allah selamatkan cucuku!" ucap Clara dengan panik.
"Bagaimana bisa Karina bisa di rumah sakit." Panji bicara pada istrinya.
"Gani yang tahu semua kronologi kejadiannya, Mas."
Panji amat heran bagaimana mungkin bisa Karina masuk rumah sakit seharusnya Cucunya ada di rumah sekarang, meskipun Panji sudah tahu jika Gani ingin menyelamatkan menantunya agar istrinya tak boleh tahu.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Di rumah sakit Risma terus di tenangkan oleh Amara, hari ini Amara tidak memakai rok atau gaun yang membuatnya nampak elegan seperi biasa. Kali ini wanita itu mengenakan celana bahan warna hitam di padukan blazer warna coklat, rambutnya di gerai menjuntai dengan sedikit ikal di bawahnya.
Risma yang masih mengenakan kebaya dan riasan pengantin, di punggungnya juga ada jas hitam milik suaminya. Anton, Gani dan Kojiyama belum kembali dari tadi. Wanita berparas setengah Jepang itu hanya mengeluarkan tangis tanda khawatir akan keadaan putrinya.
"Astaga Risma!!" ucap Panji selaku ayah mertuanya.
"Papa!! Mama!!" ucap Risma yang berdiri dari kursi tunggu di ikuti oleh Amara.
"Jeng Amara...," ucap Clara. Wanita Italia itu heran bagaimana Risma bisa kemabali di temukan pasti telah terjadi sesuatu.
Amara hanya mengangguk sebagai kode agar semuanya di jelaskan oleh Gani karena Amara saat itu tak tahu kronologi secara jelas kejadiannya, wanita itu datang terakhir. Tak lama tiga pria datang yang sepertinya Anton amat putus asa.
"Mama!" ucap Gani dan Anton.
"Mama ingin penjelasan dari kalian!" ucap tegas Clara yang sepertinya matanya sembab karena menangis.
Gani mengajak ibunya untuk memberikan penjelasan di ikuti Panji di belakanganya, sedangkan Anton memeluk Istrinya agar di tenangkan. Mata Risma juga sembab dan tubuhnya lemas. Anton menyuruh istrinya duduk kembali dengan kepala istrinya menyeder pada bahu sang suami, Anton memejamkan matanya berharap ia tak akan mau melepaskan istrinya ini.
"Kamu mau makan dulu," tawar Anton pada istrinya. Risma mengeleng sebagai jawabanya.
"Yaudah mau minum apa?" tawar Anton sekali lagi.
"Hiks__Anton aku lagi tak ingin apapun." Risma bicara sambil terisak.
"Kamu harus makan Risma, kamu juga belum makan dari kemarin."
"Anton, tolong jangan tawarkan aku apapun sebelum Karina baik-baik saja."
Amara mendapatkan panggilan masuk saat mengecek ponselnya itu dari putrinya, sepertinya ia harus mengakatnya. "Hallo, ada apa Siska?" tanya Amara.
"Oh yaudah Mama ke campus kamu sekarang."
Amara mematikan ponselnya kemudian ia beralih bicara pada keponakan dan menantunya. "Anton, Tante titp Risma."
"Mau kemana Tante?" tanya Anton.
"Ada urusan di campusnya Siska sebentar."
"Iya, Tante."
"Kabarin saya jika operasinya sudah selesai."
"Pasti Tante, hati-hati."
Amara langsung mengambil tas nya lalu pergi berdiri dengan anggun untuk menuju parkiran. Anton menatap istrinya yang terdiam dengan air mata yang terus mengalir menatap ke depan, pria itu membenarkan jasnya di bahu sang istri.
"Semua akan membaik, kita akan pulang dulu."
"Aku gak mau pulang Anton, sebelum Karina sadar!!" ucap Risma dengan airmata.
__ADS_1
"Ada mama sama papa yang akan---" Anton belum selesai dengan kalimatnya tapi sudah di potong cepat oleh istrinya.
"Anton kamu gak pernah ngerti perasaan aku! hiks___gimana rasanya___hiks___pernah kehilangan Kirana___hiks."
Anton yang tak ingin mengungkit luka lama menyudahi ucapan istrinya. "Iya, kita di rumah sakit sampai Karina sadar." Anton bicara lalu kembali mengecup kepala istrinya agar sedikit lebih tenang.
*
*
*
Dokter keluar dari ruangan UGD Risma paling ingin tahu keadaan putrinya. "bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Risma. "Mari Bapak ama Ibu ke ruangan saya."
Risma dan Anton ke ruangan dokter itu duduk di depan kursi yang di batasi satu meja besar. "Keadaan putri bapak dan ibu sangat kritis, Tetapi kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dalam tubuhnya."
"Langsung ke intinya saja Dokter," ucap Anton.
"Begini kondisi tubuhnya masih kritis karena satu peluru yang langsung mengenai perutnya, butuh waktu lama untuk pulih. Tapi tuhan masih menyelamatkan nyawanya sangat jarang sekali yang bisa selamat jika peluru sudah mengenai bagian perut."
"Baik terimakasih, Dokter." Anton menyalami dokter itu.
Dokter menjelaskan semua soal Karina, setelah selesai menjelaskan Risma keluar ruangan sang Dokter. "Kamu tenang aja sayang, Karina akan sadar dan membaik." Anton merangkul pundak istrinya lalu mengecupnya. Tak peduli akan tatapan mata orang-orang.
Saat berjalan menuju depan ruang UGD ada Clara yang menghampiri menantunya. "Risma!!" ucap Clara mendekat dengan khawatir akan keadaan menantunya. "Mama...," ujar Risma dengan lirih kemudian memeluk mertuanya.
"Aku mau lihat Karina," ucap Risma.
Panji memberi instruksi pada Anton untuk mengikuti istrinya, Risma dan Anton masuk ke dalam UGD dengan menggunakan pakaian khusus dan masker. Hati Risma teriris dan merasakan pilu yang amat mendera saat melihat putrinya sekarat dengan selang bantu bernafas.
Anton juga amat menyesal karena dirinya semuanya terjadi, dia yang mulai main api dan sekarang imbasnya kepada anak dan istrinya. Risma melakukan kesalahan dengan kembali dengan Anton, tapi dirinya harus kembali dengan Anton karena ia tak ingin Karina bernasib sama sepertinya dulu.
Anton terus mendekap istrinya yang melihat putrinya terbaring dengan beberapa selang sebagai alat bantu hidup. Anton juga mengeluarkan air mata tatkala semuanya telah terjadi, hatinya tersa sakit tatkala istri dan anaknya menjadi korban yang sesungguhnya.
"Risma tenang, sayang." Anton terus mendekap Risma.
Risma tak sanggup melihat putrinya menderita seperti ini, nafasnya tiba-tiba sakit, kepalanya menjadi pening seketika tubuhnya tumbang. Anton dengan panik membawa Risma keluar untuk di sadarkan. "Sayang bangun!! Risma!"
Clara bingung ia juga tak membawa minyak kayu putih untuk menyadarkan menantunya yang pingsan. "Anton sebaiknya kamu bawa pulang dulu istri kamu," ucap Panji.
"Iya, Nak. Biar Karina Mama sama Papa yang jagain."
Maksud Risma di bawa pulang agar di bersihkan terlebih dahulu, karena keadaannya sudah lusuh dan masih mengenakan riasan pengantin. Agar tak nambah masalah lagi.
Anton mengangguk karena ucapan orang tua ada benarnya juga agar istrinya di bersihkan, segera setelahnya pria berusia 35 tahun itu membopong istrinya ke dalam mobil untuk pulang ke rumah. Risma pingsan masih mengenakan riasan pengantin dan kebaya putih yang mulai lusuh.
"Sayang tenang, kita akan sampai rumah." Anton sampai di parkiran ia menaruh Risma di sampingnya dan ia menyetir mobilnya.
Sedikit penjelasan biar gak bingung maksud orang tua Anton agar membawa Risma pulang agar di bersihkan dulu, diganti bajunya, Karena keadaan Risma.
#BERSAMBUNG
__ADS_1
-
-