
Sinar matahari masuk ke dalam celah jendela yang di tralis membuat Risma mengedipkan mata membuka matanya ia tertidur di lantai gudang, tubuhnya seolah tak memiliki tenaga karena belum makan dari kemarin. Tubuh wanita 23 tahun itu masih terbalut kebaya dan riasan pengantin.
Yukita Konawa sengaja tak memberikan makan pada putrinya agar Risma tak memiliki energi apalagi untuk memberontak. Memang wanita itu tak punya hati nurani bahkan putrinya sendiri di perlakukan selayaknya tahanan.
Wajah Risma pucat meski di balik polesan makeup yang sudah sedikit luntur dari wajahnya, dia melihat sebuah cahaya di depan tak lama ada seorang anak kecil yang mirip Karina berusia 5 tahun untuk mengajaknya pergi. Anak itu bersipuh sambil menyentuh tangan Risma.
"Mama___ayo ikut sama aku," ajak anak itu.
Di sisi lain Risma masih memikirkan Karina bukan berarti ia tak menyangi putrinya yang lain yaitu Kirana. Risma dengan lemas menyentuh wajah putrinya yang amat ia rindukan.
*
*
*
*
*
*
*
Kojiyama tergesa-gesa menuju kediaman Anton, saat memarkirkan mobilnya ia amat terkejut melihat pemandangan yang ia lihat di depannya. Andria dan Axel berusaha menghentikan Anton untuk minum yang memabukan. "Kak Anton!! aku ama Gani udah nemu dimana posisi Kak Risma!!"
Seketika Anton langsung mematung dan berhenti minum, Andria dan Axel membantu Anton mempersiapkan diri. Kojiyama menyuruh para Bodyguard memasuki mobil di setiap pasukan membawa pistol atau senjata api. Axel juga menelpon bodyguardnya karena keluarga Herguez juga memiliki kekayaan yang tak ternilai.
Anton yang masih sedikit mabuk tidak mengemudikan mobilnya, jadi yang menyetir adalah Andria yang satu mobil dengannya. "Hallo." Kojiyama menelpon Gani.
"Iya aku udah searchlock posisi Kakakku." Setelah itu Kojiyama mematikan ponselnya dan menaruhnya ke dalam sakunya lalu fokus untuk menyetir mobilnya.
&
&
&
&
&
&
Pagi ini di kediaman keluarga Anjaya Clara sedang di dapur di ikuti Karina yang meminum susu. Lisa dan Lisi juga sudah bangun, kali ini Lisi harus belajar dewasa karena ia sedang mengandung meskipun tanpa seorang suami tapi ia akan berusaha kuat seperti kakak iparnya.
Karina yang sedang minum susu di dapur melihat Lisa memakan roti coklat dan coklat batangan, Karina yang menjadi cerewet dan aktif berani mengkritik bibinya itu. "Tante Lisa inget rok tante waktu itu udah sempit, katanya mau diet." Seketika Lisa tersendak.
"Memang makanan manis itu seperti narkoba ya? nikmat tapi membunuh." Karina bicara seolah ia tahu apa itu narkoba dengan mulut lemesnya.
__ADS_1
Karina yang semakin hari semakin pintar karena dirinya dulu pernah menguping saat neneknya yaitu Yukita Konawa ingin menyeludukan atau menjual narkoba jenis ganja dan suntikan. Lisa langsung berhenti makan.
"Mah aku udah," ucap Lisa berhenti lalu meminum susunya.
"Loh kok udah? makan dulu jangan takut gendut." Clara setengah tertawa juga para pembantu dan Lisi saudari kembarnya juga ikut tertawa. "Udah mah, hari ini Lisa mau berangkat ke Jogja." Clara ingat waktu itu putrinya bicara soal ingin mengembangkan bisnis salonnya ke seluruh kota di pulau Jawa.
"Asallamualaikum."
"Walaikumsallam."
Lisa yang terburu-buru sampai tak memperhatikan jalan lalu terjatuh karena tak melihat jika ada 4 anak tangga yang ia pijak jadi terjatuh, hal itu membuat semuanya tertawa. Lisa dengan rasa malu jalan sambil memegang pantatnya. Di mobil saat temannya menanyakan hal itu.
"Lu kenapa encok?" tanya temannya melihat Lisa masuk ke mobil sambil berjalan memegang bokongnya.
"Gua apes pagi-pagi," adu Lisa.
"Kenapa sih?"
"Gua pagi-pagi di komentarin ama ponakan gua yang bocah, terus gua pake acara jatoh."
Seketika teman-temannya Lisa yang ada di mobil tertawa keras lantaran kejadian yang di alami temannya. "Jahat lu pada ketawain gua." Lisa dengan dramatisnya pura-pura sedih.
"Eh lu temen lagi susah malah ketawa gak ada ahlak pada," ucap temannya Lisa.
Akhirnya mereka jalan untuk menuju kota Jogja agar bisa mengembangkan bisnisnya.
Di dapur Karina membaca buku resep makanan dari seluruh dunia, Lisi mengajari keponakannya membaca. "Ini di eja b-a-w-a-n-g. Jadi bawang," ucap Lisa pada Karina. Tak lama Karina turun dari kursi meja makan menuju salha satu pelayan muda.
"Mbak Nita ayo main petak umpet," ajak Karina sambil membawa bonekanya.
"Mbak lagi kerja, gimana kalo Karin main ama tante aja." Lisi bicara.
"Udah ora papa saya akan main ama Nona muda, lagian nyiapin sarapannya udah selesai kok."
"Tante Lisi juga ikut main," ajak Karina sambil menarik tangan Bibinya itu.
Lisi tersenyum sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit, "ayo!"
Clara tersenyum melihat kehangatan keluarganya ia amat senang tatkala sebentar lagi akan menambah satu cucu dari Lisi, dan untuk Karina juga tak lupa di berikan kasih sayang. "Hompimpa alaiyum gambreng."
"Mbak Nita jaga, jadi Mbak Nita nanti cari aku ama Tante Lisi ya."
"Iya, Nona cantik."
"Mbak Nita hitung sampai berapa?" tanya wanita muda lebih setahun dari Lisa dan Lisi.
"Emmmm, se-sepuluh." Karina menunjukan dengan jarinya yang berjumlah sepuluh.
"Yaudah ayo ngumpet tapi, Mbak Nita gak boleh curang." Karina menunjuk dengan jari telunjuk kecilnya yang mungil seolah ia adalah orang dewasa yang membuat para pelayan di rumah itu gemas melihat tingkah dan wajahnya.
__ADS_1
"Yowiss, Mbak itung ampe 10." Saat itu mereka mencari tempat persembunyian Lisi bersembunyi di kamarnya sedangkan Karina bingung ingin bersembunyi dimana.
"Aduh ngumpet dimana ya, udah itungan ke-6 lagi." Seketika matanya melihat ke garasi dan bagian belakang mobil terbuka kemudian ia bersembunyi di tumpukan barang-barang yang terletak di bagasi mobil.
"Yes, pasti Mbak Nita gak akan nemuin aku. hihihi." Karina tertawa kecil.
Lisi ketemu sedangkan Karina tidak, tak lama Mang Adi salah satu tukang kebun yang mengurus taman dan membersihkan bagian halaman rumah keluarga Anjaya dan kepercayaan Gani menutup bagasi mobil itu. "Den Gani semua udah siap." Gani udah siap dengan setelan jas ia akan menyusul Kojiyama dan Kakaknya.
"Makasih ya Mang, nanti kasih tahu Mama saya lagi ke kantor aja, bohong demi kebaikan 'kan gak dosa. Takut Mama khawatir." Jeda "Mama 'kan orangnya Paranoid."
"Siap Den Gani, perintah akan saya laksanakan."
"Makasih Mang, bisa di ajak kerja sama."
Setelah itu Gani pergi mengendarai mobilnya yang ia tak sadar jika juga ada Karina berada di mobil yang ia kendarai itu.
"Halo Kak Anton, gua lagi di jalan lu duluan aja." Gani sedang menelpon, Karina heran sepertinya mobilnya berjalan sampai bocah itu mendengar sesuatu soal sangkut-paut ibunya. "Iya kita bakal nyelametin Kak Risma," ucap Gani.
"Om Gani, mau nyelametin Mama. Emang mama kenapa ya?" batin Karina yang bersembunyi di belakang mobil.
*
*
*
*
*
*
Di rumah keluarga Anjaya Nita dan Lisi tak menemukan Karina yang sudah di periksa seluruh rumah. "Gimana apa kalian sudah menemukan Karina?" tanya Clara. "Saya udah coba meriksa di taman belakang gak ada Nyonya," ujar Nita.
"Aku juga Mah udah meriksa halaman depan juga gak ada."
"Aduh gusti kemana cucuku." Clara amat panik.
"Yaudah Mah coba kita cari lagi." Lisi
"Karina kamu dimana sayang," kata Clara.
"Karina Tante punya coklat, kita mainnya udahan." Lisi bicara pada keponakannya itu.
"Iya Karina ayo keluar sayang," ucap Clara.
Tapi mereka tak sadar yang sebenarnya dimana keberadaan Karina.
#### BERSAMBUNG
__ADS_1
-