Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 101


__ADS_3

Risma mulai pulih ia mulai bisa terduduk dengan di bantu Anton juga Kojiyama. Wanita itu sekarang sudah di ruang VVIP dengan fasilitas yang memadai, “Kak lu udah sehat lagi?” tanya Gani.


“Iya mending tapi masih lemes,” jawab Risma dengan suara serak dan bibir yang pucat. Risma yang berusia hampir 25 tahun itu sudah memiliki dua orang anak, tapi wajahnya masih awet muda.


“Sebentar!” Risma memegang perutnya lalu mulai panik, “Koji anakku?!” tanya Risma sambil menyentuh tangan adiknya. “Dimana anakku?!” tanya Risma panik menatap Anton sang suami hanya bisa menenangkan istrinya itu.


“Sayang tenang, anak kita baik-baik saja.” Anton memeluk istrinya agar bisa tenang. “Dimana bayi kita Anton?” tanya Risma di dalam pelukan Anton dengan panik, “Bayi kita di ruang NICCU. Kita memiliki putra sekarang!” ucap Anton antusias.


“Aku ingin menemui putraku!” tekad Risma.


“Sebentar sayang aku akan minta tolong perawat untuk bawa bayi kita ke sini,” ujar Anton. Adiknya Anton bernama Gani langsung memencet tombol dan meminta perawat membawa bayinya kesini.


“Bang lu mau ngopi kagak?” tawar Gani dengan santai.


“Kagak gua sekarang anti kopi, gua mau ikut istri gua jadi orang Jepang selalu minum teh.” Anton bicara seolah menyindir adiknya yang belum juga menikah. “Lu nyindir gua Bang!!” maki Gani.


“Nyindir apa!! Gua mau hidup sehat ala orang Jepang,” ucap Gani.


“Udah mulai fanatik lu ama istri lu,” ucap Gani sambil mengaduk kopi.


“Sirik lu!” sindir Anton dengan singkat.


Kojiyama dan Risma hanya bisa diam melihat kakak dan adik ini terus berdebat soal kopi dan sindiran tak masuk akal, setelah antara Anton dan Gani saling sindir perawat datang membawa Antonio.


“Bu Risma! Pak Anton! Ini bayi kalian, sebentar saya data dulu ya.” Bidan itu mendata dengan menulis di papan tatakan berisi kertas-kertas, “kalo gitu kami permisi.” Bidan itu bicara setelah di angguki dan di jawab oleh Risma Bidan itu keluar bersama tiga orang perawat.


Risma mencium dan memeluk putranya di samping Anton juga menyentuh putranya, “dia mirip denganku matanya bulat.” Anton mencium wajah putranya, Risma hanya bisa tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di pelukan Anton sambil memeluk putranya.



“Allah sangat baik memberiku kesempatan untuk menjadi ayah lagi, Allah mengambil putri kita dan menggantinya dengan seorang putra.” Anton berdiri memeluk istrinya yang terduduk di brankar rumah sakit sambil mengendong bayi mereka.


Anton menyentuh telapak tangan kiri istrinya untuk di kecup lalu menaruhnya di dadanya dan tangan kanannya mengendong Antonio, “siapa nama bayi kita Anton?” tanya Risma.


Anton menjawab dengan mengambil alih bayinya untuk di peluk, “Antonio Okinawa Anjaya.” Anton bicara pada istrinya.


“Okinawa?” ucap Gani, Kojiyama, dan Risma membeo.

__ADS_1


“Iya karena ibumu lahir di Okinawa, Jepang.” Gani dan Kojiyama heran lantaran Yukita Konawa sudah sangat membencinya tapi Anton selaku menantunya tetap menghormati ibu mertuanya itu.


Risma melihat gelang warna biru yang di kenakan oleh putranya hanya tertulis nama Antonio di sana, saat ingin di masukan ke ruang NICCU salah satu suster bertanya menghampirinya.


“Pak Anton apa anda suami pasien?” tanya Perawat.


“Iya, suster.”


“Siapa nama bayi anda, kami ingin memasukannya ke ruang NICCU?” tanya suster. Clara, Panji, Amara, Kojiyama, Gani dan Anton berpikir mereka belum menyiapkan nama untuk anak Risma karena masalah mereka yang datang bertubi-tubi.


“Antonio!” ucap Anton dengan lantang karena nama itu yang sudah di diskusikan oleh istrinya.


“Baik, terimakasih Tuan Anjaya.” Perawat menulis nama di gelang warna biru dengan nama Antonio agar bisa di pasangkan di tangan bayi keluarga Anjaya.


Risma yang sedang mendengar cerita suaminya menjadi terbawa suasana tanpa sadar putranya menangis. “Oek! Oek! Oek!” tangis bayi Risma.


Anton menarik adik dan adik iparnya keluar ruangan karena mereka sudah di beri kode oleh Risma untuk keluar, “apaan sih kakak ipar mata lu belekan!” ujar Gani. “Udah lu ke berdua keluar dulu sebentar!” maki Anton pada dua adiknya.


“Kalo kagak lu mau apa Bang?” tantang Gani dengan santai meminum yogurt, “gua bakal penggal! Terus gua kasih makan sapi!” ancam Anton. Masa lalu gani dengan sapi sangat mengerikan dengan buru-buru mereka keluar, Gani menarik tangan Kojiyama.


Risma sekali lagi memeluk bayi Antonio Okinawa Anjaya. Risma memeluk putranya dengan sangat erat tak di hiraukan pinggang dan punggungnya masih sakit yang ia inginkan hanya anak-anaknya.


Anton berdiri sambil memeluk anak dan istrinya ia menarik nafas panjang lantaran ini cukup berat setelah semua yang mereka lalui akhirnya keluarga itu dapat menempuh kebahagiaan.


SATU TAHUN KEMUDIAN.


Siska mengendong bayinya hasil buah cintanya dengan Emmanuel meskipun terlahir dari bayi surogasi, bayi itu berambut hitam dan berwajah seperti Siska tetapi kulitnya putih seperti Emmanuel layaknya orang Perancis.


“Kamu ingin kasih nama siapa, Nak?” tanya Salsa yang masih lemah di bantu duduk oleh Risma, sedangkan Antonio sedang di gendong oleh Clare yang amat menunggu cucunya.


“Kenzo Marseille,” ujar Siska.


“Aku memberi nama kota Marseille karena cintaku dengan Emmanuel tumbuh di sana biarkan aku memberi nama putraku dengan nama kota itu.”


Amara hanya bisa tersenyum ia tak bisa berbuat apapun lagi karena cinta pertama putrinya adalah cinta yang tak mudah di lupakan begitu saja sama seperti apa yang dia rasakan, di tambah Siska masih Sembilan belas tahun tergolong masih muda.


“Sini biar mama tidurkan anakmu,” ucap Amara pada putrinya.

__ADS_1


Siska memberikan Kenzo pada Ibunya, untuk Salsa ia sudah bekerja dan memilih tinggal di rumah susun dengan biaya yang murah, meskipun begitu ia akan mulai hidup dalam kesederhanaan.


“Mama Adam curang lagi main!!” teriak Medina pada ibunya.


“Adam!!” tegur Salsa.


Amna dan Karina sudah mulai bimbingan belajar dengan mendatangkan guru entah mengapa jika anak perempuan sangat mudah menerima pelajaran di bandingkan dengan anak laki-laki yang cenderung lebih suka bermain ketimbang belajar.


Tak lama Clare datang sambil membawa cucunya ke hadapan menantunya. “Sayang sepertinya Antonio meminta di susui ia sangat mengantuk, tapi sudah mama mandikan dan jemur.”


Antonio langsung memeluk ibunya bayi kecil itu terasa nyaman tatkala Risma memeluknya lalu menaiki tangga untuk menyusui Antonio kecil, ia menidurkan Antonio di kamarnya dengan Anton.


“Mama!! Aku udah selesai Bimba!! Mana adek!!” jerit karena kegirangan saat ingin di sentuh Antonio malah menangis.


“Aduh Kak Karina!!” ujar Risma lalu berdiri sambil menenangkan Antonio.


“Karin makan dulu sana ada Bi iddah ama Bu Nita.”



Karina langsung ke dapur untuk makan, tak lama Anton masuk ia mengenakan kemeja biru terang dan celana panjang hitam dengan dasi longgar, lengan di gulung sampai siku dan jas hitam di satu lengannya.


“Kamu udah pulang?!” tanya Risma.


“Aduh Anton maafkan aku! Aku lupa menyuruh Nita menyiapkan makanan hanya untuk Karina dan para wanita yang bertadang ke rumah ini.” Ucap Risma yang belakangan ini amat sibuk dengan Antonio yang sering rewel.


“Gak masalah kamu juga sibuk semalaman mengurusi Antonio,” ucap pria berparas setengah Italia itu.


“Tapi kamu lembur dua hari di kantor, dan kamu juga ngurusin bisnis Papa di Malang gimana kamu bisa makan?” tanya Risma.


“Tadi sebelum pulang makan dulu,” jawab Anton mengambil handuk lalu masuk kamar mandi.


“Yaudah aku mau mandi dulu, gerah banget.”


Risma hanya mengangguk sambil mengendong Antonio, tak lama Antonio menangis lagi, “oek! Oek!” tangis bayi malang itu. “Aduh sayang kamu minta apa sih?” kata Risma sambil memeluk putranya lalu membawanya turun untuk ke taman belakang.


#BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2