Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 55


__ADS_3

Risma terbangun di ranjang yang terasa empuk dan nyaman, matanya mengerjap berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk mengedipkannya berulang kali. Risma menoleh ke belakang ternyata Anton tidur membelakanginya tak lupa tangan besar Anton melingkar di pinggang ramping milik Risma.


Wanita berusia 23 tahun itu melihat tubuhnya ternyata ia sudah di gantikan pakaian dengan gaun tidur berbahan satin tipis warna merah, badannya terasa bugar. Risma pelan-pelan melepaskan tangan Anton yang besar yang melilit di pinggangnya.


Risma menatap ke cermin ia melihat makeup dan semua riasan pengantin yang ada di tubuhnya sudah di hapus. Ya ampun jangan-jangan dirinya melakukan____itu bersama Anton saat dirinya pingsan, tapi apa mungkin jika bukan Anton siapa lagi yang menganti bajunya.


Anton terbangun ia melihat istrinya melamun di depan cermin tatapannya kosong seolah wanita muda itu memikirkan sesuatu, pria berparas Italia itu tercetus ide untuk mengerjai istrinya di pagi hari. Secara diam-diam Anton berdiri dari ranjang.


"Jangan mulai Anton!" peringat Risma saat itu ia menyadari.


"Oh, oke. Saya mau ke kamar mandi."


Anton langsung ke kamar mandi Risma menghembuskan nafas lelah ia menghentikan Anton. "Anton!" panggil Risma yang membuat pria itu menoleh. "Ada apa, sayang?" tanya Anton.


"Siapa yang mengantikan bajuku?" tanya Risma menatap Anton penuh selidik.


Anton tersenyum ia mendekat sambil berjalan, tentu Risma mundur selangkah demi selangkah. "Apa yang terjadi? kenapa saya bisa di rumah?" tanya Risma. "Kamu mau tahu!" ucap Anton.


Risma mundur sampai ke sofa di kamar Anton. "Kamu semalam pingsan, saya bawa kamu pulang." Anton berjalan selangkah dan Risma mundur dua langkah. "Lalu siapa yang menganti pakaianku, dan menghapus riasan---" belum sempat Risma menyelesaikan kalimatnya Anton berhasil menarik tangan Risma.


"Pakaianmu di ganti oleh Bi Iddah," jelas Anton yang di dadanya sudah menempel tubuh Risma yang kecil tapi padat. "Tapi kita semalam___gak ngelakuin aduk adonan 'kan?" tanya Risma yang tubuhnya sudah menempel dengan sang suami.


Anton malah mencium bibir istrinya Risma yang polos hanya mengikuti saja. Setelah merenggut manisnya surgawi dari bibir sang istri Anton mengusapnya pelan sambil membelai pipi istri mudanya ia bicara. "Aku tak akan melakukan kebodohan yang sama," jelas Anton pada sang istri.


"Maksud kamu?" tanya Risma yang polos yang tak mengerti maksud sang suami. Anton tertawa kecil tatkala istrinya amat polos. "Apa yang lucu, Om?" tanya Risma kesal. "Maksudnya saya gak mungkin ngelakuin pengeboran saat kamu lagi gak sadar," kata Anton.


"Saya mau kamu juga menikmatinya," lanjutnya dengan mengeratkan tubuh istrinya di depan tubuhnya. Anton merasakan tubuh istri kecilnya amat padat apalagi dua gunung kembar yang belum pernah di sentuhnya, pria itu semalaman dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tak menyentuh istri kecilnya ini.


"Anton lepas! aku merasa tak nyaman," keluh Risma.


Anton melepaskan pelukannya, "aku mau mandi dan nyiapin sarapan. Kamu ke kantor sedangkan aku ke rumah sakit buat lihat anak kita." Anton tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan melihat istrinya yang sudah kembali. Saat Risma ingin melangkah sambil membenarkan gaunnya.


Tubuhnya merasa melayang dia sadar ternyata Anton membopong tubuhnya, sontak kedua tangan Risma mengalung pada leher suaminya. Anton menciumi area leher istrinya lalu menidurkannya kembali dia atas ranjang dan___melakukan ibadah.


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


Kojiyama ke kantor polisi bersama sepupunya Hisako. Kasihan Kojiyama yang harus terus-menerus menyelesaikan masalah ibunya, Hisako kali ini bersama Andria. Kojiyama amat setuju bila Hisako bersama Andria meskipun pria itu tak memiliki kekayaan seperti Anton atau Axel.


"Gua tahu Kojiyama, tapi maaf gua---" ucapan Andria terhenti tatkala Kojiyama bicara dengannya.


"Mr. Gilbert sebaiknya kamu tak usah terlalu jauh masuk ke dalam masalah keluarga Konawa mengingat anda bukan siapa-siapa, aku khawatir akan nyawa anda." Kojiyama bicara secara halus.


"Gua tahu tapi___gua ngelakuin ini semua agar bisa dapet restu dari ibu lu." Andria bicara.


Kojiyama mendekat kemudian tersenyum sambil menepuk pundak Andria. "Kalian akan menikah," ucap Kojiyama lalu masuk ke kantor polisi untuk menyelesaikan perihal masalah Yukita Konawa.


-


-


-


-


Di rumah sakit Siska ingin menjenguk keponakannya sambil membawa boneka dan coklat tanpa sengaja melihat Gani tatapan keduanya ada aura permusuhan. "Eh ada bocah." Gani meledek. "Eh iya Om, jomblo." Siska juga tak mau kalah.


"Ngapain lu ke sini?" tanya Gani berdiri.


"Gua kesini mau Dinner ama suster ngesot." JEDA "udah tahu mau nengok keponakan gua, sok basa-basi."


"Siska!" tatapan Gani nampak___mesum.


"Lu tahu 'kan nyokap dan bokap lagi gak ada...," ucap Gani mendekat.


"Te-terus." Siska tergagap tatkala Gani mendekat dengan tatapan seperti itu.


"Ya lu tahu gua bakal---"


"Stop! lu pikir gua mau di gituin ama lu dan----AAAA!"  Siska berteriak saat Gani menarik tangannya untuk mendekat yang membuat Gani membekap mulut gadis yang berusia 18 tahun itu.


"Eh Toa lu gede banget!" ucap Gani sambil membekap mulut Siska. "Ini rumah sakit!! bukannya tempat adu suara jelek lu."


Posisi Siska punggungya bersandar di tembok dengan Gani yang membekap mulutnya di depan ruang UGD, sampai mata keduanya beradu pandang. Siska yang kesal dan tak mau ia di hipnotis oleh bule yang satu ini, malah tangan Siska mencubit pinggang Gani.


"AAAAGH!!" Teriak Gani.


Siska berhasil melepaskan diri. "Dasar Om bule tukang Modus, mesum, dan kuno. UEK," ucap Siska yang malah langsung masuk ruang UGD meninggalkan Gani yang masih meringis kesakitan di pinggangnya.


"Eh bocah awas aja lu!! keluar gua terkam lu!!" ucap Gani sambil memegang pinggangnya.


Seulas senyum terbit di bibir Gani tatkala ketemu bocah yang menyebalkan itu dari tingkahnya sudah terlihat ia amat pecicilan. "Sial banget gua, kena coba harus ketemu ama tuh bocah!" batin Gani.

__ADS_1


Di ruang UGD Siska menatap tubuh keponakannya yang terbaring dengan selang infus dan berbagai alat bantu hidup. "Astaga Karina___kamu bangun dong." Jeda "liat nih, Kak Siska bawain coklat sama boneka." Siska mengeluarkan airmata tatkala melihat keponakan yang sudah seperti saudari terbaring tak berdaya.


Siska mengenggam tangan keponakannya. "Kamu terlalu manis dan imut buat jadi korban tuh Mak lampir." Siska mengatakan itu yang dimaksudnya adalah Yukita Konawa. Siska berusaha mengenggam tangan adik keponakannya yang terbebas dari infus.


"### Bangun Karina, nanti kalo Karin udah bangun dan sadar akan Kak Siska ajak ke tempat madu." Siska tak tega harus merasakan derita yang di alami anak kecil tak berdosa seperti Karina, ia terisak pilu melihat ini semua.


-


-


-


Risma merasakan pegal pada setiap anggota tubuhnya ia sadar tak memakai busana begitu juga dengan Anton, Risma menghembuskan nafas lelah ia mengambil ponselnya di nakas dan melihat jam hampir jam 12 siang. Sontak Risma langsung ke kamar mandi tanpa peduli ia tak memakai busana.


Risma mandi dengan shower ia memajamkan matanya ini pertama kalinya Anton menyentuhnya secara halus berbeda saat pertama kali Anton menyentuhnya di hotel. saat sudah selesai dengan mandinya ia memilih baju di lemari.


Anton mengedipkan matanya melihat istrinya yang sudah selesai mandi saat membuka handuk yang di kenakannya, Anton melihat lekuk tubuh dari istrinya aroma parfum yang beraroma bedak sangan bergairah. Setelah berpakaian Risma ke meja Rias ia melihat lehernya di penuhi bekas kissmark hasil karya Anton.


"Anton ini---"


"Saya mau mandi ada meeting di kantor." Anton langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Dasar tak ada tanggung jawab," ucap Risma yang melihat leher sampai punggung penuh dengan hasil karya Anton.


Risma menghembuskan nafas lelah tatkala dirinya harus ke rumah sakit untuk melihat keadaan putrinya ia mencari apapun yang ada di meja rias agar menutupi semua karya yang dibuat oleh suaminya, concelar, foundation, atau semacam als bedak. Sungguh gila Anton meminta itu semua tanpa henti membuat area bawahnya sakit.


"Nyonya!"


"I-iya, Bi iddah ya." Risma mebuka pintu kamar yang di kunci.


"Masakannya udah mau dingin apa mau di hangatkan lagi?" tawar Bi idah sang kepala pelayan.


"I-iya," ucap Risma yang masih canggung.


Bi idah mengangguk untuk turun ke bawah menuju dapur untuk menghangatkan masakannya. Anton keluar dari kamar mandi pria itu mengenakan baju formalnya, Risma menarik nafas ia memakai celana panjang jeans dengan atasan tunik di penuhi pita.


"Anton...," ucap Risma dengan lirih,


Risma memakaikan dasi yang di kenakan Anton kali ini pria itu ke girangan tatkala istrinya ingin memakaikannya dasi merah, "aku akan mengurus dapur." Risma bicara pada sang suami.


"Tidak perlu kau fokus saja pada Karina dan anak kita nanti."


Risma ingin ia yang mengurus dapur ssambil bermain bersama Karina di dapur, Risma juga tak melarang Karina bicara akrab dengan para pelayan di rumah.  "Kita ke rumah sakit sekarang," ajak Anton. "Kita makan dulu kasian Bi idah." Risma menggamit lengan sang suami untuk menuju lantai bawah.


Gadis berparas setengah Jepang itu masih amat canggung jika membuka hati sepenuhnya untuk Anton karena mengingat masa lalunya, bagaimana jika suaminya tahu jika Fera dan Salsa sedang menjadi tahanan Ibunya lalu di bebaskan pasti Anton akan kembali membencinya.


Pikiran buruk tentang Anton terus memutari otak Risma tetapi berbeda akan hatinya yang mengatakan harus percaya akan cinta Anton, dia tak bersalah yang bersalah disini hanya Hisako dan ibunya.

__ADS_1


#### BERSAMBUNG


-


__ADS_2