Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 99


__ADS_3

Risma sedang berada di sebuah awan dengan background putih dan senja, tubuhnya mengenakan baju putih yang sangat indah. Tiba-tiba di belakangnya ada suara yang memanggilnya.


“Risma!” suara laki-laki yang seperti ia kenal dan sangat ia rindukan.


“Mama!” di barengi suara dua orang anak kecil.


Risma menoleh ke belakang, ia tersenyum dan melihat semuanya. “Ayah! Kirana!” ujar Risma dengan tetesan air mata lalu memeluk keduanya, ia heran tatkala di tangan ayahnya mengandeng seorang anak kecil tampan dengan usia seperti Kirana.


“Siapa dia ayah?” tanya Risma.


“Putramu dan Anton,” jelasnya.


Risma langsung menyamakan tinggi anak laki-laki itu lalu menciuminya dari kepala dan seluruh wajahnya, “jangan menangis Nak.” Ayahnya memeluk putrinya, “sekarang kamu harus mulai hidup barumu bersama suamimu. Bawa anak laki-laki ini dan biarkan Kirana bersamaku,” ucap ayahnya Risma.


“Tapi kemana aku harus pergi?” tanya Risma menatap ayahnya.


“Lewati jalan itu,” tunjuk ayahnya.


Risma mengandeng tangan anak laki-laki itu tapi rasanya saat ingin melangkah kakinya berat seperti di ikat ke batu besar, demi mempercepat langkahnya Risma mengendong anak laki-laki itu.


“Ikut sama ibu ya, Nak!” ucap Risma mengendong anak laki-laki itu lalu memeluknya kepalanya di leher seolah memberikannya kenyamanan.


Sesaat melewati cahaya yang menyilaukan itu Risma terbatuk-batuk dan sadar dari koma, ia membuka matanya perlahan dan pendengarannya juga matanya melihat anaknya sedang di tepuk-tepuk oleh para Bidan agar bisa menangis.


Karena kepalanya pusing Risma memejamkan kembali matanya ia hanya mendengar para Perawat dan Bidan, “ayo tepuk lagi agar bayi ini menangis!” ucap salah satu Perawat.


“Bagaimana apa sudah menangis?” tanya Dokter itu.


“Belum, Dok!” ucap Perawat sambil menepuk-nepuk bayi Risma.


“Kalian lanjut tepuk punggungnya, aku harus menjahit luka ini.”


Dokter menjahit lukanya Risma bekas melahirkan dan luka yang terkena peluru di bagian punggung dan pinggang, beruntung pelurunya tidak mengenai janinnya. Sampai akhirnya tangisan bayi menggema di ruang ICCU membuat semua orang di luar bahagia termasuk Anton bisa bernafas lega.

__ADS_1


Risma tersenyum mendengar anaknya menangis ia hanya bisa memejamkan mata tatkala mendengar tangisan anaknya, kepalanya masih sangat sakit. “Masukan ke ruang NICU sekarang!” perintah Bidan.


“Alhamdulilah,” ucap Dokter itu lalu keluar ruang ICCU.


Semuanya langsung mendekati Dokter, “bagaimana keadaan istri saya Dokter?” tanya Anton.


“Selamat bayi anda laki-laki, tapi istri anda dalam masa pemulihan karena racun peluru yang hampir menguasai badannya.”


“Saya mau melihat istri saya Dokter!” ujar Anton.


“Boleh tapi hanya dua orang tidak lebih.”


Anton langsung memakai pakaian khusus dengan masker ia masuk melihat keadaan istrinya, bersama dengan Kojiyama. Ia menangis karena sudah amat mencintai sang istri perlahan ia menyentuh tangan istrinya di penuhi berbagai macam alat untuk menopang hidupnya.


“Risma bangun sayang.”


Risma ingin bicara tapi rasanya mulutnya kelu dan ia menatap Anton. Obat bius yang membuat wanita malang itu tidak bisa bicara bahkan sulit mengucapkan sepatah katapun.


Anton memeluk sang istri karena ia amat takut kehilangan istrinya, Anton tak kehilangan Risma untuk kedua kalinya. Risma membuka matanya tapi ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pada suaminya.


Hidupnya sangat menderita. Awalnya Yukita menolaknya menjadi menantunya tapi Yumeko yang sudah sangat mencintai Anton kembali padanya, selain cinta Risma kembali pada Anton untuk mengubur api balas dendam Yukita Konawa.


Anton dengan marah keluar ruangan ia melepas baju khusus dan maskernya lalu menghampiri Yukita Konawa yang berdiri di pojokan sambil melipat kedua tangannya, semua orang menatap Anton.


“Anton kenapa, Nak?” tanya Amara yang tengah duduk membisu.


Anton menatap mertuanya lalu berteriak dan memarahinya, “apa yang kau inginkan? Apa kamu ingin aku bercerai dari putrimu?” maki Anton pada mertuanya.


Yukita hanya tersenyum sinis lalu bicara dengan nada yang tak kalah tinggi, “Ya aku menginginkan kamu menjauhi putriku!” balasnya.


“Lihat aku!! Apa aku dan keluargaku tak bisa membuat putrimu bahagia!!” marah Anton.


“Bahagia katamu!! apa aku tidak salah dengar!!” sahut Yukita dengan emosi.

__ADS_1


Terlihat antara mertua dan menantu itu sama sekali tidak ada kemiripan mereka semua berdebat karena Anton merasa bisa membuat istrinya bahagia, sedangkan Yukita Konawa merasa Anton tidak bisa membuat putrinya bahagia.


“Apa aku tidak tahu kamu membawa wanita binal itu ke rumah!!” ujarnya dengan senyum sinis.


Anton hanya terdiam tatkala ia di sidang oleh Yukita Konawa selaku mertuanya. “Dan satu lagi jangan panggil aku okasan atau ibu!! Karena aku tidak akan sudi memiliki menantu sepertimu!!” ujar Yukita bicara seperti itu di hadapan orang tua Anton dan Amara.


Clara seolah tidak terima putranya di hina oleh mertuanya, wanita Italia itu ingin maju tapi Panji selaku suaminya memegang lengannya lalu menggelengkan kepala tanda tidak perlu ikut campur, karena apa yang dikatakan Yukita benar.


Anton membawa wanita binal itu ke rumah dan sangat tidak pantas apalagi yang sudah beristri membawa wanita lain ke rumah seolah tidak menghormati istrinya, tak hanya sekali Anton melakukan kesalahan tapi dua kali.


Fera di bawa ke rumah pertama saat awal pernikahan dan tengah mengandung, kedua Fera juga di bawa ke rumah saat Risma rujuk pada Anton.


“Kau diam sekarang, Nak?” tanya Yukita dengan tersenyum sinis.


“Anton,” panggil Yukita menatap menantunya. “Kamu menang aku kalah, cintamu pada putriku mengalahkan segalanya juga kejahatan.” Mendengar itu semua membuat keluarga menatap heran apa maksud perkataan Yukita Konawa.


“Aku akan relakan kalian bersama, dan aku tidak akan kembali mengusik kehidupan kalian lagi.” Yukita bicara demikian membuat hati Clara sedikit lega.


“Alhamdulilah ya allah,” batin Clara dan Amara.


“Aku minta padamu jaga putriku jangan sakiti dia lagi, aku akan pergi selamanya.”


Yukita langsung melangkah keluar tanda ia sudah kalah dengan kekuatan cinta yang di miliki putrinya, ia tak bisa memisahkan antara Yumeko dan Anton karena cinta mereka benar-benar kuat.


Wanita berparas Jepang itu melangkah keluar dari rumah sakit dan pergi entah kemana, mendengar itu semua tubuh Anton serasa tak memiliki daya lagi ia tak percaya apa yang di katakan mertuanya.


Gani mendekati kakaknya. “Bang gua--gua tahu lu,” ucap Gani tergugup membantu Anton duduk di kursi depan ruang ICCU.


“Alhamdulilah Bang tuh, Nenek lampir udah gak usik hidup lu ama kakak ipar lagi,” ucap Gani merangkul kakaknya.


Anton hanya diam tak bertenaga, Amara hanya tersenyum lalu ia mengatakan Alhamdulilah. Sebentar lagi ia juga akan menjadi seorang nenek dari bayi surogasi yang di kandung oleh Salsa.


Salsa akan di beri pekerjaan oleh Amara menjadi bagian penanam saham di restorannya, juga Anton memberikan tempat tinggal di Apartment miliknya tak jauh dari Restoran yang Amara Kelola mengingat Salsa juga memiliki Pendidikan yang tinggi.

__ADS_1


#BERSAMBUNG


__ADS_2