
Risma menidurkan diri di sebelah Karina menatap putrinya dengan wajah tentram yang terlelap, dia menjadi terbayang-bayang saat dirinya di peluk dari belakang oleh Anton ada rasa gelisah dan nyaman. Di hatinya entah karena apa ada sebuah rindu yang tersalurkan tatkala Anton memeluknya.
Perlahan tangan Risma membelai puncak kepala putrinya yang terlelap. Perlahan kelopak mata Risma terpejam kemudian di dekat jendela dengan gorden putih yang berterbangan ia melihat sosok Anton cukup tampan mengenakan setelan tuxedo hitam tersenyum ke arahnya.
"K-kak Anton." Risma membuka lebar matanya melihat suaminya, ia beranjak dari ranjang untuk mendekat.
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Risma yang menatap pada Anton.
Sebenarnya itu hanya angan-angan belaka karena hati dan pikirannya bimbang tak menentu, Anton tak menjawab hanya tersenyum tipis yang membuat ketampanannya bertambah. "Kak Anton...," kata Risma yang kemudian berusaha menyentuhnya tetapi tembus pandang seketika Anton menghilang di gantikan dengan sunyinya malam dan angin yang menerbangkan gorden kamar.
Risma terduduk di lantai hatinya sakit tatkala ia menyadari bahwa dirinya masih mencintai Anton, tetapi perasaan egois dan dendam lebih mendominasi dalam dirinya ini lantaran ia sudah kehilangan Kirana untuk selama-lamanya mungkin dirinya masih menerima jika Anton hanya menghinanya tetapi jika sudah melibatkan nyawa Risma sama sekali tak bisa mentolerir lagi.
"Aku harus membencinya, kenapa Allah memberikan cinta ini pada pria yang tak baik seperti Anton. Ya allah jika engkau menjodohkan hamba dengan Anton maka hamba tak akan menolaknya karena ini sudah jalan takdir yang di tulis olehmu______Tapi jika Anton bukan jodoh hamba maka lupakanlah Anton dari hati hamba." Risma menyeka air matanya kemudian kembali beranjak dari lantai untuk menemani karina tidur.
Risma menatap Karina dengan iba pasalanya anak sekecil ini harus mengalami nasib orangtua yang terpisah, ia menatap putri kecilnya yang terlelap tangannya perlahan membelai surai coklat milik Karina sungguh hatinya mengingat apa yang suaminya perbuat dulu.
Pikiran Risma melayang saat waktu pertama kali masuk kuliah dia melihat Anton dengan sangat tampan memakai Almamater bersama rombongan teman-temannya hatinya terasa bergetar termasuk mahasiswa lainnya. "Siapa dia?" tanya gadis di sebelah Risma.
"Kak Anton." Jeda "tapi dia udah punya pacar namanya Kak Fera."
"Yah sayang banget ya."
Risma hanya terdiam lantaran ia mendengar tema-teman mahasiswi barunya saling bicara ia hanya bisa menganggumi Anton tapi harapannya memiliki Anton sudah pupus karena sudah memiliki kekasih tak apa jika sudah ada Fera yang terpenting ia hanya harus fokus kuliah dan membangun masa depannya. Risma bekerja di sebuah laundry dekat dengan tempat kosnya yang terletak tak jauh dari area campus demi bisa menjangkau jarak.
Tapi sayang ia hanya harus kuliah sampai D3 karena ulah Anton menghancurkan masa depannya dengan tak bertanggung jawab, hanya bertanggung jawab secara fisik tapi tidak secara batin dengan tidak memberikannya nafkah. Setelah semua yang dilakukan Anton dengan seenaknya dia ingin kembali pada Risma yang sudah di berikan goresan luka.
Luka yang di berikan Anton juga teman-temannya yang sangat sulit di obati termasuk Fera, meskipun Fera sudah mendapatkan balasannya yang di berikan langsung oleh ibunya Risma yaitu Yukita Konawa dengan cara Fera harus bermain di film dewasa Jepang dan tak tahu kabarnya.
Risma perlahan mulai memejamkan matanya dengan bekas airmata yang mengering lantaran harus memendam duka dan rasa sakit yang mendalam, Anton adalah cinta pertamanya selama masa Sekolah Risma belum pernah merasakan yang namanya cinta saat dia merasakan cinta malah rasa sakit dan pilu yang ia rasakan bukannya bahagia.
*************************
*
__ADS_1
*
*
*
*
Anton menatap sunyinya malam matanya belum terpejam mulutnya juga enggan meminum pil di ponselnya ia melihat foto bayi kembar itu adalah Karina dan Kirana anak-anaknya, inikah yang dirasakan Risma dulu saat mengandung kedua putrinya rasa sakit yang di rasakannya tak sebanding dengan rasa sakit yang di toreh oleh Anton pada sang istri ingin rasanya ia memulai hidup dengan istri dan putrinya.
Anton mulai mengeser layar ponselnya memperlihatkan foto Karina, Risma, juga Amara dan Siska saat Risma sedang ke rumah Bibinya, ia sudah menyadari jika anak yang di gendongan Risma itu adalah putrinya karena dari warna rambut mereka sudah memiliki kesamaan. Anton pernah bermimpi tentang Almarhumah mendiang putrinya yang meminta ayahnya tetap bersabar.
Di dalam mimpinya putrinya sudah memaafkannya tapi ia masih sedih lantaran orangtuanya berpisah meskipun belum bercerai secara hukum tapi mereka sudah bercerai secara agama. "Karina Papa akan membuat kamu dan Mama bahagia, Ya allah tolong persatukan aku dengan istri dan anakku kembali aku berjanji akan bahagiakan keduanya tanpa harus ada air mata tertumpah lagi."
Anton segera menengak pilnya lalu pergi untuk tidur agar bisa mengistirahatkan diri agar besok ia kembali bertenaga, Anton memandang di sebelahnya sambil mengelus ranjang di sampingnya berharap istrinya menemaninya di sampingnya. "Aku berharap kau ada di sebelahku, Yumeko Konawa." Tak henti-hentinya Anton mengelus tempat tidur di sebelahnya. Lalu mulai terlelap.
*********************************************************************************
Siang ini Risma sedang bersama ibunya berbincang mengenai rumah tangganya bersama Anton. "Okaasan apa kau setuju jika aku kembali bersama Anton?" tanya Risma.
Tak lama Karina datang memeluk ibunya, "Mama!" Risma segera memangku putri kecilnya juga tak henti-hentinya menciumi pipi tembam Karina. "Eh Cucuku kemarilah." Tapi Karina malah tajut dengan Yukita Konawa karena anak itu pernah melihat Yukita Konawa bertindak bengis pada seseorang yang membuatnya takut.
"Mama Karin mau ke taman yang kemarin?" pinta karina.
"Emang yang kemarin belum puas?" tanya Risma pada putrinya. Karina hanya mengelengkan kea keluarpalanya.
"Baiklah turuti permintaan cucuku itu, aku ingin pergi karena ada meeting tentang bagi hasil keuntungan saham." Yukita segera berdiri kemudian pergi keluar Apartemen untuk menuju kesuatu tempat. Risma menarik nafas kemudian ia menganti baju untuk ke taman yang kemarin ia mengajak Karina untuk bermain di taman.
Suasana taman wisata sangat ramai mengingat ini akhir pekan ia menikmati taman ini dengan kincir angin dan bunga juga terlihat para remaja yang sedang berfoto, Siang ini seorang wanita berumur 23 tahun sedang berjalan sambil mengandeng seorang anak perempuan. Risma berjalan di taman, suasana kota Denpasar nampak ramai banyak juga para orang tua menemani anak mereka bermain.
Saat sedang asyik berjalan anak yang di gandengnya terlepas dan mengejar kupu-kupu, "Karina tunggu, Nak!" seorang wanita dengan mengenakan baju formal mengejar putrinya sampai ia menabrak seorang laki-laki.
"Ri-Risma..." Ucap Anton lirih.
__ADS_1
"Ya tuhan, Kak Anton..." Ucap Risma dengan Lirih.
"Ma-maaf Mas...saya gak sengaja." Setelah itu Risma segera berlari mengendong Karina untuk pergi dari area taman yang termasuk tempat wisata.
"Tunggu!" Perintah Anton dengan pakaian jas rapih mengejar yang selama ini ia cari.
"Risma..." Anton berhasil meraih tangan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.
"Ada apa Tuan Anton Darma Anjaya!" Ujar Risma dengan ketus.
"Kamu selama ini kemana, Risma? Saya cari kamu." Ucap Anton sambil menatap mata istrinya.
"Lepas!!!" Risma dengan kasar melepaskan diri dari pria yang telah menyakitinya selama ia mengandung.
"Ayo Risma kembali bersama saya, dan ini pasti anak kita." Anton tersenyum sambil memegang putrinya.
"Jangan coba sentuh anak saya, Tuan Anjaya yang terhormat aku hanya minta padamu satu hal. Urus gugatan cerai kita dan kamu tenang saja soal anak ini aku yang---" Risma yang sudah dengan air mata di pipinya.
"Apa maksudnya, Risma? Saya masih suami kamu dan kamu hanya milik saya." Mata Anton menatap wanita berparas setengah Jepang dengan tajam.
Risma hanya tertawa hambar melihat ke munafikan pria di hadapannya ini, "siapa bilang saya masih istri kamu!! Kelakuan kamu dulu telah memutus ikatan diantara kita." Setelah mengucapkan itu Risma ingin melegang pergi tapi lengannya di pegang oleh Anton.
"Risma tolong kasih saya kesempatan sekali saja..." Ujar Anton yang sepertinya menyesal atas perbuatannya dulu.
"Bagaimana dengan Fera?!" gentak Risma sampai orang-orang melihat perdebatan mereka.
"Risma saya dengan dia sudah memutuskan hubungan...."
"Memutuskan hubungan setelah semua yang kalian lakukan pada saya dan anak saya! Ini 'kan yang kamu inginkan selama ini bisa terlepas dari saya!! Udah, Mas aku gak mau ada urusan sama kamu lagi! Urus surat cerai kita aku mau lepas dari laki-laki kaya kamu." Setelah mengatakan itu Risma pergi mengendong putrinya, tentu saja kata-kata yang di ucapkan Risma membut Anton mematung.
Apa dulu dirinya sudah sangat keterlaluan pada Risma? Pria itu hanya bisa menatap langit biru. Orang-orang yang menoton mereka langsung bubar satu-persatu.
"Ya allah berikan hamba kesempatan kedua untuk bersama anak dan istri hamba," ucap Anton dengan suara yang serak.
__ADS_1
#Bersambung