
Di sebuah kursi depan ruang rawat inap Clara wanita berparas Italia mulai mendekati Yukita yang berwatak keras, "Nyonya Konawa__aku minta maaf atas kesalahan putraku pada anakmu." Clara berucap sambil melihat Yukita menatap kosong ke depan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Minta maaf, apa maaf bisa mengembalikan cucuku yang di akhirat? apa maaf bisa menghilangkan rasa sakit putriku?" tanya Yukita menatap Clara di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu, Nyonya Konawa_____tapi sampai kapan kau menaruh dendam itu pada semua orang...," ucap Clara lirih. "Korbannya sudah banyak, Axel, Andria, dan cucu kita. Tolong jangan buat korban lagi karena api dendam dan kebencianmu itu. Kita buka lembaran baru karena kita berdua sudah menjadi seorang Nenek bagi Karina."
Clara bicara begitu karena hatinya menjerit tatkala kebenciannya sudah membuat banyak korban, di lain sisi Clara tak bisa menganggap itu salah karena ia mengerti betul perasaan Yukita Konawa yang seorang ibu.
"Kirana akan sedih di sana jika kita terus seperti ini." Tanpa sadar Clara sudah mengalirkan air mata.
"Jangan bawa cucuku, dalam hal ini karena cucu dan anakku adalah korban yang sesungguhnya!" intonasi suara Yukita meninggi matanya melotot menatap Clara.
Anton baru datang dari kantornya memakai jas hitam dan melihat ibunya menangis kemudian menanyakan apa yang terjadi, Clara menceritakan semuanya. Anton yang marah ingin sekali meninju mertuanya beruntung masih di redam oleh ibunya.
"Sudah cukup, Nyonya Konawa ayo padamkan api dendam dan kebencianmu." Clara menyentuh tangan Yukita tapi matanya membulat tatkala melihat banyak jari tangan Yukita yang sudah terpotong, mulutnya membungkam ia menatap tangan dan wajah besannya secara bergantian sampai seorang perawat yang baru datang memeriksa Risma keluar kamar.
"Pasien sudah sadar, dia selalu menyebut ibunya." Perawat muda itu bicara. "Apa salah satu dari Nyonya, ibunya?" tanya perawat itu.
"Saya ibunya." Yukita bicara.
"Mari temui pasien," ujar perawat itu.
Yukita masuk kamar rawat inap VVIP itu, kemudian menemui putrinya. "Oh tuhan akhirnya kamu sadar, Nak." Yukita mendekat kemudian memeluk putrinya dengan erat perasaan rindu yang mendalam pada putrinya.
"Okasan, dimana anak-anakku?" tanya Risma yang masih lemah.
__ADS_1
"Oh sayang, mereka masih di inkubator...," ucap Clara yang baru masuk kamar kemudian mendekati menantunya.
"Mama...," ucap Risma lirih.
"Apa kamu butuh sesuatu sayang? Mama suapi ya?" tanya Clara yang menyuapkan pada menantunya.
"Mama masak sayur bening, cocok untuk ibu menyusui."
Clara menyuapi menantunya di depan Yukita, dalam hati wanita Jepang itu ingin sekali merebut peralatan makan dari tangan Clara tapi ia urungkan karena sepertinya yang ia lihat Clara tidaklah berdosa dalam hal ini.
Tak lama Anton masuk kamar membuat raut wajah Yukita bertambah cemberut, Risma yang sedang mengunyah bayam menjadi teringat akan hinaan dan caci maki yang di lontarkan oleh Anton juga teman-temannya.
Saat Anton mendekat Risma memalingkan wajahnya tanda rasa benci dan kecewa, tapi mulutnya masih menerima suapan dari Clara. Anton mendekat ia ingin menyentuh Risma tapi itu semua di hindari secara halus oleh Risma.
"Risma...saya ingin mengenalkan putri kita namanya Karina Clarissa Anjaya tapi masih di inkubator." Anton bicara pada Risma yang membuat gadis itu heran sejak kapan suaminya ingin bicara padanya bukankah dirinya hanya dianggap benalu, aib, bahkan sampah.
Risma menatap ibu dan mertuanya menanyakan siapa nama putri satunya tapi keduanya hanya menunduk tak tahu harus menjawab apa, "Mah! Okasan! anak-anakku semuanya sehat 'kan?" tanya Risma menyentuh tangan ibu dan mertuanya tapi Clara menunduk sambil mengeluarkan air mata.
"Mama__kenapa mama menangis? ayo jawab aku kenapa semuanya diam!!" Intonasi suara Risma meninggi.
"Sayang___nama anak kamu satunya lagi Kirana tapi kita tak tahu rencana tuhan jadi tuhan sayang sama Kirana," ucap Clara. Yukita muak dengan penjelasan Clara yang terlalu bertele-tele, "jadi Kirana sehat mah?" tanya Risma yang mulai menangis.
"Kirana sudah meninggal, Nak. Karena benturan tapi aku salut dengan mendiang cucuku yang berani melindungi adiknya tidak seperti suamimu," sindir Yukita untuk Anton sekaligus menjawab pertanyaan dengan berani menjelaskan ke intinya sambil menyentuh tangan putrinya.
Seketika seluruh tubuh Risma remuk sudah seperti di hempaskan dari langit ke tanah, hatinya terbakar sudah seperti lahar yang menghancurkan semuanya tangis wanita berumur 20 tahun itu pecah kedua wanita yang berbeda kebangsaan itu berusaha menenangkan Risma.
__ADS_1
"Sayang, malaikat sudah menjaga Kirana di---" belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya Risma langsung menjerit sambil menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"AAAAAA!!!" Risma terus meraung dan menjerit.
"Risma, tenang kita---" tangan Anton langsung di tepis Risma menatap suaminya dengan kebencian.
"Ini semua salahmu, aku bodoh telah bertahan bersamamu sampai salah satu anakku pergi!! ini salahmu!! kau bertanggung jawab atas kematian Kirana!!" maki Risma sambil menunjuk Anton.
"Risma tolong istighfar, Nak." Clara bicara sambil menenangkan menantunya.
Risma langsung marah, apapun yang ada di meja di lempar ke lantai, sampai selang infus di tarik dari tangan kanannya membuat darahnya tercecer di lantai juga sprei putih rumah sakit. Yukita dan Clara masih menenangkan Risma.
"Aku mau menyusul anakku!!" Risma melepaskan sambil terus menjerit, bekas opersi yang masih basah tak di hiraukan karena sakitnya tak sebanding dengan sakit saat kehilangan seorang anak.
Anton segera memencet tombol yang ada di samping ranjang berkali-kali sampai perawat datang, perawat yang datang sangat kaget melihat keadaan pasiennya. "Sus, tolong istri saya." Anton memohon pada suster itu, segera perawat itu memanggil Dokter juga beberapa perawat lain untuk menyuntikan obat penenang pada Risma.
Butuh perjuangan luar biasa untuk menyuntikan obat penenang pada Risma sampai, gadis berparas setengah Jepang itu mulai tenang dan terlelap. Anton segera membopong tubuh Risma untuk membiarkan Perawat menganti sprei dan membersihkan lantai yang sudah banyak tercecer darah.
__ADS_1