Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 27


__ADS_3

Sore yang indah seorang gadis menaiki ayunan dia membenarkan kata temannya jika hukum karma itu berlaku. Dia memikirkan perbuatannya pada Kakak iparnya yang membuatnya amat menyesal hanya itu yang dia rasakan.


"Lisi!" suara itu membuat seorang gadis setengah Italia itu menoleh ke belakang ia berdiri dari ayunan.


"Kak Anton!!" tutur Lisi berlari memeluk kakaknya yang masih dengan kemeja putih dan celana hitam panjang.


"Hiks...Hiks..." isak Lisi memeluk Kakaknya sambil terisak menangis benar kata temannya jika karma benar adanya.


"Kak aku mau minta maaf sama Kakak Risma."


Anton memegang kedua bahu adiknya kemudian menatap manik mata hijau milik Lisi, "iya aku tahu Lisi tapi masalahnya sudah dua tahun aku belum menemukan istriku."


"Kak Anton jika kau menemukannya tolong sampaikan maafku padanya."


Anton hanya mengangguk lemah kemudian mengecup puncak kepala adiknya lalu memeluknya, karena Lisi tanpa sengaja kehilangan keperawanannya oleh pria tak di kenal saat ia sedang di club malam.


⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─


Di Tokyo Jepang seorang anak berumur dua tahun sedang bermain sambil melihat indahnya bunga sakura, Risma hanya tersenyum melihat itu semua.


Tak disangka gen dari Anton lebih mendominasi pada putrinya ini, sungguh dirinya amat bahagia bisa melihat sosok Anton lewat putrinya ini.


"Karina pelan-pelan," ucap Risma pada putrinya yang berlari.


Karina kecil tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan ia memakai tuxedo hitam, lalu membuka kacamatanya karena ini termasuk tempat wisata tak perlu heran jika ada bule atau orang kulit putih.


"Tuan maafkan putriku tak sengaja menabrak anda." Risma meminta maaf sambil membungkam badan atau di sebut ojigi.


Perlahan pria itu mengusap kepala bocah berumur dua tahun itu kemudian menatap Risma, "anda Yumeko Konawa?" tebak pria itu, Risma hanya mengangguk dan mulutnya mengatakan iya, benar.

__ADS_1


"Aku Emannuel Dilson El deanon, tunangannya Hisako Konawa."


Risma sedikit heran dan sama sekali tak tahu akan hal ini, "Aku Yumeko Konawa sepupu dari Hisako." Risma mengenalkan dirinya.


"Bukankah anda istri dari Tuan Anjaya?"tanya Emmanuel, yang jelas membuat Risma merasa tak nyaman karena pria ini mulai menanyakan Anton.


"Tuan El deanon dengar itu rumah tanggaku bukan urusan anda, aku permisi Tuan El deanon. " Risma pergi dari area wisata untuk pulang sambil menggendong Karina. Jujur Risma amat risih dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut pria yang tak di kenal itu.


Risma masuk ke mobil, "kita langsung pulang saja." Risma berucap.


"Hai...," Patuhnya.


'Siapa pria tadi, sepertinya bukan pria baik-baik.' Risma berujar dengan duduk di kursi belakang mobil sambil menggendong putrinya.


Sesampainya di rumah Risma turun dari mobil di tengah ruang santai Hisako dan ibunya membicarakan hal serius, Risma yang tak sengaja menguping merasa penasaran apa saja yang di bicarakan oleh ibu dan sepupunya itu.


Sebelum itu Risma menyuruh pengasuh Karina untuk membawa putri kecilnya bermain di taman belakang lalu ia menguping dari balik pintu, Risma amat kaget tatkala nama Salsa dan Fera disebut dalam pembicaraannya.


"Hisako dengar ada barang juga ada harga." Risma amat heran apa maksud percakapan itu.


Hisako meskipun membenci Fera karena telah membuat hidup sepupunya menderita dan membuat keponakannya menemui maut, tapi hukuman yang di berikan bibinya sangat keterlaluan.


"Obasan sampai kapan, Fera akan bermain di film dewasa di perusahaan kita?" tanya Hisako dengan wajah membosankan tanda sepertinya Fera juga amat membosankan dan kurang menarik lagi.


"Kita tunggu waktu yang tepat, Nak."


Risma membulatkan mata tanda terkejut apa yang di katakan ibunya, pasalnya benar kata Hisako hukuman yang di berikan pada Fera sudah sangat keterlaluan.


Fera bermain film dewasa tanpa di gaji, tubuh Risma seolah lemas mendengar itu semua dari ibunya.

__ADS_1


Sebuah karma kadang sangatlah kejam dari perbuatan dosa yang dilakukan seseorang.


...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─...


Anton sedang berkutik dengan laptopnya, baru kali ini pria itu sekarang memasang foto pernikahannya dengan Risma di meja kerjanya, sekarang Anton menyadari betapa rasanya kehilangan.


"Ton." Andria mendekati sahabatnya.


"Kenapa?" tanya Anton yang tak lepas dari laptopnya.


"Gua tahu keberadaan anak sama istri lu." Ucapan Andria mampu membuat Anton langsung berdiri menatap temannya.


"Lu tahu dimana?" tanya Anton.


"Di Jepang, tapi gua gak tahu tempat letaknya. Gua sama Axel berhasil melacak lewat CCTV rumah sakit."


"Ton, tenang dulu." Andrian berusaha menghentikan sahabatnya karena mungkin saja sikap amarahnya akan menghancurkan semuanya.


"Apa yang harus tenang gua mau anak dan istri gua balik!! " maki Anton sambil mengusap rambutnya kasar.


"Iya gua paham, tapi yang lu mau hadapi itu Yakuza. Lu tahu 'kan Yakuza itu gangster berbahaya istri lu di lindungan ama gangster." JEDA "lu tenang aja anak sama istri lu aman di tangan keluarga Konawa."


Mendengar penuturan Andria. Anton memukul tembok dan berteriak karena kesal lantaran ia harus berurusan dengan mafia, kenapa di saat dirinya ingin bahagia dengan anak dan istrinya ada yang menghalangi.


"Ton, Please liat gua. Lu tahu apa yang dilakuin Nyonya Konawa ama gua dan Axel, Yakuza kalo udah bertindak itu brutal!!" ucap Andria.


"Jadi apa rencana lu?" tanya Anton.


"Gua blom ada rencana, tapi kita harus pakai cara halus jangan cara kekerasan demi bisa meluluhkan hati mertua lu."

__ADS_1


Anton mengangguk setuju akan saran temannya ini, dan sudah mau membantunya.


'Semoga gua bisa dekat sama Hisako, sepupu bini Lu,' batin Andria.


__ADS_2