Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 65


__ADS_3

Seorang gadis yang sudah selesai dengan bisnisnya terdiam sambil melihat foto antara adiknya Gani dan juga Kojiyama, seulas senyum terbit di bibirnya yang berpoles lipstick berwarna nude. "Kojiyama," ucapnya mencelos.


Lisa amat mengagumi Kojiyama karena tak sekedar tampan bahkan pria itu berani membela ketidak adilan dan menghadapi masalah dengan melihat dari dua sisi yang berbeda. Sangat jauh berbeda dari ibunya Yukita Konawa yang terkenal kejam.


"Seandainya kamu mengerti perasaanku," ujarnya sambil membatin rupanya gadis berparas Italia itu sudah tertarik pada adik kakak iparnya.


Lisa duduk sambil tersenyum bahagia.


*


*


*


*


*


*


Pagi menggelayuti langit di ibu kota Risma sedang memandikan Karina yang tengah asyik bermain dengan bebek mainan. "Mama kapan tante Lisi memberikan aku adik?" tanya Karina.


"Tinggal tunggu beberapa bulan lagi," sahut Risma pada putrinya.


Karina yang sudah selesai di mandikan Risma memakaikannya bedak dan minyak telon dan tak lupa memakai kaos dan celana pendek, rambutnya panjang yang masih basah Risma bungkus menggenakan handuk. Anton masuk kamar putrinya.


"Papa!" ucap Karina nampak antusias lalu melompat dalam pelukan ayahnya.


"Karina pagi-pagi udah mandi," ucap Anton sambil menciumi putrinya. "Baunya harum seperti mawar," puji Anton mencium gemas putrinya.


Risma hanya tersenyum tipis kemudian ia segera ke bawah untuk membantu bi Idah menyiapakan sarapan untuk suaminya ke kantor, "Papa kapan aku punya adik?" tanya Karina kepada Anton.


"Emang Karin pengen punya adik?" tanya Anton, Karina malah mengangguk dan tersenyum  lebar.


"Bilang Mama."


"Udah tapi kata mama, nanti dapet adik dari tante Lisi."

__ADS_1


Anton menjadi sedikit kecewa pasalnya Risma masih enggan mengandung lagi lantaran mengingat akan masalalu, "tapi aku mau cewek sama cowok." Karina bicara pada Anton yang membuat Anton gemas.


"Yaudah Karina ke bawah Papa mau makai dasi dulu," ucap Anton lalu bocah itu mengambil bonekanya kemudian lari ke menuju lantai bawah.


Anton tersenyum lantaran Karina juga mengharapkan seorang adik tapi Risma masih ragu bahkan enggan hamil lagi,  "kamu tenang saja Karina, Papa usahakan dapat adik secepatnya." Anton bergumam dalam hati dengan senyuman.


Anton turun ke bawah melihat istrinya sedang menata sarapan di dapur juga melihat Karina yang sedang memainkan boneka sambil duduk di kursi makan, Risma tersenyum tipis melihat suaminya turun dari atas tangga aura ketampanannya terpancar membuat pipi gadis setengah Jepang itu menjadi merah.


"Selamat pagi Anton," sapa Risma.


Anton balik menyapanya tapi Risma memilih duduk di samping Karina, membuat Anton harus menelan rasa kecewa. "Karin mau apa mama ambilin," tawar Risma kepada putrinya. Karina meminta sosis dengan roti dan telur.


"Sayang aku gak di tawarin?" rengek Anton seperti anak kecil.


Risma yang mendengarnya seketika sangat jijik, tapi ia hanya diam saja. "Kamu mau apa Anton?" tawar Risma pada Anton, pria itu meminta nasi dan telor goreng juga sosis panggang. Risma mengambilkannya lalu memberikannya kepada Anton.


Pagi ini keluarga baru itu sarapan dengan penuh kedamaian tanpa adanya keributan sedikit pun, Anton amat senang melihat istrinya mulai berinteraksi pada dirinya lagi tanpa khawatir. Hanya butuh waktu Risma mulai bersikap formal.


Anton berangkat dengan Risma menyalami suaminya begitu juga Karina yang memeluk ayahnya erat seolah ingin ikut tapi Anton selalu punya cara menenangkan putrinya, "nanti papa pulang Karin mau apa?" tawar Anton.


"Ayo masuk," ajak Risma pada putrinya sesudah kepergian Anton.


Risma mengajak Karina ke dapur karena ia ingin bekerja di dapur mencuci piring dan membersihkan dapur meskipun sudah di larang oleh Bi idah.


Risma akhirnya memiliki ide untuk membuat sushi bersama Karina di dapur, dengan membuat mata dan mulut menggunakan sosis dan sayur-sayuran. "Mama aku mau bikin ini buat adik," ucap Karina. Mendengar ucapan Karina, Risma menjadi terdiam lalu tersenyum.


Risma takut untuk hamil lagi pasalnya, rasa trauma yang di toreh Anton dan teman-temannya termasuk Fera sangat dalam dan belum menutup sempurna. Tak lama Bi Iddah menepuk bahu Risma saat menggulung sushi. "Nyonya yang sabar ya, di coba aja siapa tahu saya punya majikan yang ganteng."


Bi idah bicara. Risma tersenyum lalu mengangguk, "yaudah saya mau membersihkan taman dulu." Bi Idah bicara meninggalkan Risma yang masih mematung sambil menggulung sushi.  "Mama buatin pita dong, biar mirip hello kitty." Karina bicara pada sang ibu.


Risma mengambil pisau lalu membentuk timun dan wortel menjadi pita, hari ini Risma menghabiskan waktu bersama Karina. "Mama! hari apa Papa libur aku mau jalan-jalan ke taman," ucap Karina meminta pada sang ibu.


"Karina, kamu makan sushinya udah jadi." Jeda "Mama mau ke kamar dulu." Karina mengangguk lalu memakan sushinya, sedangkan Risma berjalan dari dapur ke kamar.


Risma berjalan demi selangkah mengingat kejadian di taman Bali saat Anton tertembak oleh Yukita Konawa, "aku mencintaimu Anton." Risma berkata sambil terus berjalan sampai kamar dengan rasa khawatir akan suaminya.


Risma sedikit tersenyum saat Anton sekarang begitu lembut padanya ia jadi tak tega menolak permintaan anak dan suaminya yang menginginkan seorang bayi. "Mama Karin mau kadonya adik bayi," pinta Karina pada ibunya waktu itu.

__ADS_1


"Tuhan! aku ingin sekali mengabulkan permintaan keduanya tapi aku masih trauma akan masa lalu." Risma membatin dalam hatinya lantaran ia bimbang akan keputusannya, meskipun setiap malam ia melayani Anton dengan baik tapi Risma masih takut untuk hamil lagi.


Siang ini Siska berkunjung ke rumah sepupunya dengan membawakan mainan masak-masakan dan lilin mainan yang bisa di bentuk untuk Karina, "asallamualaikum, kak Risma. Sepupumu yang beauty datang." Siska dengan percaya diri bicara demikian.


"Yeay Kak Siska dateng, mama ada Kak Siska." Karina amat antusias menyambut Siska.


"Eh Karina!"


"Siska kamu gak kuliah?" tanya Risma yang menuruni tangga.


"Udah cuman ngumpulin tugas aja."


Siska bermain bersama Karina sampai Anton pulang bersama Gani. "Siska!" ucap Anton terkejut melihat keponakan iparnya. "Iya, Om Anton." Siska dengan cengir. Gani masuk dengan membawa koper berisi laptop dan berkas ia terkejut melihat Siska dan semakin gemas.


"Deh kok ada kuntilanak di sini!" ucap Gani.


"Gani!" tekan Anton.


"Yeh songong banget loh, gendoruwo!" balas Siska.


Rupanya Anton dan Risma sangat lelah mendengar perkelahian keduanya jadi dua orang itu putuskan untuk ke kamar saja, sedangkan Karina malah sedang asyik bermain.


"Eh gua tuh masih muda, gua berdoa pada tuhan yang maha esa semoga gua gak berjodoh ama lo!!"


"Eh ngarep lo jadi istri gua!!" maki Gani.


"Uek." Siska menjulurkan lidahnya.


"Gua juga ogah tuh, dengerin mulut sember lo tiap hari!!" ucap Gani.


"Dan gua juga ogah!! punya suami bule karatan kaya lo!" balas Siska yang tak mau kalah.


"Dih songong lu ya bocah, mau lu gua *****!"


"Dont touch me!!" Siska lari ke taman lalu di kejar Gani di belakang.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2