
Anton di rumah sakit untuk menemani istrinya, entah sejak kapan Anton menjadi peduli pada seorang gadis yang menurutnya sudah membuat aib baginya. Ia melihat Nyonya Konawa sedang menunggui sang istri, bersama dengan pemuda Jepang yang sepertinya jauh di bawahnya.
Kojiyama yang melihat Anton datang berusaha meredam amarah sang ibu, Kojiyama mendekati kakak iparnya lalu mengulurkan tangan. "Aku Kojiyama Konawa, adik dari Yumeko atau Risma." Anton menyambut uluran tangan Kojiyama yang ternyata adik iparnya.
"Saya Anton, suami Risma."
"Kak Anton mari kita bicara di luar...," ucap Kojiyama yang di angguki oleh Anton.
Kojiyama mengajak Anton bicara di kursi depan kamar Risma mereka bicara menukar perasaan masing-masing, berbeda dari ibunya Kojiyama mampu berfikir tenang dan melihat semuanya dari dua sisi yang berbeda.
"Kak Anton....aku minta padamu lebih baik kau ceraikan Kak Yumeko jika membuatmu malu."
"Bagaimana mungkin bisa!! aku adalah suaminya!!" Anton berdiri dengan amarah menatap adik iparnya tanda tak suka.
"Kak Anton tenang, duduk dulu mari kita bicara sebentar." Jeda "Aku hanya ingin melihat dari dua sisi bukan dari satu sisi, semua orang menyalahkanmu! termasuk dirimu! aku tak mau keponakanku bernasib seperti ibunya kelak."
Ucapan Kojiyama mampu membuat Anton tenang dan kembali duduk di kursi depan kamar Risma, "Kak Anton. Aku tahu kau seorang ayah dan juga suami, aku paham kamu menyadari kesalahanmu tapi bagaimana jika Kak Yumeko tetap ingin bercerai?" tanya Kojiyama membuat Anton membulatkan mata menatap adik iparnya tak suka.
"Aku tak membela atau berpihak dengan siapapun disini, tapi aku menjadi mediasi. Jika Kak Yumeko tak mau kembali denganmu tolong jangan paksa dia, biarkan ia menentukan hatinya. Aku juga pasti akan mengangkat senjata jika kau melakukan paksaan pada Kakakku."
__ADS_1
"Kojiyama!! Kau---"
"Kak Anton pasti mengerti keadaan Kakakku saat nanti ia sadar dari koma, perasaan seorang istri yang tersakiti dan salah satu anaknya menjadi korban keegoisan ayahnya. Aku akan dukung apapun keputusan Kak Yumeko."
Anton tak menyangka Kojiyama yang setahun lebih muda dari Yumeko mampu berfikir bijaksana dari raut wajahnya ia adalah pria yang bertanggung jawab. "Aku akan pergi untuk menemui klienku."
Kojiyama pamit pada Anton, pria berparas Jepang tulen itu segera pergi keluar rumah sakit menuju parkiran untuk menemui kliennya. Anton masih terdiam meresapi perkataan adik iparnya tadi.
"Anton Darma Anjaya!" suara barinton itu mampu membuyarkan lamunan Anton.
"Aku minta satu hal padamu untuk pertama kalinya, ceraikan putriku karena kesalahanmu sudah tak bisa di tolerir lagi."
Yukita konawa membenarkan kacamatanya membuat Anton menatap mertuanya dan meminta maaf, "aku tak bisa memaafkanmu karena salah satu cucuku pergi!"
"berhenti memanggilku mama aku bukan mertuamu!!! aku juga sudah tidak Sudi memiliki menantu sepertimu!!" hina Yukita Konawa.
"Sekarang kamu---" belum sempat Yukita menyelesaikan kalimatnya Hisako datang menghampiri.
"Obasan, aku minta maaf aku tak mendengar percakapan kalian tapi kali ini sangat penting."
__ADS_1
Hisako yakni sepupu Risma meminta Bibinya untuk bicara mengenai perwalian dirinya dengan sang bibi. Hisako adalah gadis yatim piatu orang tuanya meninggal karena mengalami kecelakaan jadi hak perwalian diambil oleh Yukita selaku Bibinya dari ayahnya Hisako.
"Baiklah Hisako, ayo kita cari tempat dulu." Yukita menyahuti keponakannya dengan halus.
Setelah kepergian mereka ke suatu tempat untuk membicarakan soal perwalian. Anton masuk ke kamar rawat inap sang istri untuk melihat wajah istrinya.
Risma terbaring di ranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan lugu, juga selang bantu bernafas. Pria berparas Italia itu melihat sang istri dalam keadaan seperti ini.
Kenapa dirinya baru menyadari jika ia mencintai Risma gadis yang telah ia hancurkan masa depannya. Anton tak dapat berkata apa-apa lagi semua sudah terjadi sebuah guci keramik yang hancur tak bisa kembali lagi.
Anton hanya bisa beranda-andai, andaikan ia tak memperlakukan Risma dengan buruk, andaikan ia memberikan perhatian dan menyadari hatinya pasti hal ini tak akan terjadi dan yang pasti kedua putrinya masih hidup. Masih banyak yang ia ingin lakukan jika waktu bisa di hitung mundur tapi ini bukanlah Film yang bisa menghitung mundur waktu.
Sekarang yang harus ia lakukan menjadikan pelajaran dan membuka lembaran baru bersama istri juga anaknya, perlahan tangan Anton menggapai berusaha menggenggam tangan Risma yang kecil.
Dia mencium bibir Risma dalam tidur berharap istrinya membuka mata tapi ini bukanlah Sleeping beauty atau dunia dongeng dengan rasa antara sesal dan sakit pria itu mengecup punggung tangan sang istri, hal-hal itu tak pernah ia rasakan saat menjalankan bidak rumah tangga bersama gadis separuh Asia di hadapannya.
"Risma, kapan kamu bangun? aku adalah pria bodoh yang telah menyia-nyiakan istri sepertimu...Hiks." Satu isakan lolos ini pertama kalinya Anton menangis karena seorang wanita biasanya ia melampiaskan pada minuman.
"Benar kata Hanna, aku buta dengan bodoh aku menukar berlian dengan batu__Hiks__saya menyesal Risma__saya__hiks__mencintai kamu." Sekali lagi Anton mengecup punggung tangan istrinya yang tak pernah ia lakukan selama menikah.
__ADS_1
Anton yang terlanjur menyesal tak bisa apa-apa lagi, tangannya terus menggenggam tangan istrinya yang terbaring sekarat sampai ia tertidur.