Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 66


__ADS_3

Makan malam telah tiba Gani dan Siska masih berdebat soal argumen yang sama sekali Anton dan Risma lelah mendengar perdebatan keduanya yang tak ada ujungnya. "Diammmm!!!" Anton berteriak sambil mengebrak meja membuat keduanya mematung.


"Kalian ini perang mulu udah kaya Nazi ama uni soviet!!" maki Anton.


Karina malah berlari memeluk Risma yang sedang merajut, Gani dan Siska langsung diam. "Terserah kalo kalian ingin terus berantem, saya buatkan Ring tinju!" cetus Anton.


Risma dari tadi hanya bisa menahan tawa melihat tingkah lucu ketiganya, Karina ketakutan hanya bisa mendekap ibunya melihat sang ayah marah untuk kedua kalinya. Anton sudah lelah menghadapi keduanya dari tadi perdebatan tiada sudah nya.


"Kalian masuk kamar!! Gani tidur di kamar bawah, sedangkan Siska tidur sama Karina." Anton melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa lo!" ucap Siska.


"Apa lo!!" jawab Gani.


"Dasar Cabe rawit!!" suara inotasi Gani dan Siska meninggi.


"Dasar terong busuk!!!" Siska.


"Masssssuk!!! Bubar!!" lerai Anton sambil berteriak.


Setelah ke pergian mereka Risma melepas tawanya membuat Anton melihat istrinya yang tertawa lepas, baru kali ini Anton bisa melihat istrinya tertawa bahkan Risma jarang bicara apalagi senyum. Risma mengendong Karina masuk menaiki tangga menuju kamar bocah itu.


Seulas senyum terbit di bibir Anton melihat istrinya bisa tersenyum lagi. Anton mengeluarkan ponsel dari saku bajunya lalu menelpon ibunya. "Hallo mah, maaf malem-malem ganggu."


"Iya, tunangan antara Siska sama Gani di percepat aja."


"....."


"Pusing!! berantem mulu!" maki Anton.

__ADS_1


"...."


"Yaudah boleh Anton kasih saran." Anton bicara.


"...."


"Nanti mereka kalo udah nikah malam pertama jangan di kasur, Anton bikinin ring tinju atau tempat gulat!!"


Ucapan Anton mampu membuat Clara tertawa terbaha-bahak di sebrang telepon. Lalu Anton mengahiri panggilan teleponnya untuk menuju kamar. Anton berharap Risma hamil lagi meskipun dalam lubuk hatinya tahu jika istrinya masih mengalami trauma.


"Kita akan punya anak lagi, Risma." Anton berkata dalam hatinya. "Saya berjanji akan menghilangkan rasa trauma dalam diri kamu." Anton bahkan berjanji pada dirinya untuk menghilangkan rasa trauma yang di alami istrinya karena ia merasa paling bertanggung jawab.


*


*


*


*


Risma melangkah untuk ke ranjang tapi saat baru dua langkah ada tangan besar yang melingkar di pinggangnya. Aroma maskulin terasa di indra penciumannya ini sudah pasti Anton, pria itu melepas raseleting gaun yang di kenakan oleh istrinya.


Gaun itu jatuh ke lantai dan menyisakan underwear yang melekat pada tubuh Risma, Saat Anton ingin menanggalkan pakaiannya, Risma malah lari sambil mengambil gaunnya. "Risma kamu mau kemana?!" maki Anton kesal sambil mengejar istri kecilnya.


Singkatnya saat tubuh Risma tertangkap oleh Anton, wajah mereka berhadapan Risma tertawa seperti anak kecil. Anton mencium bibir Risma bermain dengan lidah istrinya. Risma langsung menjatuhkan gaun yang di tangannya ke lantai.


Anton yang hanya mengenakan celana panjang sampai sepinggang, terus bermain dengan lidah sang istri yang hanya mengenakan underwear. Lalu tubuh Risma didudukan Anton di meja Rias, Risma memejamkan matanya sambil mengigit bibir saat ia merasakan bulu halus dari wajah Anton menciumi bahu dan lehernya.


"Anton___An__ton." Suara Risma yang terputus-putus seolah memberi semangat untuk Anton. Pria berparas setengah Italia itu membawa istrinya ke ranjang untuk melakukan ibadah atau penyatuan. Rasa trauma yang Risma rasakan perlahan sudah mulai hilang seketika.

__ADS_1


Hubungan suami-istri untuk memenuhi kebutuhan biologis pun Anton juga membiarkan Risma menikmatinya. Anton terus memacu dalam tubuh kecil Risma sampai peluh bercucuran di tubuh keduanya, AC atau pendingin ruangan yang ada di kamar itu mereka lupa nyalakan yang membuat keduanya di penuhi keringat.


Suara-suara dari mulut mereka saling bertautan membuat keduanya menikmati sebuah romansa di luar rumah, malam hari sedang hujan deras membuat udara nampak dingin tetapi suasana kamar yang menjadi panas karena aktivitas pasangan berparas berbeda itu.


Setelah Anton selesai melakukan pelepasan. Pria itu mengguling untuk berbaring di sebelah istrinya, dengan peluh yang membasahi tubuhnya mereka. Risma dengan tubuh lemas hanya menatap langit-langit kamar. "Anton kamu lupa buat nyalain AC," kata Risma dengan suara yang lemas.


Anton yang mengerti dengan keadaan istrinya yang sedang lemas ia segera bangkit untuk meraih remote AC di nakas lalu menyalakannya. Pendingin ruangan itu mulai menyala seolah mendinginkan tubuh keduanya yang panas kerena olahraga ranjang.


Anton kemudian menarik selimut sampai setengah pinggang Risma lalu meletakan tangan kekarnya di kepala Risma, dan menarik istrinya menyandarkan kepala di dadanya. Risma seolah nyaman saat Anton memperlakukannya dengan istimewa seperti ini.


"Tidur ya." Anton menidurkan istri kecilnya. Mengecup kening sang istri yang sudah tertidur pulas lalu Anton mulai memejamkan matanya juga.


Tubuh keduanya tanpa busana tertidur dengan rasa nyaman, Risma masih ingat saat suaminya melakukan ini dengan Fera, caranya Anton tadi melakukannya membuat Risma mengingat saat Anton pernah tidur bersama Fera dan juga melakukan hubungan badan.


Air mata Risma kembali tumpah saat di dekapan sang suami karena kenangan lalu yang membuatnya kembali terbakar oleh rasa cemburu yang mendalam, Risma yang ingin melupa semuanya malah semakin mengeratkan pelukannya pada Anton yang juga tanpa busana.


Suara gemuruh hujan dan petir bersautan seolah memandu hati Risma untuk melupakan hal-hal buruk entah mengapa sangat sulit, semakin hari perasaan Risma semakin sulit terkendali kadang mengingat masalalu dan kadang mengingat saat Anton romantis.


Risma mengingat apa mungkin ia ingin datang bulan saat sensitif seperti ini, padahal setelah di hitung-hitung sudah empat belas hari yang lalu ia datang bulan. Tidak mungkin ia hamil karena saat dia pernah mengandung Karina dan Kirana pasti akan mual dan muntah.


"Jika aku hamil pasti akan ada gejala Mual, rasa lelah dan menginginkan makanan sesuatu." Jeda "Tapi ini tidak." Risma membatin sambil mendekap tubuh suaminya.


Tangan kekar Anton yang sebagai bantalan untuk Risma juga mengusap bahu Risma, rasa nyaman inilah yang di harapkan Risma saat dengan Anton. Pria pertama yang menjadi cintanya, Risma terkadang berharap jika pria ini tak bertindak cabul lagi di tempat umum yang membuatnya risih.


Tangan Anton yang kekar pernah membelai paha Risma saat di kantornya meskipun sepi tapi itu tetaplah tidak pantas. Risma masih teringat Fera yang entah berada dimana, wanita itu pernah menanyakannya pada Hisako sepupunya yang mengatakan Fera sudah berhenti memainkan film dewasa dan entah berada dimana sekarang.


Meskipun Wanita berparas Australia itu pernah menyakiti Risma tapi tetap saja sebagai sesama manusia Risma merasa tak tega, entah dimana Fera yang sekarang terkena Aids. "Ya allah maafkan dosa-dosa ibu hamba yang menyakiti semua orang."


Risma mulai menutup matanya setelah banyak pikiran yang melayang-layang memenuhi otaknya.

__ADS_1


#BERSAMBUNG


__ADS_2