
Hisako masuk apartemennya tentu dari hadapannya sudah ada Risma menatapnya dengan tajam sambil melipat kedua tangannya. "Yumeko kau membuatku kaget!" ucap Hisako sambil membenarkan kardigannya. "Darimana kamu Hisako!" tanya Risma dengan ketus."Sudah aku peringatkan jauhi Andriaa, ini soal nyawa."
"Kenapa!? apa aku salah untuk jatuh cinta!!" kata Hisako dengan marah.
Hisako yang tak ingin berdebat lebih jauh oleh sepupunya ini memilih memasuki kamar, "Hisako kita belum selesai bicara tolong jagan pergi dulu!!" seolah Hisako tak menghiraukan ucapan sepupunya yang memanggilnya gadis berparas Jepang itu langsung masuk ke dalam kamar.
"Ya Allah!! Ya allah tolong jangan sampai ada nyawa lagi yang hampir melayang." Risma memohon dalam hatinya ia amat merasa berdosa karena ia yang mulai menggali lubang, seandainya dulu ia tak mementingkan ego dan memilih hidup bersama Anton mungkin saja masalah tak sebesar ini.
Risma segera mandi untuk mengantikan Mertuanya di rumah sakit.
Di rumah sakit Karina duduk di pangkuan ayahnya tak hentinya gadis kecil itu banyak berbicara. Jiwa anak-anak dalam diri gadis kecil itu mulai keluar, Anton mengajari Karina caranya mewarnai lalu Anton mencium putrinya itu sambil membelai lembut rambut putrinya.
Clara dan Gani yang melihat itu tersenyum bahagia lantaran kedekatan Cucunya dengan Anton selaku Ayahnya. Karina bersama Anton mulai mengeluarkan sikap selayaknya anak kepada ayahnya, dan dengan Clara Karina dekat selayak Cucu yang di manja oleh Neneknya berbeda saat bersama Yukita Konawa.
Karina justru malah ketakutan karena kekejaman wanita Yakuza, Risma sampai di ambang pintu sambil membawa martabak untuk keluarga Anjaya. Mereka tak menyadari jika Risma sudah di hadapan mereka. Risma tersenyum melihat Karina sangat nyaman saat bersama Anton Apalagi Karina menaruh kepalanya di ceruk leher ayahnya.
"Risma!!" panggilan Clara membuyarkan lamunan dan senyuman Risma.
Risma mendekat kemudian menghampiri putri dan suaminya, "Risma, besok saya sudah boleh pulang," ucap Anton yang tangannya sudah tak di pasang selang infus lagi. "Mama martabaknya di makan dulu." Risma bicara pada Clara sang ibu mertua.
"Iya sayang." Clara tersenyum pada menantunya.
"Kak Risma." Risma menoleh ke Gani adik iparnya. "Iya." Risma menatap sang adik. "Kojiyama menelponku katanya saat sampai di jakarta dia sudah menyiapkan kebaya dan beberapa persiapan untuk ijab qobul." Gani bicara demikian, tentu hal itu membuat Anton juga Clara terkejut dan senang.
"Kenapa mama gak di kasih tahu Gani?" ujar Clara.
"Iya kok gak kasih tahu kita lu." Anton menjawab.
"Biarin aja ini sebagai kejutan." Gani bicara begitu pada semuanya yang ada ruang VVIP. '----juga sebagai permintaan maaf dan penebusan rasa salah gua ama Risma.' Gani membatin dalam hatinya.
Saat jam besuk habis yaitu waktu mau petang Clara mengajak Cucunya pulang ke rumah tapi Karina malah semakin mengeratkan pelukan pada ayahnya. "Karin pulang dulu sono ama Oma, besok ke sini lagi." Risma juga berusaha membujuk tapi Karina tetap memeluk ayahnya.
"Mau sama Papa...," ucap Karina sambil memeluk Anton dengan erat seolah tak ingin berpisah dari Anton.
"Karin pulang dulu, besok kesini jemput Papa." Clara juga berusaha membujuk cucunya.
__ADS_1
"Gak mau__Papa." Karina memeluk Ayahnya dan mulai menangis malah wajahnya di sembunyikan di ceruk leher sang ayah membuat Anton tak tega bahkan tak mau melihat putri kesayangannya sedih. "Biarkan dia bersamaku besok 'kan aku pulang hanya satu malam saya di rumah sakit." Anton juga berusaha meyakinkan keduanya.
"Tenang sayang, iya kamu disini sama papa." Anton membelai rambut putrinya sambil memeluknya. Risma menghelai nafas berat dan juga Clara. "Baiklah Risma, Mama pulang Titip Karina dan Anton." Wanita berparas Italia itu memeluk menantunya dengan erat.
"Iya mama itu pasti."
Gani berjalan mendekat dan____bicara pada Kakak iparnya itu. "Kak Risma besok langsung ke Jakarta aja ama kita," ucapan Gani. "Lah terus barang-barang saya ama Karina gimana?" tanya Risma. "Semua udah di handle ama Kojiyama, ini pesan whattsaap dari Kojiyama." Gani menunjukan pesan itu pada Risma.
Risma sedikit tak percaya pada yang di lakukan adik-adiknya seperti ada masalah atau rahasia yang mereka sembunyikan, karena gerak-gerik Gani dan Kojiyama juga mencurigakan. Risma akan menelpon adiknya yang di apartemen saat mertua dan adik iparnya pergi.
Karina dan Anton semakin dekat membuat Risma menjadi tercampakan, Karina terus bertanya pada sang ayah tentang apa saja yang ada di otaknya karena rasa ingin tahu. Risma memutuskan untuk menelpon adiknya di luar ruangan.
"Selamat siang, Kojiyama."
"....."
"Dengar aku sudah tahu semuanya dari Gani, siapa bilang aku akan menikahi Anton!" maki Risma pada adiknya.
"...."
"Kojiyama kau tak bisa, mengambil keputusan sepihak dan---"
"...."
"...."
"Karina tak perlu kasih sayang ayahnya!!"
"....."
"Aku tak tahu Koji, kau---"
"...."
"Berhenti bicara melantur, Anton baru sembuh."
__ADS_1
"...."
"Aku menghawatirkan____hiks_____Anton dan putriku____hiks____kau tak pernah mengerti perasaanku___saat Anton tertembak seolah aku mati rasa!!!" Risma memaki adiknya, bukan tanpa alasan dirinya tak mau kembali pada Anton ini semua karena ketakutan akan kehilangan Anton.
"......"
"Kau yakin bisa menghalau serangan Yakuza, Kau tahu Okasan dalam bertindak hati-hati dan mematikan." Risma memngusap kasar air matanya.
"....."
"Arigatho," ucap Risma mengakhiri percakapannya.
Risma menggenggam erat ponselnya di dada dan hatinya takut jika ibunya berbuat nekat lagi, Kojiyama di telpon berusaha meyakinkan kakaknya jika semua akan membaik. Risma ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar tak terlihat menangis.
"Ya allah tolonglah hamba percaya engkau menyatukan hamba dengan Anton, tapi tolong jangan ada korban kali ini." Risma membatin sambil berjalan menuju kamar Anton.
Risma memasuki kamarnya Anton sedikit heran melihat Risma sepertinya habis menangis. Tetapi di urungkan karena ada putri mereka satu-satunya. Karina sedang makan martabak manis sampai belepotan di mulutnya Anton dan Risma tertawa melihat putri mereka seperti itu.
Wanita berparas Jepang-Indonesia itu mengambil beberapa tisu untuk di berikan pada Anton agar mengelap mulut putrinya saat itu mereka saling menyentuh tangan masing-masing membuatnya bertatapan sejenak. Tak lama mereka terbuyar tatkala Karina yang ingin mengambil minum botol di nakas malah menjatuhkan botolnya.
Risma mengambil botol minum itu lalu memberikan pada Anton, pria itu mengelap wajah putrinya dan tangan mungil Karina dengan banyak tisu, Karina, Anton juga Risma menikmati martabak bertiga selayaknya keluarga kecil.
Kebahagian seperti inilah yang sesungguhnya di dambakan oleh Anton dan Risma tak perlu mewah hanya engan kesederhanaan mereka mampu membuat kebahagian itu sendiri, Risma dan Anton mulai menyadari jika rasa ego mereka yang membuat semuanya kacau.
Lubang petaka telah tergali tapi baik Anton maupun Risma berusaha untuk menutup lubang itu kembali, luka yang di berikan Anton dulu juga perlahan sudah hilang tapi dari lubang itu telah keluar kalajengking berbisa yang akan menghancurkan semuanya.
Anton membacakan cerita soal dongeng tangkuban perahu membuat Karina tidur dengan pulasnya di dalam dekapan Anton, dengan mulut yang di bersihkan oleh Anton Karina mulai terlelap. Anton terus menciumi putrinya. "Karina harumnya seperti Mawar," ucap Anton yang melihat putrinya tidur pulas.
Keesokan paginya Anton di bawa dengan kursi roda untuk ke bawah sedangkan Karina di bawa oleh Clara di gendongannya, Anton memasuki mobil dan bisa berjalan dengan baik tapi dadanya masih terasa sakit akibat peluru.
Keluarga Anjaya membawa Risma dan Karina pulang ke Jakarta saat itu juga dengan jet pribadi milik mereka, Karina belakangan ini selalu bersama Anton. Bahkan kedekatan keduanya membuat Risma menjadi iri dengan Anton.
#BERSAMBUNG
.
__ADS_1
.
.