
Risma sedang duduk bersama di atas tikar menikmati hari bersama Anton, tak lama ada seseorang yang menarik lengannya itu Yukita Konawa membawa para gangster yang di setiap pinggangnya membawa benda tajam. "Okaasan!" Risma berdiri menyaksikan ibunya marah sambil menodongkan senjata yang membuat orang-orang juga mundur dan lari ketakutan.
"Kamu jauhi anak dan cucu saya!"
"Tapi apa yang salah!! saya ingin memperbaiki semuanya!" Anton juga tak kalah berteriak sambil menodongkan pistol di tangannya ia mengeluarkan dari saku bajunya.
Yukita Konawa juga mengeluarkan Pistol dari dalam tasnya menodongkannya ke Anton. "Aku peringatkan jauhi anak dan Cucuku." Semua anak-anak pada berlari ketakutan termasuk Karina yang berlari lalu memeluk ibunya. "Mama...," ucap Karina.
Risma memeluk Karina yang tubuhnya bergetar ketakutan, anak sekecil itu sama sekali tak tahu konflik yang di hadapi keluarganya. Yukita langsung mengeluarkan kertas dari dalam tasnya kemudian melemparnya ke wajah Anton. "Kau tanda tangani itu agar putriku bisa mengurus kepindahan kewarganegaraannya!"
Anton tersenyum sinis lalu mengambil surat cerai itu lalu merobek-robeknya kemudian melemparnya kembali di hadapan wajah Yukita. "Aku tak akan mengurus perceraian, Risma dan Karina hanya miliku!! hanya milikku!" tegas Anton yang tak ingin anak dan istrinya pergi lagi.
"Apa maumu agar bisa menceraikan putriku secepatnya?!" ucap Yukita sambil berdebat dengan menantunya.
"Aku minta hak asuh putriku!!" ujar Anton dengan tegas.
"Kau hilang akal Anton Anjaya!!" debrak marah Yukita.
"Ya!! aku hilang akal selama ini!! karena penyesalan!!!" teriak Anton.
Risma masih sangat muda jadi sering kali bimbang dalam memutuskan sesuatu. "Kemana saja kau selama ini!! saat putriku mengandung!! kau hanya membela wanita sundalmu!!" maki Yukita matanya melotot dengan marah. Anton terdiam menatap istrinya yang sedang memeluk putrinya.
"Kenapa Anton Anjaya!! Anda tak bisa menjawab!!!" tantang Yukita pada Anton.
"Memang benar kau penyebab penderitaan putriku!! membuat masa depannya hancur!! bahkan kau telah membunuh bayi yang tak berdosa!!" lanjut Yukita dengan inotasi suara meninggi.
"Aku ingin kesempatan kedua!! apa aku tak pantas menerimanya!!" Anton memaki Yukita.
"Aku lebih baik mati!! dibandingkan harus hidup tanpa anak dan istriku!!" Anton berteriak-teriak. "Aku tak takut meski harus berurusan dengan Yakuza!! dan siap menemukan ajalku."
Mendengar hal itu Risma langsung membulatkan mata dan mendekati Anton. "Apa maksud kamu?" tanya Risma dengan menatapnya sambil mengendong Karina yang ketakutan. "Jika kamu lebih puas melihat saya mati maka lakukan...," kata Anton lirih.
__ADS_1
"Kau jangan gila!! jangan biarkan Karina menjadi yatim!!____Okaasan tolong hentikan ini!!" Risma tak ingin ibunya menjadi pembunuh.
"Yumeko jika ia ingin mati maka pantas menerimanya___nyawa di bayar nyawa sama dengan cucuku," jelas Yukita dengan mata berkaca-kaca.
Anton mendekat kemudian mengarahkan tangan Yukita ke dadanya dengan pistol, pria itu menantang Yukita untuk menarik pelatuk pistol ke dadanya untuk membunuhnya.
"Maka lakukan sekarang jika itu yang anda inginkan Nyonya Konawa!!" ucap Anton. "Okaasan jangan!!" cegah Risma.
Yukita seolah terpancing dengan perkataan Anton jadi dengan jiwa pembunuh berdarah dinginnya ia menarik pelatuk kemudian mengenai dada Anton, tubuh Anton terkapar tak berdaya. Risma yang melihat itu berteriak.
DORRR!!!
"ANTON!!!!!!!!!!!!!!!!" teriak Risma ia terduduk lemas dengan mata mengeluarkan cairan bening, tangis Risma pun pecah tatkala pria yang ia cintai terkapar dengan dada yang terkena peluru.
"PAPA!!!!!!!!!!!!!!!" Karina mendekati ayahnya menguncang-guncangkan tubuh ayahnya. "Papa bangun!!"
"Obachan jahat!!" Karina berteriak.
Risma menangis hanya bisa luruh isakan tangisnya tak berhenti tatkala ia melihat Anton terkapar sekarat, "kalian cepat bawa ke rumah sakit terdekat sekarang!" perintah Amara. Tak lupa ia membantu Risma berdiri kemudian menatap Yukita mantan kakak iparnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Dasar wanita pembunuh!! psikopat!!!" maki Amara. "Chamkan ini!! Kau akan di deportasi karena telah berbuat kriminal di negara orang!!" Yukita terdiam Anton di bawa ke rumah sakit dengan mobil pribadi.
"Anton bertahanlah!!" Risma menggenggam tangan Anton kemudian pria yang masih setengah sadar itu mencium punggung tangan milik istrinya lalu menempatkannya di dada, setelah itu Anton tak sadarkan diri dengan darah yang masih merembes di kemejanya. "Anton!!" Risma memeluk erat pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Sesampainya di rumah sakit Anton di baringkan di brankar untuk masuk ICCU agar nyawanya terselamatkan tak henti-hentinya Risma menangis menghawatirkan Anton yang sebenarnya hatinya masih untuk Anton. Begitu juga Karina meskipun anak itu tak bersama oleh ayahnya tapi ikatan batin antara ayah dan anak sudah mulai terjalin.
Risma dari tadi menangis tiada henti karena khawatir kepada Anton dirinya tahu selama ini sudah mencintai Anton meskipun ditutupi oleh rasa benci, "hiks__tante Amara___hiks__hiks." Amara merangkul Risma berusaha menenangkan keponakannya itu. Tangannya mengusap-ngusap bahu Risma Karina diam mematung hanya airmata saja yang mewakili perasaannya tanpa ada isak tangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*
__ADS_1
*
*
Anton heran dirinya memakai pakaian putih dan berada di taman yang indah dengan air terjun, burung-burung berkicau ria, tak lama dari belakang ada suara seorang anak yang memanggilnya.
"Papa...," ucap anak itu. Anton menoleh ke belakang melihat seorang anak perempuan berdiri tersenyum. Anton mendekat lalu memeluknya.
Meskipun ia tidak tahu siapa anak itu tapi hatinya menuntun untuk memeluk anak itu. Anton memperhatikan lagi wajahnya anak itu mirip dengan Karina putrinya umurnya sekitar lima tahun, apa Karina sudah sebesar ini pikirnya. "Papa ayo ikut aku! aku sendirian!" ajak anak itu.
Hati Anton mengatakan harus ikut pada anak itu karena rasa rindu yang mendalam akibat kehilangan seseorang, tapi disaat ia ingin melangkah lebih jauh mengikuti anak itu suara panggilan dari belakang membuatnya berhenti melangkah. "Anton! berhenti!!" teriak seorang wanita dari belakang.
"Papa ayo ikut aku!" ajak anak perempuan itu sembari menarik tangan Anton.
Anton menoleh ke belakang melihat Risma dengan sangat indah memakai gaun putih dengan kalung mutiara wajahnya berpoles makeup, "papa ayo!! temani aku!!" ajak anak itu.
"Anton jangan ikut!! dia Kirana kembali Anton!!" ucap Risma sambil terisak tangis.
"Kirana!" Anton langsung memeluk putrinya dengan erat.
"Anton tolong kembali!!__hiks__hiks__ayo lihat aku!!" Risma luruh kerena Anton seolah bimbang dengan pilihannya antara anak atau istri. Risma mengandeng seorang anak perempuan yang sudah di pastikan itu adalah Karina yang berusia sudah lima tahun sama seperti Kirana.
"Jangan pergi Anton___hiks___hiks___Aku mencintaimu___hiks." Risma bicara demikian Anton tersenyum kemudian ia ingin mendekati istrinya tapi tangannya di hadang oleh Kirana. "Papa aku sayang sama papa, tolong ikut aku." Kirana seolah tak ingin ayahnya pergi.
"Anton kembali," ujar Risma memohon dengan luruh di tanah berharap suaminya menghampirinya. "Anton pikirkan aku juga Karina!!" Risma menangis membuat Anton ingin berbalik arah tapi Kirana terus menahannya, rupanya Kirana tak ingin ayahnya pergi.
"Papa ayo ikut aku saja, agar deritamu hilang!!" Kirana menarik lengan ayahnya.
"Anton kembali_____jangan ikut Kirana___hiks." Risma menangis tak lama hiasan mutiara di kepalanya jatuh ke tanah menyisakan butiran-butiran mutiara yang menandakan kepiluannya ia tak ingin Anton pergi.
Anton terdiam sampai akhirnya ia sudah putuskan akan ikut anak atau istri, agar penderitaannya selesai dan ingin mengakhiri semua masalah. Anton menatap Kirana mendiang anaknya lalu memeluknya melepaskan rasa rindu dan penyesalan yang mendalam, sedangkan di ujung sana Risma menangis sambil mengandeng Karina putri mereka yang masih hidup.
__ADS_1
#Bersambung