Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 11


__ADS_3

Risma siang ini harus ke kantor suaminya lantaran untuk mengambil buku nikah, gadis berparas Jepang itu menarik nafas dalam-dalam lantaran ini hari terakhir untuknya menjadi seorang istri dari pria yang ia cintai, tak ada kenangan manis semuanya terasa pahit seiring berjalannya waktu hatinya sudah mulai pudar akan cinta untuk Anton.


Wanita hamil itu mengusap perutnya lantaran ia akan menjadi single mother setelah ini, Risma berjanji untuk membesarkan dua orang anaknya tanpa minta uang sepeserpun dari Anton Darma Anjaya.


"Woy!! Ris lu mau kemana?" tanya Hanna.


"Gua mau ke kantor suami gua, buat ngambil buku nikah."


"Hah!! kenapa!!" Hanna melotot tak percaya.


"Gua harus ningalin rumah itu, karena Fera mau nempatin." Risma sambil menahan air matanya lantaran tak tahu harus apa lagi, Risma berfikir untuk ikut sang ibu ke Jepang.


"Yaudah gua ikut, gak ada bantahan." Hanna langsung mengambil tasnya.


"Lah, kerjaan lu gimana?" tanya Risma.


"Ah, itu mah bisa nanti...," ujar Hanna. Gadis berparas setengah Jepang itu sudah berjanji pada Nyonya Konawa untuk memantau Risma karena Hanna merasa berhutang budi pada Yukita Konawa, saat sang ayah di tipu oleh seseorang dan perusahaannya mengalami kebangkrutan Yukita Konawa dengan sukarela membantu mencarikan penipu itu lalu membunuhnya dengan sadis dan mayatnya di bakar menggunakan bensin.


Perusahaan ayahnya Hanna bisa bangkit kembali, itu semua berkat Yukita Konawa memang tidak main-main untuk seorang Yakuza seperti Yukita Konawa. 


"Eh Hanna ayo udah nyampe...," Risma menepuk Hanna. 

__ADS_1


"Eh udah nyampe ya," ujar Hanna, mereka berdua mengenakan mobil pribadi milik keluarga Konawa karena itu Yukita sendiri yang menyuruhnya agar anak dan kedua calon cucunya baik-baik saja ia juga tak ingin putrinya lelah.


"Ini kantor Anton?" tanya Hanna menatap gedung pencakar langit di depannya.


"Iya, ya udah ayo." Risma menarik tangan Hanna ke depan ia bertanya pada sekretarisnya Anton dimana ruangan Anton, dan ternyata ruangannya di lantai paling atas jadi Hanna dan Risma menaiki lift dulu.


Akhirnya Hanna dan Risma sampai di ruangan Anton sang bos besar, saat ingin membuka tiba-tiba seorang satpam menghampiri mereka berdua. "Mbak maaf ini pintunya otomatis, kalo mau masuk tekan bel dulu." Satpam itu memberitahu mereka.


"Oh, iya makasih Pak." Hanna mewakili Risma bicara.


Mereka berdua melakukan apa yang di suruh oleh satpam itu yang sudah pergi saat menekan Bel di samping pintu, kemudian ada suara. "Siapa?" suara itu seperti Anton.


"Ini aku Kak, mau ngambil buku nikah." Risma berbicara dan kemudian pintu itu bisa terbuka, saat Risma membukanya ternyata pintu itu bisa di kunci secara otomatis hanya bentuknya saja selayaknya pintu pada umumnya.


"Mana buku nikahnya, saya akan segera pergi dari kamu dan setelah saya melahirkan kita bisa bercerai secara sah...," jelas Risma menatap Anton.


"Tunggu sebentar." Anton mengambil buku nikahnya di laci meja ruang kerjanya.


"Tuan Anjaya saya ingin bicara sebentar dengan Anda!" Hanna berkata tegas. "Mari keluar sebentar, Kalian bisa menunggu kami bicara." Hanna mengangguk kepada Risma juga Fera.


Fera dengan santai meminum jus di sofa ruang kerjanya Anton, saat mereka keluar untuk bicara di depan ruangan kerja Anton. 

__ADS_1


Risma di dekati oleh Fera, yang mengenakan sepatu bot warna hitam dengan hak tinggi, di padukan dengan rok pendek warna hitam dan baju lengan pendek warna ungu. "Mau apa lagi Anda?!" sinis Risma pada Fera.


"Gua puas bentar lagi lu bakal cerai dari Anton," ucap Fera sambil tersenyum.


Risma hanya menatap datar pada wanita di hadapannya ini, "setidaknya saya hamil anak Mas Anton!!" Risma mulai naik pitam. 


"Lo berani ama gua!! hamil anak orang lain aja bangga, terus ngaku hamil anak cowok gua lagi!!" tantang Fera pada tubuh Risma yang kecil karena Risma berdarah Asia.


Risma tersenyum sinis pada Fera. "Sundal? Fera Covrev bukankah terbalik. Tadi aku melihat lo anda berhubungan intim dengan suami saya, jadi yang sundal itu siapa?" tanya Risma sambil tersenyum.


"Eh, Lo---" perkataan Fera terhenti Tatkala Risma menyelaknya.


"Apa!!" JEDA "Dasar ****** ayahmu korupsi jadi kamu mendekati Anton cuman mau nutupin ****** keluargamu bukan...," ucapan Risma mampu membuat Fera diam seribu kata sontak Fera yang murka ia menjambak rambut Risma.


Apa daya tenaga wanita hamil itu tak sebanding dengan Fera sampai perutnya terbentur meja dan menjerit lalu kakinya keluar darah, membuat Anton dan Hanna yang sedang bicara masuk untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Risma!!" Anton berteriak menghampiri Risma. 


"Risma bangun, jangan buat saya merasa semakin bersalah dan berdosa." Anton mengeluarkan air mata.


"Eh lu apain temen gua pelakor!!" Hanna kembali mendorong Fera sampai ke tembok, "lo bakal ngerasain akibatnya, Fer." Hanna bicara demikian tentu saja saat Nyonya Konawa tahu tak perlu di jelaskan detailnya.

__ADS_1


Anton dan Hanna segera membawa Risma ke rumah sakit terdekat. Anton mengendong Risma.


__ADS_2