
Anton bersiap untuk ke kantor pagi ini lantaran ia harus meeting dengan klien dari Jerman, tapi sebelum itu dia ingin mengunjungi makam putrinya terlebih dahulu.
Anton mengemudikan mobilnya sambil memikirkan Risma istrinya dimana dia sekarang, dan bagaimana keadaannya juga Karina putrinya.
Meskipun tak ada kenangan manis yang ia lalui bersama istrinya. Anton amat menyesal karena sudah menelantarkan istri sebaik Risma tapi penyesalan tak membuat waktu menjadi mundur, Anton yang suatu hari nanti bertemu istrinya lagi ingin sekali membahagiakannya agar tak akan ada airmata yang tertumpah dari pelupuk mata istrinya.
'Risma saya mencintai kamu...Ya tuhan aku berharap bertemu istriku dan anakku kembali," batin Anton sambil menyetir menuju restoran untuk meeting.
⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─
.
.
.
Malam harinya di kota Tokyo banyak mobil-mobil terparkir manis di depan kediaman keluarga Konawa, Hisako menatap pria El Deanon dengan tatapan tak suka lantaran sudah terlihat dari tampangnya jika dia pria yang bejat.
"Selamat malam, Nyonya Konawa." Pria itu mencium punggung tangan Yukita.
"Selamat malam, Tuan Emannuel."
"Ini putriku Yumeko," Jeda "Dan___ini keponakanku Hisako yang akan di jodohkan olehmu."
Emanuel menatap Hisako dengan penuh minat tapi Hisako merasakan ada maut yang sedang menghadang, setelah makan malam dan berbincang. Hisako di persilakan berjalan-jalan dengan calon suaminya di taman.
__ADS_1
Hisako menatap Emanuel dengan kesal lantaran yang waktu itu membuatnya hampir celaka dan membuat ponselnya terjatuh di comberan.
"Nona Hisako, kau sangat cantik malam ini."
"Thankyou," ucap Hisako ketus.
"Jadi apa tujuanmu ingin menikahiku?" tanya Hisako dengan wajah yang terus di tekuk.
"Aku ingin menikahi pewaris kaya---"
Hisako tertawa membuat El Deanon menghentikan kalimatnya, "apa yang lucu?" tanya Emannuel.
"Aku tak mau di nikahlah olehmu!" tolak Hisako.
Pria itu dengan kasar menarik tangan Hisako yang membuat Hisako meringis kesakitan. "Beraninya kau menolakku?!" gentaknya yang membuat Hisako semakin ketakutan.
"Apa kau tahu sedang menolak pria tampan sepertiku." Satu kedipan genit membuat Hisako jijik setengah mati.
"Yah, sangat tampan tak lebih dari standar ketampanan ragunan." Hisako sambil menggoyangkan tangannya.
"Hei, mata minimalis berani sekali kau bicara padaku seperti itu!!" mereka berdua berdebat bukannya malam ini mereka saling mengenal tapi malah saling berdebat.
"Apa!!"
"Apa Om!!" maki Hisako.
__ADS_1
"OM??"
"Iya emang situ umur berapa?? udah tua masih ngincer yang muda, usia boleh tua ngeliat yang muda langsung nyosor."
"Tapi meskipun saya sudah tua, kau akan terpesona denganku." Emannuel mencolek dagu Hisako dengan satu tangannya.
"Jangan sentuh aku!!!" Hisako amat jijik dengan rayuan tak bermutu dari pria aneh di hadapannya ini.
"Lepas!!"
"Tidak akan!!"
"Lepas!!"
"Aku akan lepas jika kau mau menciumku, satu ciuman." Emmanuel memajukan pipinya tapi Hisako malah menginjak kakinya dan menendang juniornya lalu ia berlari masuk ke rumah.
"Shiitt!! Dasar mata minimalis!" ujar Emannuel yang memegang juniornya yang merintis kesakitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lisi menjadi ingat akan hinaan yang di lontarkan pada kakak iparnya ia sungguh menyesal lantaran semuanya berbalik padanya, tak lama Lisa memeluk saudarinya yang terduduk di sofa balkon.
"Apa yang Lu pikirin? jangan mendem semuanya sendiri?"
"Gua tahu tentang hukum karma ini, memang benar."
__ADS_1
Lisa amat sedih atas apa yang terjadi pada saudara kembarnya begitupun dia yang juga mendapatkan karma karena ia di bully sampai Lisa harus pindah kampus baru. Lisa juga jika bertemu pada kakak iparnya akan minta maaf dan jika perlu bersujud di kakinya agar bisa memutuskan karma ini.
#bersambung