
Di rumah sakit Anton berteriak membuat seisi rumah sakit gempar dengan teriakannya sambil membopong tubuh Risma yang sudah berlumuran darah, “dokter! Suster!! Tolong istri saya!!” teriak Anton. Dokter segera menidurkan tubuh Risma di brankar lalu membawanya ke ICCU.
“Bapak Anton harap tunggu di luar kami akan tangani istri bapak,” jelas salah satu perawat.
“Bang lu tenang, Kakak ipar akan baik-baik aja.”
“Bagaimana lu tahu?” tanya Anton yang menangis karena sangat mencintai Risma.
“Bang udah, gua yakin Kakak bakal selamat.”
Tak lama dokter keluar dari ruang ICCU melepas maskernya, “bagaimana keadaan istri saya Dokter?!” ucap Anton sambil mengusap air matanya. “Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang ada dalam tubuh Istri Bapak, Tapi---” kalimat Dokter itu terpotong.
“Tapi apa Dokter!!” tanya Anton yang tidak sabar sambil memegang kedua bahu Dokter lalu menguncang-guncangkan tubuhnya.
“Bang tenang!!” tegur Gani adiknya dengan berusaha melepaskan tangan kakaknya dari Dokter.
“Tapi hanya satu yang bisa di selamatkan Ibu atau anaknya,” ujar Dokter itu.
Seolah petir menyambar tubuh Anton air mata dengan luruh di pipi pria malang itu yang kena cobaan bertubi-tubi, rasanya semua harapannya dengan Risma pupus sudah rasanya ia ingin bunuh diri.
***
Amara dan Kojiyama tidak ikut ke rumah sakit karena masalahnya dengan Yukita Konawa, “apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada Salsa dan Fera?!” maki Amara pada Yukita dengan Salsa di samping Amara menggunakan cadar hitam.
“Okasan! Perbuatanmu telah memakan korban lagi!! Kakak!!” marah Kojiyama yang sama sekali tak percaya dengan tindakan ibunya, “okasan selalu mengajariku kebaikann sewaktu kecil tapi apa yang okasan lakukan sekarang!!” lanjut Kojiyama pada ibunya.
Kojiyama tak percaya ibunya bisa melakukan hal sekotor itu, menjual gadis dan membuat kehidupan seorang gadis hancur, apa Yukita tidak melihat dirinya adalah seorang perempuan dan apa yang Yukita Konawa pikirkan jika sesuatu terjadi pada Risma, Karina atau Hisako.
Emmanuel sudah di bawa ke rumah sakit dengan posisi penahan oleh pihak kepolisian Indonesia karena rekam kejahatannya sudah tersebar di seluruh dunia, “kamu di tahan Tuan karena kamu buronan internasional.” Polisi berucap seperti itu pada Emmanuel yang sedang di baringkan untuk di bawa ambulance.
Amara mengusap air matanya kasar lalu mengajak Kojiyama untuk ke rumah sakit dengan alamat yang sudah di sharelock oleh Gani, “Nak ayo kita ke rumah sakit!” ajak Amara. Di rumah sakit Amara, Kojiyama, juga Salsa ikut berangkat.
Salsa di suruh Amara menganti pakaiannya dengan gaun berbahan longgar, saat tahu Salsa tengah mengandung cucunya yakni bayi surogasi atau ibu penganti. “Jadi selama ini kamu mengadung cucuku!” ucap Amara tak percaya sambil menutup mulutnya tak lupa air mata keluar.
“Lalu dimana putriku, Nak?” tanyanya sambil memeluk Salsa.
Salsa menjelaskan jika Siska ada di rumah Emmanuel dekat perumahan yang tak jauh dari tempat kejadian perkara, “Salsa sudah lebih baik kamu jaga kesehatan baik-baik karena kamu tengah mengandung cucuku, mau aku siapkan sesuatu?” tawar Amara.
__ADS_1
“Hanya pekerjaan dan tempat tinggal untuk kelima anak-anakku,” pintanya.
***
Di rumah Clara menjerit histeris tatkala mendengar percakapan suaminya dan Mang Adi jika terjadi sesuatu pada Risma, penyakit paranoid yang di derita Clara sejak ia lahir membuatnya mudah panik.
“Panji apa yang terjadi kepada menantuku!!” ucap Clara.
“Tenang dulu sayang kamu masih lemah,” nasihat Panji.
“Bagaimana bisa tenang telah terjadi sesuatu pada menantu kita.”
“Aku minta kamu tenang dulu,” pinta Panji.
“Kita akan ke rumah sakit sekarang! Tapi aku minta kamu tenang dulu!” ujar Panji.
Clara meminum air putih yang di berikan oleh Lisi lalu ia bersiap untuk ke rumah sakit melihat keadaan menantunya, “Mang saya titip Lisa dan Lisi.”
“Siap Tuan!” patuh Mang Adi.
“Aduh kenapa pake acara macet!!” ucap Clara dengan panik.
Rupanya wanita berparas Italia itu sangat tidak sabar juga di hatinya memanjatkan doa untuk keselamatan menantu dan cucunya, “aduh Mas aku sangat menghawatirkan Risma! Bagaimana perasaan Anton sekarang!” ujarnya.
“Aku minta kamu tenang Clara!!” ucap Panji pada Clara sambil menguncang-guncangkan tubuhnya lalu setelah Clara diam baru Panji memeluk istrinya.
****
“Selamatkan Risma! Selamatkan istri saya Risma!” ucap Anton lalu menandatangani dan menyuruh Dokter itu menyelamatkan istrinya.
Anton sangat lemas sampai Gani membantu kakaknya itu untuk duduk di kusi depan ruang ICCU, lalu berusaha menenangkan kakaknya. Anton sama sekali tak menyangka jika istrinya yang harus menderita.
Sesampainya di rumah sakit Amara dan lainnya masuk mencari keberadaan Risma dan Anton dengan menaykan beberpa orang perawat, setelah mereka tahu dimana Anton ternyata di depan ruang ICCU mereka langsung kesana.
“Anton!” panggil Amara, Kojiyama, dan Salsa.
Mereka melihat Anton sangat deperesi tatkala mengetahui keberadaannya mereka langsung menghampirinya. “Kak Anton!” panggil Kojiyama.
__ADS_1
Mereka melihat Anton dalam keadaan deperesi matanya sembab dan menangis sangat lama, mereka langsung berpelukan. “Anton, Tante yakin...Risma akan baik-baik saja juga calon anak kalian.”
Amara mengelus bahu Anton, wanita berdarah asli bumi putera itu juga meneteskan air mata tatkala melihat kondisi keponakannya. Salsa melihat semua keadaan nampak memperihatinkan gadis itu hanya mengelus dadanya.
Risma adalah wanita yang luar biasa, tak lama Clara datang dengan tergopoh-gopoh. “Anton!! Bagaimana keadaan Risma!! Bagaimana keadaannya.” Anton berusaha menenangkan ibunya yang Paranoid yang di deritanya kambuh lagi.
“Mama! Tenang!” ucap Anton sambil memegang kedua pipi Clara lalu memeluknya.
Clara melihat kemeja Anton yang berwarna putih menjadi merah karena darah Risma yang menempel di kemeja Anton, tak lama para suster masuk membawa peralatan operasi hatinya Anton semakin pasrah ia terduduk lemas karena ia amat mencintai istrinya.
“Aku akan bunuh diri jika Risma tiada!” tekad Anton membuat semua melihat Anton.
“Anton apa yang kamu katakan!” tegur Amara matanya membulat kemudian mendekati Anton, “kamu harus ingat ada Karina yang butuh kamu!” lanjutnya. “Apa yang kamu katakan Amara?!” ucap Clara heran sambil menekan keningnya.
“Ya! Karina cucu kita kembali! Termasuk putriku Siska, Emmanuel menjadikan Salsa alat untuk menjadi ibu surogasi yang tengah hamil anak Siska dan Emmanuel.” Sontak penjelasan Amara membuat semuanya kaget kecuali Anton yang tahu sendiri karena waktu ke rumahnya Salsa bercerita semuanya.
Yukita ke rumah sakit membuat semuanya menoleh tatapan mereka seolah mengitimidasi dan muak, Clara dengan emosi menghampiri Yukita besannya. “Kamu puas! Kamu puas!!!!” teriak Clara pada Yukita.
Kemudian jari Clara menunjuk-nunjuk Yukita dengan wajahnya yang di penuhi air mata, “lihat perbuatanmu, putrimu sendiri yang menjadi korban!! Kamu ingin kebahagiaan untuk Risma tapi justru kamu sendiri yang menengelamkan menantuku dalam lautan derita!!” maki sambil menunjuk-nunjuk Clara lalu mengusap air matanya.
“Kamu diam sekarang! Apa kamu sanggup memikul derita dari orang-orang yang telah kamu hancurkan?!” lanjutnya, “lihat Fera yang kau bunuh, Salsa yang hidupnya kamu hancurkan!!!” jeda “keponakanmu Hisako yang kamu ingin jatuhkan selanjutnya beruntung gadis itu selamat, lihat putraku menantumu yang sudah kamu buat hancur, dan lihat putrimu!! Apa kamu menyesal?!” kata Clara dengan setiap kaliamat ia menunjuk-nunjuk.
“Aku tak menyesali apapun!! Salsa dan Fera pantas menerimanya!!” balas Yukita dengan marah dan menangis, “dan cukup Clara! Aku menghormatimu karena putriku mencintai putramu dan kau nenek cucuku!” maki Yukita dengan suara keras dan juga dengan lelehan air mata di pipinya.
“Dasar wanita berhati kejam!!” Jeda “Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan dengan menembak Karina! Kamu sadar!!” maki Clara dengan air mata dan isak tangis.
“KALIAN CUKUP!!” lerai Amara dan Panji.
“Ini rumah sakit, orang-orang sudah melihat kalian!” tegur Panji.
Tak lama dua perawat datang karena melihat kerumunan dan keributan dari dua ibu-ibu yang berkelahi dengan mulut, “mohon tenang ibu berdua karena ini rumah sakit akan menganggu pasien lainnya.” Dua orang Perawat menghampiri dua wanita yang berparas Asia dan Eropa itu.
“Kami akan tenang Suster, kami minta maaf,” kata Amara memwakili semuanya. Panji membawa istrinya menjauh dari Yukita.
BERSAMBUNG
__ADS_1