Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 5


__ADS_3

Risma hanya diam tatkala di dalam mobil sedang menuju rumah mertuanya, "Kamu jangan suka cari muka nanti depan Mama saya, apa lagi adik-adik saya." Ucap Anton sambil fokus menyetir.


"I-iya...," jawab Risma dengan lirih.


Sesampainya di rumah seorang wanita paruh baya menyambut anak dan menantunya, Mereka terus berbicara panjang lebar ini pertama kalinya Risma terlihat bahagia setelah menikah dengan Anton.


"Ya ampun menantu Mama, perutnya sudah membesar gimana calon cucu mama?" tanya Clara seorang wanita berdarah Italia tersebut.


"Sehat Mah…," ucap Risma gadis bermata sedikit sipit.


Anton dengan kesal meninggal istrinya dengan Ibunya karena ia tak terlalu suka jika Risma terlalu dekat dengan keluarganya dengan alasan ia ingin segera lepas dari Risma.


Senyum manisnya terus mengembang ketika berbicara dengan Ibu mertuanya. Orangtua suaminya sangat baik dan mau menerima Risma dengan senang hati kecuali adik-adiknya Anton, yakni si kembar namanya Lisa dan Lisi. Serta Gani adiknya Anton.


Risma sangat bersyukur lantaran sendiri kecil dirinya tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu, hanya seorang Ayah yang pernah ia rasakan kasih sayangnya tapi Ayahnya meninggal dunia setelah ijab kabul dirinya.


"Jangan terlalu dekat sama dia, dia itu 'kan gadis dari kalangan orang miskin apalagi dari kampung." Ujar Lisi dari atas tangga.


"Jadi jangan terlalu percaya kalo dia itu benar- benar hamil anaknya Kak Anton, mungkin aja dia hamil sama orang lain dan kebetulan sudah di perkosa, jadi nyalahin Kakak kita biar bisa hidup enak." Lanjut Lisa yang berdiri di samping Lisi saudara kembarnya.


"Lisa! Lisi, apa maksud kalian ngomong seperti itu?" seorang perempuan paruh baya itu bertanya dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Ya, 'kan kita nggak tau asal usulnya jadi mungkin aja 'kan kalo dia itu sebenarnya bukan wanita baik-baik." kata gadis bernama Susi yang sepertinya sepupu dari Anton.


Setelah itu tiga gadis berumur belasan tahun itu tertawa untuk menuju kamar mereka yang terletak di lantai atas. "Sayang jangan di pikirkan, ya."  Clara Ibunya Anton sambil menenangkan menantunya.


Si kembar Lisa dan Lisi sering membuatnya menangis mereka adik-adiknya Anton tetapi mereka hanya menganggap Risma adalah perempuan dari kampung yang tak punya kelas sosial yang sama. 


Clara mengajak menantunya untuk periksa kandungan yang sudah nampak membuncit, 'mungkin perasaan Ibu hamil akan membaik setelah periksa kandungan.’ Batin Clara sambil menatap menantunya di dalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit, saat di periksa USG oleh sang dokter kandungan. Dokter mengoleskan gel untuk di USG.


"Apa Ibu mau dengar detak jantungnya?" tanya seorang dokter perempuan berparas Turki itu.


Setelah selesai USG dokter bermata biru tersebut menyerahkan foto kepada dua wanita itu, "gimana Dok?" tanya Clara. Dokter Yaren memberikan foto hasil USG. "Anak anda kembar, Bu." Ucap dokter Yaren dengan tersenyum.


"Alhamdulillah jadi gak sabar nunggu kedua Cucu Mama...," ucap Clara dengan Antusias.


"Ini resep vitamin dan obatnya, saya sarankan jangan terlalu lelah." Dokter Yaren memberikan resepnya.


⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─


Risma pulang sambil tersenyum dan tak sabar memberitahu suaminya, dengan begitu mungkin saja suaminya akan berubah dan mulai menerima dirinya.

__ADS_1


Tetapi sesampainya di di rumah hal yang pertama ia temui adalah Anton sedang bersama Fera berdua tanpa rasa malu.


"Mas...," ucap Risma dengan lirih.


"Risma!" Anton menatap istrinya, "ngapain lo ******, udah sana pergi!" hardik Fera.


Risma ke dapur air matanya luruh, "Ya tuhan hamba ingin cepat pergi dari rumah ini." Risma membatin dalam hatinya.


Risma segera makan meskipun makanan rasanya hambar karena pikirannya ia akan tetap makan demi anak kembar yang ada dalam kandungannya. 


Setelah makan dan minum obat Risma memutuskan kembali ke kamarnya untuk mengerjakan pekerjaannya di perusahaan Jepang.


⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─


Anton dan Fera tanpa rasa malu berpelukan di depan Risma sungguh sial bagi gadis itu lantaran hatinya sudah terpikat oleh Anton. Saat malam hari Risma mendengar suara berisik dari luar kamarnya ia segera menghentikan pekerjaannya untuk menengok apa yang terjadi di luar kamarnya.


"Eh ton, gua pengen coba dong ****** lu." Andria mengatakan demikian, Risma hanya diam menahan amarahnya lantaran ia tak boleh menunjukan rasa amarahnya.


"Ngapain anjir, nyoba dia. badannya 'kan udah di pake orang siapa tahu dia kena penyakit HIV." Fera menambahkan dengan menatap Risma hina.


Risma hanya menunduk menyembunyikan air matanya, berharap mendapatkan pembelaan dari Anton tetapi percuma hasilnya nihil tak ada pembelaan dari sang suami.

__ADS_1


__ADS_2