Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 63


__ADS_3

Siang ini keluarga Anjaya baru pulang ke rumah mereka dengan membawa Karina. Anton dan Risma saling berbincang mengenai Yukita Konawa dan Emmanuel Dilson El deanon yang berhasil kabur dari penjara menuju Mumbai.


Karina sibuk memainkan ponsel pintar milik sang ayah di jok belakang bagian mobil tanpa peduli apa yang di bicarakan orang tuanya, "Risma kita bicarakan di rumah di belakang ada Karina." Anton bicara seolah merasakan keberadaan putrinya.


"Aku paham Karina, dia saat sedang asyik dengan suatu hal tak akan peduli apapun." Risma paham akan tabiat putrinya.


Anton terdiam tanda tak ingin mereka bicara karena ada hal yang tak pantas di dengar oleh anak kecil. Anton dan Risma merasa sebagai orangtua bagi Karina ada rasa khawatir akan Karina. Takut akan Yukita secara diam-diam menculik Karina.


Di rumah Risma turun ia menghirup nafas panjang lantaran harus kembali ke rumah yang dulu telah menjadi saksi kepedihannya saat mengandung Karina. Tapi Risma melangkah masuk secara perlahan, Anton paham akan perasaan istrinya.


Tangan kekar Anton melingkar di pinggang ramping istrinya dengan menyamping lalu berjalan masuk seolah Anton yang membawa istrinya masuk ini pertama kalinya Risma merasa suaminya begitu lembut padanya. "Ayo masuk, sayang."


Risma melangkah masuk sedangkan Karina berlari masuk, "wah rumahnya besar sama kaya punya oma!" ucap Karina.


Risma tersenyum tipis dengan sudut bibirnya hatinya merasa berbunga tatkala keluarga kecil yang didambakannya kembali, setelah melewati banyak rintangan dalam rumah tangganya. "Karina! kamar kamu di atas," ajak Anton sambil mengendong putrinya.


Karina di turunkan Anton di kamar anak perempuan dengan tema warna pink ada banyak mainan dan boneka. "Kok aromanya begini? apa baru selesai kamu cat?" tanya Risma.


Anton mengangguk lalu melihat putrinya bermain di rumah mainan di kamarnya yang luas, "ayo ke kamar kita!" ajak Anton pada istrinya karena mereka ingin menjaga ke selamatan Karina.


Di kamar Anton, mereka berbincang hal yang serius. Anton sengaja memasukan Karina ke dalam kamar agar bocah itu tak mendengar apa yang di bicarakan keduanya, karena ada hal-hal yang tak pantas bila di dengar oleh anak-anak.


"Bagaimana bisa Emmanuel bebas dari penjara?" tanya Risma sambil membulatkan matanya.


"Dia berhasil membobol keamanan penjara, dan kabur. Itu yang aku dengar dari Kojiyama dan Gani."


"Astaga!! Anton aku mengkhawatirkan Karina," ucap Risma dengan rasa khawatir yang tinggi.


Wajah Risma seolah ingin menangis mengkhawatirkan putrinya, "tenanglah sayang." Anton merangkul bahu istrinya membawa ke dalam dekapannya lalu Anton mencium kening istrinya. Jujur saja Risma menginginkan ini selama Anton tak ada di sisinya.


Anton adalah cinta pertama bagi Risma sejujurnya Risma belum pernah merasakan cinta, apalagi cinta monyet saat masih remaja atau masa sekolah dulu. "Sayang tahun depan putri kita sudah bisa sekolah," ujar Anton bicara kepada istrinya. "I-iya, aku juga belum memikirkan sampai ke situ."


Risma berfikir mungkin Karina bisa memiliki teman karena tingkahnya yang cerewet dan banyak bicara. Anton melihat istrinya yang masih muda ia mengingat pertemuan dengan istrinya waktu awal para mahasiswa masuk kuliah, dirinya menjadi pemandu mengawasi mahasiswa baru.


Dia melihat Risma yang waktu itu berumur 18 tahun, Anton pikir Risma keturunan Cina tapi ternyata saat istrinya menjalani operasi lahiran di rumah sakit berjuang melahirkan dua buah hatinya. Pria tersebut baru tahu jika Risma memiliki darah Jepang bukan Cina. Sungguh bodoh Anton tak mengetahui apalagi mengenal lebih dekat istrinya.


"Sayang," panggil Anton di jawab mulut oleh istrinya.


"Kenapa Anton?" tanya Risma.


"Kapan kamu memberikanku anak lagi?" ucap Anton meminta hal itu pada istrinya.

__ADS_1


"Anton keadaan sedang tidak aman, kamu tahu 'kan banyak mafia berkeliaran untuk memisahkan kita." Risma bicara pada sang suami.


"Sayang, aku paham perasaanmu. Tapi Karina butuh teman atau saudara." Anton menjelaskan pada istrinya.


"Lalu bagaimana jika ibuku berusaha membuat masalah pada keluarga kita."


"Dia sedang di penjara," jelas Anton.


"Kamu tidak tahu, Yakuza. Mereka sangat cerdik dan tak segan menyuap untuk bisa bebas Anton."


Suara Risma nampak khawatir akan suami dan anaknya yang sudah menjadi korban oleh ibunya, Anton hampir tewas saat di Bali di tembak oleh Yukita Konawa dan Karina juga kena tembak olehnya meskipun tanpa sengaja.


"Hey, jangan menangis. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menjaga dua gadisku." Lalu Anton mencium kembali kening istrinya.


Anton memejamkan matanya merasakan tubuh hangat istrinya yang kecil, Risma amat mengemaskan jika di pikir oleh Anton meskipun ia mendapatkan istri yang muda tapi pikiran Risma sudah cukup dewasa. Anton saat pertama kali melihat Risma saat sedang jajan di kantin campus bersama anak mahasiswa lain.


Sejak saat itu ia selalu memperhatikan Risma dengan senyuman sampai Fera marah-marah tak suka. Anton sendiri tak menyadari jika saat itu benih-benih cinta mulai tumbuh dalam benaknya hanya saja dia tak pernah menyadarinya.


Risma juga diam sampai keheningan melanda keduanya larut akan pikiran masing-masing. Anton melihat istrinya kelopak matanya menurun hatinya terasa bergetar melihat istrinya saat berada di pelukannya, sampai tangan kekar Anton yang ada di bahu Risma menariknya ke dalam pelukannya dengan rasa gemas.


"Anton! aku sesak nafas!" adu Risma.


Sampai Anton mencium bibir istrinya agar tak banyak bicara, Risma tak sadar Anton ingin melakukan apa di sofa kamarnya untung saja pintu kamar sudah di kunci. Risma terdiam ia mengikuti alur suaminya sampai Anton melakukannya tanpa kendali.


Risma merasa Anton sudah menggila. Risma amat polos tak tahu apa-apa hatinya merasa nyaman saat Anton melakukannya dengan lembut. Mereka melakukan bercinta sampai sang senja mengakhiri percintaan mereka. Di tubuh keduanya sudah penuh dengan peluh.


Siska sedang di kantin bersama teman-temannya, gadis itu sedang berbincang bersama teman-temannya sampai dua orang temannya menghampirinya. "Siska lu kenal ama Om bule yang kemarin?" tanya seorang gadis.


"Kenal kenapa?" tanya Siska sambil makan bakso.


"Gua mau dong, dia ganteng tahu."


Sontak mendengar itu Siska langsung tersedak lalu minum. "Apa coba ulangin lagi! semoga gua gak salah denger!" ucap Siska.


"Gua mau ama Om bule itu, bahkan gua rela perawan gua pecah ama dia."


"Eh Dir jangan gila lu, wah kabel otak lu ada yang konslet." Siska bicara.


"Kenapa emangnya, kayaknya lu sentimen banget ama tuh bule."


"Lu gak tahu dia, asli gua pastiin lu ama dia asam urat lu kambuh." Siska bicara pada teman-temannya.

__ADS_1


"Woilah napa sih," ucap temannya.


"Lu pada gak tahu, gila anjir mental lu bisa di bunuh ama tuh Om-Om."


Siska heran kenapa teman-temannya menatapnya seperti itu. "Ngapa lu pada kesambet!" ucap Siska yang sepertinya lagi Sensitif.


"Ngapa sih!" ucap Siska.


Setelah di perhatiin lebih lagi Siska melihat arah mata temannya memberikan instruksi untuk melihat ke belakang dan saat Siska menoleh betapa kagetnya di sampai loncat saat melihat pria itu berdiri di belakangnya.


"Busset!! lu ngapain disini!!" maki Siska.


Siska bediri menyamai Gani yang tingginya hampir 180-an sedangkan Siska yang orang Indonesia asli hanya 150-an. "Gua donatur di campus lo, selain nyokap lu!!" ucap Gani bangga. "BTW lu ngapain ya, ke kantin!!" tanya Siska dengan kesal.


"Om bule!" ucap temannya Siska.


Gani menjadi sasaran tatapan mata untuk para mahasiswi baru tatapan matanya yang tajam, dan wajahnya yang tampan berparas Italia. "Lo lama-;lama kaya jelangkung tahu gak," ucap Siska tapi Gani dengan santainya melipat kedua tangannya.


"Lu ikut gua," ajak Gani.


"Idih! ogah ngapain gua ikut lu! kuliah gua itu berarti!" ucap Siska.


"Dan pertunangan kita juga berarti lebih penting!" Gani terkekeh.


"What!!" Siska dan para anak mahasiswa lain di sekitar saling menatap karena ada tak percaya.


"Gak salah gua denger!!" ungkap Siska.


"Gua gak percaya!! lu mau ngibulin gua!" tunjuk Siska pada Gani.


"Denger ya, bocah!! lu mau ikut gua atau gua pake cara paksa."


"Kalo gua gak mau ikut!! mau apa lo!!" tantang Siska sambil berkacak pinggang pada pria yang berusia 10 tahun lebih tua darinya.


"Oh, lu mau liat," ujar Gani tersenyum dengan senyuman yang membuat semua mahasiswi muda terpana.


Gani tanpa basa-basi langsung membopong tubuh Siska menuju parkiran, "eh lo turunin gua!!" berontak Siska tapi tenaga gadis itu tak bisa.


"Diam onde-onde, gua mau ngajak lu nemuin nyokap-nyokap kita!!"


Saat Siska di bopong para mahasiswa lainnya bertepuk tangan dan menyoraki juga melihat bagaimana Siska di gendong oleh Gani.

__ADS_1


#Bersambung.


__ADS_2