
Di rumah Anton Fera menatap langit-langit kamar, ia benar-benar tak ada daya penyakit ini sudah menggerogoti tubuhnya.
Suara pintu di ketuk memperlihatkan dua sahabatnya Anton dan Axel.
Gadis berparas Australia itu tersenyum, ia heran kenapa Axel bergandengan dengan Hanna apa mereka sudah menikah tapi kenapa dari awal Anton tak memberi tahunya.
"Hai Fer, bagaimana keadaan lu?" tanya Axel.
"Gua gak bisa jawab pasti," ucap Fera menggantung.
Hanna mendekati Fera karena dia juga Fera menjadi seperti ini, "Kak Fera, kakak mau 'kan tinggal di apartemen aku?" tawar Hanna dengan lembut.
"A-apa maksudnya Hanna?" ucap Fera dengan lemas dan tak berdaya.
"Begini lebih baik lu tinggal di apartemen Hanna aja, tapi soal makanan kita udah siapin juga pelayan."
Axel bicara karena ia merasa bertanggung jawab atas Risma yang menjadi trauma karena dirinya, Fera langsung setuju karena ia tak mau menjadi duri dalam daging di rumah tangga Anton.
"Bi Iddah tolong rapikan bajunya Fera, karena dia mau pindah ke apartemennya Okamoto!!" perintah Anton pada asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengannya.
"Baik Tuan," patuh Bi Iddah.
Bi Iddah segera mengemasi baju-baju Fera dan Hanna membantu Fera membersihkan diri dalam hati. Hanna amat kasihan pada gadis ini pasalnya semuanya karena Hanna yang ikut andil dalam api balas dendam pada wanita yang sudah berjasa dalam hidupnya.
Fera di mandikan lalu di pakaikan baju oleh Hanna karena rasa bersalah dalam hatinya pada gadis ini, Fera sudah siap koper sudah di taruh di mobil Axel oleh para pelayan.
"Terimakasih Hanna kamu sangat baik sekali," kata Fera.
Hanna hanya mengangguk-angguk kepalanya tanda mengiyakan semua ucapan Fera di sertai senyuman tipis dari bibirnya, 'semoga di akhir hidupmu aku bisa melakukan ini demi rasa bersalahku Fera bragasatya," batin Hanna dalam hatinya ia amat bersalah.
Fera duduk di jok mobil belakang sedangkan Hanna dan Axel di depan, Anton menatap kepergian mobil melewati gerbang rumah lalu menarik nafas hari ini ia berjanji untuk ke rumah Adik Iparnya.
__ADS_1
Kojiyama menyuruh Anton ke rumah agar menjemput kakaknya, tapi pria berparas Jepang tulen itu memberitahu kakak Iparnya jangan beritahu soal kabar hilangnya Karina pada Risma karena dapat mempengaruhi kandungannya.
Anton mengeluarkan ponsel dalam saku celananya lalu menelpon seseorang dektektif dan pelacak agar memberikan informasi soal putrinya yang hilang karena teror bom di Milan Italia.
"Hallo, Jack. Gimana lu udah Nemu kabar soal anak gua?" tanya Anton menempelkan benda pipih itu di telinganya.
'Belum Ton, tapi gua dapet kabar anak lu di culik ama mafia besar Perancis.' Jack dektektif asal Italia memprediksi sesuatu.
"Sial!!!" gertak Anton.
'Yaudah gua mau tutup dulu, Nona Lisa ingin menemuimu ia membicarakan soal teror bom yang akan di prediksi di Manchester.'
"Iya tetep kabarin gua!" perintah Anton lalu menutup ponselnya ia menarik nafas lelah karena hidupnya selalu penuh masalah, andai saja ia bisa mengundur waktu.
Tapi semua telah terjadi nasi sudah menjadi bubur, api dendam seorang ibu telah membakar hangus semuanya. Tak ada yang tersisa kecuali dua hal antara cinta dan benci.
Anton memajang foto pernikahan nya di ruang kerjanya, Risma mengenakan kebaya putih tersenyum canggung saat berfoto dengannya menunjukan cincin nikah di jarinya.
Anton membelai lembut foto pernikahan nya dan wanita saat dulu ia pernah buat hancur hidupnya, pria itu malam ini ingin menghabiskan waktu bersama istrinya yang kecil dan muda.
Anton membayangkan istrinya malam ini ia ingin berkencan dengan istrinya karena belum pernah ia menghabiskan waktu bersama, Anton kali ini pilihannya bukan di kamar hotel tapi di tempat yang romantis.
Sesampainya di rumah Kojiyama Risma sudah rapih dengan rambut pendeknya membuat wanita hamil itu nampak mengemaskan, Anton berencana mengajaknya ke sebuah tempat romantis.
Risma malam ini menggunakan gaun yang melekat di tubuhnya, Anton dan Risma menaiki mobil. "Kita mau kemana Anton?" tanya Risma pada suaminya, Anton tersenyum sambil menyetir ia mengambil tangan Risma lalu mengecup punggung tangan istrinya.
Anton memarkirkan mobilnya lalu menutup mata Risma ia memberikan sesuatu yang romantis untuk istrinya sebagai permintaan maaf.
"Tutup mata dulu aku akan membawamu ke suatu tempat," kata Anton dengan penuh misteri.
__ADS_1
Anton menyewa tempat romantis untuk mereka berdua, tangan Anton membuka penutup mata lalu memperlihatkan pemandangan laut dan sebuah saung.
Anton memberikan bunga mawar berwarna putih kesukaan istrinya, "aku buat ini sebagai permintaan maaf padamu. Soal Fera sudah di pindahkan oleh Axel demi menjaga calon anak kita."
Risma meraih bunga mawar kesukaannya dengan senyuman tipis terpoles di bibirnya lalu Anton mendekati istrinya tangannya membelai lembut perut Risma yang masih rata yang di dalamnya ada calon anaknya.
"Anton...," kata Risma menghentikan dengan jarinya di bibir suaminya.
"Kenapa sayang?" tanya Anton dengan kesal.
Risma menaruhnya buket bunga mawar putih itu di atas meja lalu ia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, Anton langsung mencium bibir istrinya mereka berdua menikmati suasana romantis di pinggir pantai dan mendengar suara deburan ombak.
...----------------...
Karina sedang memainkan boneka dan Yukita Konawa tiba-tiba menarik tangannya dengan keras, "Obachan ada apa?" tanya Karina yang mengikuti tarikan neneknya.
Yukita membawa bocah itu ke suatu tempat para Yakuza dan anak buah Emmanuel yang berkhianat sedang di hukum. Sungguh tak elok jika anak kecil di perlihatkan adegan kekerasan.
Emmanuel berjalan mendekati penghianat itu lalu memukulinya, hati anak kecil bagaimana pun juga tak tega melihat semua ini jadi bocah itu ingin pergi.
Yukita menahan Karina lewat pundaknya, lalu mulut Yukita berbisik di telinga bocah berumur 4 tahun itu, "mereka berkhianat___jadi sekali di khianatin jangan beri mereka kesempatan apalagi membiarkan hidup."
Diakhir bisikan Yukita Emmanuel yang tak ada rasa kemanusiaan menembak mati para pembelot itu. "Kalian siram mayatnya dengan bensin lalu bakar," ucap Emmanuel membuang puntung rokoknya lalu pergi.
"Lihat Nak, kamu harus kuat, tegas, dan berani. Jangan beri kesempatan apalagi jika sudah menyakitimu, kamu akan menjadi pemimpin geng Yajimu pimpinan Yakuza yang akan kau pimpin di masa depan." Yukita berbisik sambil memainkan rambut berwarna coklat milik Karina.
Karina hanya diam menyaksikan kekejaman itu hati anak kecil amat tak tega tapi perlahan tapi pasti Yukita Konawa akan mengubah Karina menjadi Yuriko.
Wanita kejam itu bersumpah tak akan mengembalikan cucunya sampai kapan pun ke tangan keluarga Anjaya, "kamu sekarang bukan Karina tapi Yuriko."
Setelah itu Yukita meninggalkan cucunya berdiri mematung sendiri boneka yang di genggaman bocah itu jatuh ke lantai, hatinya dan otaknya akan terdokrin oleh ajaran Yakuza yang di ajarkan Yukita.
__ADS_1
#Bersambung