Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 60


__ADS_3

Siang ini Karina sudah boleh pulang, Karina sedang di pakaikan baju oleh Risma meskipun masih terbilang muda ia amat keibuan. "Karina!" Anton mendekat sambil membawa boneka. "Mama...," ucap Karina yang langsung memeluk ibunya.


"Kenapa, Papa gak nakal kok." Risma mengendong putrinya yang tangannya sudah bebas dari infus. Risma menaruh kepala putrinya di lehernya kemudian menenangkan gadis kecil itu. Anton perlahan menepuk punggung kecil Karina.


"Karin...," kata Anton lirih.


Karina semakin mengeratkan pada pelukan ibunya entah karena takut atau trauma bocah itu seolah tak bisa jauh dari ibunya. "Iya papa gak nakal sayang." Risma menenangkan putrinya, perlahan Anton mengambil alih Karina. Tubuh bocah itu bergetar ketakutan tatkala di gendong ayahnya.


"Gak apa, Papa disini. Karin kenapa takut ama Papa?" tanya Anton yang berusaha bersikap selembut mungkin. Tangan besar pria itu mengusap-usap pelan punggung kecil Karina. Akhirnya Karina yang masih setengah takut dengan ayahnya malam menaruh kepalanya di ceruk leher sang ayah.


Anton membelai rambut putrinya, Risma hanya tersenyum melihat kedekatan keduanya mengingatkannya pada mendiang ayahnya. Karina akhirnya tidur saat Anton turun untuk menuju parkiran mobil. soal barang-barang yang ada di rumah sakit semua sudah di handle oleh Billy.


Anton membawa supir agar ia bisa duduk di belakang bersama istri dan anaknya, "Risma!" panggil Anton yang membuatnya menoleh ke samping. "Inget 'kan janji kamu?" tanya Anton memelas.


"Janji apa?" tanya Risma yang pura-pura tidak tahu.


"Nanti malam aku udah bilang ama Mama dan Papa kalo Karina ama mereka dulu."


Mendengar penuturan Anton membuat Risma kesal. "Kenapa kamu tak bilang padaku dulu!!" maki Risma.


"Aku udah bilang kita akan ngabisin waktu berdua di hotel Konawa." Jeda "aku minta jatah Risma." Anton nampak memelas selayaknya anak kecil yang merengek.


Risma langsung mencubit pinggang Anton. "AAU." Jerit Anton. "Kok nyubit, emang aku salah ya mau beriman sama istri." Anton mengerucutkan bibirnya. "Anton di depan ada Mang Adi gak enak di denger!" bisik Risma dengan kesal.


Anton memang orang yang sembarangan. Risma jadi merasa jijik sendiri dan mengingat tatkala Anton pernah berhubungan dengan Fera di kantor serta kamar yang di tempatinya. Risma dan Hanna pernah menyaksikannya saat mereka ingin mengambil buku nikah.


Mereka sampai di kediaman orangtua Anton. Clara menyambut menantu dan cucunya lalu memeluk cucunya yang tertidur. "Mama." Anton bicara kemudian mengangguk. "Oh ya Risma, Mama udah nyiapin kejutan untuk hadiah pernikahan kalian!"


"Apa itu mah?" tanya Risma.


Clara bicara, "yaudah nanti dulu ayo makan siang dulu." Risma mengangguk kali ini keluarga Anjaya kekurangan dua orang Lisa yang sedang di Jogja dan Gani yang entah berada dimana. Risma makan begitu juga Karina yang sepertinya mulai bersikap biasa saja dengan para pelayan.

__ADS_1


Tak lama saat sedang asyiknya makan siang Gani datang dalam keadaan oleng yang sepertinya baru saja mabuk malam ini. "Gani!" Lisi melihat adiknya meracau dengan masih memakai jas. Semua yang ada di kursi meja makan berdiri melihat Gani yang berjalan sempoyongan.


Gani mendekati Kakaknya kemudian ia bicara sambil tertawa. "Hik__El deanon__hik__si denvil sudah masuk kantor polisi__hik." Clara dan Panji saling menatap melihat putra bungsu mereka menjadi seperti Anton dulu. "Gani sadar lo." Anton mendekat sambil menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.


Lisi yang sangat sensitif dan tak kuat dengan aroma alkohol dari tubuh adiknya langsung berlari ke wastafel cuci piring langsung muntah. "Tante Lisi!" ucap Karina. "Nita tolong ambilkan minyak angin!" perintah Clara yang menyusul putrinya.


"Anton kamu lanjut makan saja, biar Papa yang bawa adikmu ke kamarnya." Anton mengangguk begitu juga Risma yang ia sangka Gani adalah pria kalem ternyata bisa melakukan itu. "Gua puas udah nonjokin tuh Emmanuel!!!" racau Gani.


"Gani masuk kamar!!" ucap Panji membawa putranya ke kamar.


Risma menatap suaminya kemudian Anton mengangguk untuk menenangkan istrinya. Karina yang belakangan ini sangat dekat dengan Lisi mengikuti bibinya itu. "Ueks....Ueks." Lisi muntah dengan semua yang ada di perutnya. Clara segera mengoleskan minyak angin pada putrinya.


Panji berhasil membaringkan tubuh putranya di kamar. "Kamu istirahat Gani!!" ucap Panji yang kemudian keluar kamar., Dalam racauannya mulut Gani bergumam sesuatu yang tanpa ia sadari hati kecilnya sudah tertambat untu wanita itu.


"Risma Fradiska___hik__aku mencintaimu___hik." Gani meracau tak jelas sampai nama kakak iparnya di sebut dalam bicaranya.


"Hik___Siska___hik__aku akan kerjai bocah itu." Gani semakin tak jelas meracau dan sampai akhirnya pria tersebut tidur sendiri.


Risma langsung pergi dengan mobil saat Karina sedang bersama Lisi menemani bibinya yang sedang di wastafel, Anton mengajak Risma ke hotel milik keluarga Konawa. Risma amt takut tatkala ia harus siap di terkam oleh Anton malam ini.


Sesampainya di hotel Risma bersama Anton menaiki lift, wanita berusia yang bulan depan 24 itu mengikuti kemana suaminya melangkah pergi tanpa mengeluarkan suara. Anton menggamit lengan istrinya kemudian ia mencari kamar yang sudah di siapkan Kojiyama selaku adik iparnya.


Anton sangat lembut malam ini sampainya di kamar yang di tuju dan ada Kojiyama di depan pintu kamar sambil menunggu kakak iparnya, saat masuk suasana kamar amat romantis. Risma amat canggung wajahnya sudah merah dan tubuhnya lemas.


"Kau mau anggur?" tawar Anton yang menuangkan anggur pada gelas.


"Ti-tidak a-a-aku tidak minum itu." Risma bicara canggung pada suaminya sendiri.


"Anton aku mau mandi dimana bajunya?" tanya Risma pada suaminya.


"Di lemari itu," tunjuk Anton dengan santainya.

__ADS_1


Risma menghembuskan nafas lelah kemudian ia membuka lemari dan betapa terkejutnya ia lantaran isinya bukan kaos tapi baju-baju seksi dan ketat. Ada lingerie dan baju-baju seksi lainnya. "Anton apa-apaan ini!!" tanya Risma kesal.


"Apa yang salah aku sudah menyiapkan ini semua untukmu." Anton dengan santai mendekati istrinya yang tentu saja Risma mundur.


Risma segera mengambil salah satu lingerie kemudian langsung masuk ke kamar mandi. Anton tertawa sambil menenggak anggurnya melihat tingkah istri kecilnya. Risma berendam di bak berisi air mawar sambil menghilangkan penat. Pikirannya selalu memikirkan putrinya.


Risma memejamkan matanya kemudian tanpa ia sadari Anton sudah ada di hadapannya dengan hanya memakai boxer, sontak Risma yang menyadari keberadaan suaminya langsung berteriak. "Kyaaa!!" Anton langsung membungkam mulut istrinya.


"Jangan berisik!" ucap Anton sambil mengisyaratkan lewat jari telunjuknya di depan mulut.


Anton masuk ke dalam bathub berhadapan dengan Risma, gadis itu sedikit was-was melihat suaminya di hadapannya, "coba madep belakang!" perintah Anton yang membuat Risma ketakutan seolah Anton menyuruhnya seperti selayaknya memerintah sama seperti masa lalu.


Risma menuruti permintaan Anton yang membelakanginya, Risma merasa Anton dengan lembut menggosok punggungnya. "Anton kita--" belum sempat Risma menyelesaikan kalimatnya Anton malah ******* bibirnya dengan rakus.


kemudian Risma memejamkan matanya sejenak ia merasakan nyaman saat bersama Anton, saat itu Anton sangat bersyukur lantaran ia memiliki adik ipar yang baik dan pengertian.


Saat-saat seperti ini yang di dambakan dua insan itu, Anton mendekap erat-erat tubuh mungil istrinya ke dalam tubuhnya yang kekar. Risma sama sekali tak bisa berontak karena tak bisa di pungkiri jika ia merasa nyaman saat mengalami masa-masa ibadah antar suami istri bersama Anton.


Anton mengecup bahu istrinya lalu menyandarkan dagunya di bahu Risma, kedua tangan Risma di tahan oleh Anton. "Aku mencintaimu istriku," ucap Anton sambil mengerutkan tubuh Risma di atas pangkuannya.


Risma hanya diam lantaran ia masih trauma dan mengingat saat Anton melakukan hal yang menakutkan di atas ranjang dengan paksa ia mengambil mahkotanya.


Anton paham istrinya masih trauma karena masa lalunya tapi pria yang berumur jauh di atas Risma berusaha menghilangkan trauma itu secara pelan-pelan.


"A-aku mi-milikmu," ujar Risma terbata-bata.


Mereka menikmati saat berendam bersama di bathub dengan aroma rosemary dan lavender membuat kesan romantis di antara keduanya, Anton adalah pria yang normal ia juga tak tinggal diam di momen ini.


#Bersambung


__ADS_1



__ADS_2