
Karina sedang di gendong sambil di suapi oleh Risma dengan telaten wanita itu menyuapi putrinya yang hari ini sedang berulang tahun yang ke tiga. "Yumeko!" seorang wanita Jepang datang menghampiri anak dan cucunya salju putih mulai turun.
"Ada apa, Okasan?" tanya Risma.
"Aku berencana untuk menyekolahkan Karina secara personal."
"Aku tidak setuju, Karina harus berinteraksi dengan orang lain...," ucap Risma.
"Baiklah, ayo kita akan ke Barito. Dua hari lagi."
Yukita mengatakan Barito artinya pulau bali, "Barito?" tanya Risma sambil mengerutkan keningnya.
"Barito adalah pulau indah yang ada di Indonesia sayang." Setelah mengatakan itu Yukita yang memakai syal di lehernya langsung masuk kembali ke dalam rumah.
Risma menghembuskan nafas kemudian kabut menyembul dari nafasnya, ia menatap Karina sebentar kemudian segera memasuki rumah karena kondisi putrinya yang mudah sakit.
"Fi!!" Risma memanggil salah seorang pelayan untuk menyuruhnya membawa Karina ke kamar yang ia tempati berdua bersama putri kecilnya ini.
"Karin ke kamar dulu ya, Mama mau ngomong bentar ama Sobo." Risma mengajarkan bahasa Indonesia pada putrinya.
"Okasan!!" Risma memanggil ibunya yang sedang di ruang kerjanya yang terletak di lantai bawah. "Ada apa, sayang?" ucap Yukita yang masih fokus pada laptop dan beberapa tumpukan kertas.
"Aku ingin ikut berbisnis denganmu." Yukita langsung melepas kacamata yang melekat di matanya lalu ia mendekat ke arah putrinya.
__ADS_1
"Yumeko sayang, apa semua ini tak cukup untukmu sehingga kau ingin bekerja lagi." JEDA "Kamu hanya harus fokus mengurus Karina Cucuku." Yumeko menyentuh kedua bahu Risma dan bicara dengan lembut jauh dari kata seorang ganster, benar kata pepatah sekejam-kejamnya seorang wanita tak menutup kemungkinan di hatinya masih memiliki sisi lembut yaitu sisi seorang ibu.
"Sekarang kau bersiaplah makan siang, dan istirahatkan dirimu lusa kita akan ke Barito. Soal barang-barang kau tak perlu khawatir semua sudah tersedia di jet peribadi kebutuhanmu dan juga Karina sudah tersedia."
"Hai," ucap Risma sambil melakukan ojigi atau membungkukan badan.
Risma berjalan menuju dapur untuk belajar memasak, jika ia tak bisa berbisnis setidaknya ia bisa dalam hal memasak. Para pelayan sudah melarangnya tapi Risma tetap ingin memasak jadi mereka tak bisa apapun setelah semuanya tersaji adalah Nikujaga dan sukiyaki, dua hidangan itu sepertinya cocok untuk udara bersalju.
Yukita mempercepat penerbangannya karena di perkirakan takut ada badai salju, ia bisa sedikit memanfaatkan turun salju yang tak begitu banyak untuk perjalanan bisnisnya. Mereka makan dengan tenang sampai suatu ketika bunyi dering dari ponsel Hisako membuyarkan sesi makan ketiganya, Hisako malah mematikan ponselnya sudah di tebak siapa penelponnya kalo bukan si bandot Emannuel.
'Ngapain lagi nih Bandot menelponku,' batin Hisako dengan kesal memang cocok bandot disematkan kepada Emannuel karena ia termasuk fuckboy.
Pagi ini Hanna amat tak tega melihat Anton saat datang ke kantornya dengan tubuh kurus dan tak terawat, ia juga melihat sekilas Gani yang memang cukup tampan tapi Hanna tak terobsesi untuk memilikinya. Hanna menarik nafas panjang kemudian ia membuka ponselnya menghubungi seseorang.
'Kok gak diangkat sih.' Hati Hanna merasa berdosa juga beranggapan mungkin saja seseorang yang di telponnya marah dan kecewa atas tindakannya yang terlalu pro kepada Nyonya Konawa.
Hanna merasa hal ini benar tapi hatinya sakit tatkala ia harus melakukan penghianatan kepada Nyonya Konawa seseorang yang sudah banyak berjasa di hidupnya. Gadis berparas setengah Jepang itu hanya diam hingga ketiga kalinya akhirnya panggilannya di angkat.
"Hallo, maaf gua yang soal waktu itu...," ucap Hanna pada si penelpon.
'Apa mau lu?!' kata si penelpon dengan judes.
"Gua mau ketemu lu abis makan siang ini menyangkut Risma." Seseorang yang di telpon langsung terbelalak.
__ADS_1
'Yaudah jam makan siang di KFC.'
"Oke, thakyou."
Hanna menghembuskan nafas lelah kali ini ia harus berhianat demi kebaikan Anton juga Karina yang membutuhkan sosok seorang ayah, "Ya allah maafkan hamba, hamba merasa bersalah telah menghianati orang yang telah membantu hamba." Hanna menaruh kepalanya dengan kedua telapak tangan dengan siku menyandar pada meja.
Saat jam makan siang Hanna sudah sampai di KFC dengan menaiki ojek online, ia melihat Axel Herguez yang sedang memakan kentang goreng. Hanna menghampiri Axel ia tak mengeluarkan sapaan sama sekali meskipun itu 'hai' Hanna langsung duduk di hadapan Axel.
"Ada apa lu ngajakin gua ketemuan lagi?!" tanya Axel dengan nada malas.
"Ini soal Risma istri sahabat lu, dia lusa mau ke bali dengan nama yang udah di ganti Yumeko Konawa."
Axel Herguez tersenyum pada gadis setengah Jepang di hadapannya, "cuman itu yang lu dapet?" kali ini Axel lebih bersemangat dan tersenyum ramah. "Iya cuman itu, sorry gua gak bisa ngasih tahu lu banyak info...," ucap Hanna.
"Sejak kapan lu berubah pikiran?" tanya Axel sambil meminum fanta dengan senyum yang menunjukan gigi yang putih.
"Sejak gua liat Tuan Anjaya dengan keadaan memperihatinkan," jeda "tapi lu janji jangan kasih tahu siapapun termasuk Nyonya Konawa kalo gua yang ngasih tahu lu." Sudah terpancar dari mata Hanna raut ketakutan juga sebuah rasa bersalah.
"Kenapa emangnya?" tentu pertanyaan Axel ingin memebuat Hanna menendang juniornya karena rasa kesal bercampur takut yang hampir setengah mati.
"Gak usah banyak tanya, atau mulut lu gua sumpel pake sepatu hak gua." Hanna bicara dengan nada judes tentu saja Axel sangat gemas melihat gadis di hadapannya jika terlihat kesal ada aura yang berbeda dari seorang Hanna yang formal dan raut wajah tegas di sertai judes dengan yang sekarang.
"Lu mau makan apa gua traktir...," ucap Axel sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
#bersambung