
Tubuh gadis berusia 18 tahun itu di lempar ke dalam sebuah ruangan oleh laki-laki berparas Suriah anak buah El deanon.
Ruangan yang di dominasi warna merah. Siska melihat seorang pria dengan kursi putarnya dan kemeja warna putih di sertai rompi.
'Eleh buset nih Mbah jambrong ngapain bawa gua kemari,' ucap Siska dalam hati.
Emmanuel berdiri lalu mendekati gadis yang berusia 18 tahun itu dengan was-was. "Siska Sabrina, bocah tunangan Gani."
"Apaan sih lu, asal lu tahu bule palsu ngapain lu culik gua!" maki Siska dengan ketus.
Emmanuel mendekati Siska lalu menarik dagunya ke atas sambil mendekatkan wajahnya. "Dengar bocah Gani sudah mempermalukan ku jadi---"
Belum sempat Emmanuel bicara Siska menginjak kaki nya yang membuat Emmanuel melepaskan dagu Siska.
"Eh denger ya udah tua bukannya tobat lu!!! masih aja buat dosa!! kagak takut malaikat mau jemput!!! Dasar Sumanto!!" seolah Emmanuel di ceramahi oleh bocah umur 18 tahun itu.
"Udah deh lu ngapain lu culik gua!!!" JEDA "Gua tuh gak bisa masak, cuci, ngepel, nyapu, cuman bisa fasion."
Emmanuel sedikit kagum pada gadis ini pasalnya bukan karena wajahnya atau fisiknya melainkan karena sikapnya yang pecicilan banyak bicara. Seperti nya gadis ini sangat supel.
"Udah gua mau keluar!! buka pintu!!!"
Saat Siska ingin membuka pintu ternyata di kunci dari luar. "Om Perancis buka apa pintunya!!! atau gua keluarin suara 9 Oktav gua!!" ancam Siska.
Emmanuel berjalan mendekat sambil tersenyum pada gadis berusia 18 tahun itu, "eh jangan deket atau gua bakal teriak bikin telinga lu budeg."
Emmanuel terus mendekat membuat Siska ketakutan saat pria Perancis itu berhasil memojokkan Siska ke tembok. Siska yang tak ingin bernasib seperti Hisako benar-benar mengeluarkan suara 9 oktavnya.
"Mingggggggiiiirrr!!!!!!!!!!!!!" teriak Siska sampai menjatuhkan barang-barang yang ada di ruangan itu.
Emmanuel menjauh sembari menutup kedua telinganya, "denger ya Mbah Jambrong gua gak bakal sudi ngelakuin begitu ama kriminal kaya lu!!!!!" ucap Siska sambil menunjuk Emmanuel yang masih menutup telinganya.
"Dasar penjahat kelamin, udah ngehamilin anak orang!!! Kagak tanggung Jawab!! malah main ama cewek lain!!! selanjutnya gua!!! O tudu gah Ogah!!!" ungkap Siska dengan suara 8 Oktav melihat Emmanuel menutup kedua telinganya.
"Dasar bocah ingusan suaramu seperti terompet sangkakala!!!" ucap Emmanuel sambil membenarkan telinganya yang berdengung karena teriakan Siska.
"Lepasin gua!!! Gua gak bakalan ngadu Ama siapapun," ucap Siska.
"Apa aku bodoh ingin mempercayai bocah!"
Siska berakting mengulum bibirnya dengan wajah sedih sambil bicara. "Yaudah aku teriak lagi nih!!!" teriak Siska.
Emmanuel dengan cepat mendekat untuk membekap mulut Siska agar suaranya tak membesar seperti terompet.
__ADS_1
Siska menatap mata hijau milik Emmanuel begitu sebaliknya dari mata keduanya saling bertatapan tangan Emmanuel perlahan mulai melepaskan tangannya dari mulut Siska.
"Siska tu restes ici je reviendrai," ucap Emmanuel dalam bahasa Perancis yang artinya
Siska kamu tetap disini aku akan kembali.
Siska masih terdiam dia malah melihat duka yang mendalam dari mata Emmanuel, kepergian pria Perancis itu keluar ruangan dengan mengunci dari luar ruangan membuat Siska masih diam membeku.
"Cette fille arrogante m'a presque taquiné," batin Emmanuel dalam hatinya karena ia tak ingin tertarik pada gadis musuhnya. (gadis sombong ini hampir menggodaku)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Fera sedang di suapi oleh Hanna wanita setengah Australia itu meminta satu hal. "Hanna aku minta untuk bertemu Risma untuk yang terakhir kali."
"Iya aku sedang berusaha tapi Risma selalu menolaknya," ujar Hanna sambil menaruh mangkuk buburnya.
"Aku akan sangat berhutang budi padamu dan Axel."
"Sudahlah sekarang kamu harus sembuh dulu." Wanita berparas Jepang itu berusaha menenangkan Fera.
Setelah menyuapi Fera, wanita berparas setengah Jepang itu ada janji temu dengan Risma meskipun Hanna bersikap seolah membela suaminya tapi ia berusaha agar jalinan persahabatan dengan Risma tidak putus.
"Risma! Anton!" kata Hanna mendekati keduanya.
"Ada apa Hanna kamu ingin menemui ku?" tanya Risma berdiri sambil di bantu Anton.
"Risma aku ingin bicara satu hal ini...menyangkut soal Fera."
Mendengar nama itu emosi gadis berparas setengah Jepang itu tersulut, matanya memerah hatinya seolah masih belum terima jika salah satu putrinya pergi karena ulah wanita sundal itu.
"Aku tahu kamu masih dendam Yumeko, tapi Fera sudah sekarat dia ingin menemuimu."
Risma jadi lebih tenang mendengar apa yang di ucapkan Hanna, Anton tak mau ikut bicara takut seolah ia membela Fera menurut istrinya. Anton tak ingin kandungan istrinya terjadi sesuatu.
"Tolonglah Risma," mohon Hanna sambil menyentuh tangan Risma.
Risma menarik nafas panjang lalu mengangguk-angguk kepala tanda setuju. "Baiklah ayo kita temui Fera."
Anton tersenyum akhirnya hati istrinya luluh dan mau menemui temannya, akhirnya Hanna dan Risma menaiki mobil yang di kemudi oleh Anton menuju apartemen yang di tempati Fera.
Di dalam mobil Hanna bicara panjang lebar dengan Yumeko tapi Risma hanya menanggapi nya dengan ketus tanpa mau memandang Hanna, karena kejadian waktu di rumah Kojiyama adiknya.
__ADS_1
Risma juga seolah tak ingin bicara pada adiknya karena Kojiyama, menurut Risma adiknya seolah mendukung hubungan antara Anton dan Fera.
Padahal itu semuanya hanya perasaan dan perasangka yang ada dalam diri wanita itu. "Tolong belajar ikhlas."
Hanna bicara karena saat itu gadis setengah Jepang itu juga pernah hamil 3 bulan tapi keguguran seperti nya karena sumpah serapah yang di keluarkan Risma yang terzalimi waktu tempo bulan di rumah adiknya.
Risma menyumpahi Axel dengan rasa amarah dan kebencian yang menggunung Risma menyumpahi Axel semoga pria berparas Spanyol itu merasakan apa yang Risma rasakan yaitu kehilangan anak.
Terkadang orang marah tak tahu apa yang di ucapkan secara lisan.
Sesampainya di apartemen yang di tempati Fera, Risma masuk dengan di belakang nya ada Anton. Saat melihat Fera yang terbaring lemah di atas ranjang emosi dan rasa amarah yang tersulut perlahan menjadi padam.
Mata Risma menatap iba pada wanita itu. Fera perlahan membuka matanya wajah Risma langsung setengah muak. "Ri-Risma," ucap Fera terbata-bata.
Wajah Fera pucat, bibir nya putih pucat dan badannya sangat kurus karena mengidap penyakit Aids. "Ada apa lu manggil gua!" ucap Risma sinis.
"Saya minta maaf karena aku kamu kehilangan putri mu." Fera terbatuk-batuk Risma langsung menatapnya dengan iba tapi wajahnya membuang muka.
"Kamu tidak tahu betapa berartinya Kirana dan Karina bagiku, bahkan lebih berarti daripada Anton."
Risma sambil melipat tangannya di dada. Ucapan Risma membuat Anton menunduk karena dirinya juga merasa belum bisa membuat Risma jatuh cinta pada dirinya.
"Langsung ke intinya Fera bragatsatya saya tak punya waktu mengurusi Queen Drama seperti mu!" kata Risma dengan sinis.
"Aku akan pergi tolong kamu maafkan atas perbuatan saya."
Risma mengangguk lalu mulai bicara pada wanita yang sudah menyakitinya dulu, "saya maafkan dengan syarat yang mudah."
"Katakan syarat nya."
"Jauhi rumah tangga saya dan kehidupan saya, termasuk jauhi suami saya!" ucap Risma dengan nada yang sedikit lebih tenang.
"Saya tak meminta yang lain," lanjut Risma.
Anton dari tadi menguatkan istrinya dengan menyentuh bahu istrinya, "aku setuju."
Fera terbatuk-batuk lagi lalu Risma menarik tangan Anton keluar. "Oke ayo Anton kita pergi dari sini!" ucap Risma yang hatinya seolah berdarah tatkala harus memaafkan wanita yang menghancurkan kebahagiaan nya di masa lalu.
Seandainya Fera tak berbuat masalah pasti semua ini tak akan terjadi, begitu juga Anton jika pria berparas Italia itu tak menyulut api pasti ini semua tak akan terjadi.
Si kembar pasti masih hidup dan tak akan ada lagi mafia yang berusaha memisahkan mereka dan Yukita Konawa pasti akan sangat menyayangi menantunya itu.
#bersanbung
__ADS_1