Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 30


__ADS_3

Siang ini sinar mentari sudah menampakan sinarnya tapi udara di Kota Tokyo masih sangat dingin karena sudah ingin memasuki bulan desember, di kediaman Konawa Risma sedang merajut pakaian hangat untuk putrinya wanita itu belajar merajut dari salah seorang pelayan yang bekerja di kediaman rumahnya. Risma juga tak segan mendekatkan diri kepada para pelayan di rumah itu termasuk putrinya yang ia ajarkan agar mengaggap semuanya itu sama,


Risma bersikap tak membeda-bedakan manusia karena dia pernah merasakan pedih dan pilunya bagaimana ia di hina juga dicacimaki, ia tak ingin hal itu menurun pada putrinya sifat jelek dari Anton. Sesaat sedang asyik merajut tiba-tiba Karina yang sedang tidur pulas di kasurnya terbangun dan tanpa sengaja jari tangan Risma tertusuk jarum rajut tentu darah keluar.


Jari tangan yang mengeluarkan darah itu di hisap agar tak mengeluarkan lebih banyak darah, tangis Karina semakin kencang lalu Risma segera menimang Karina ke dalam pelukannya.


"Cup...cup...cup. Karin kenapa nangis?" tanya Risma saat di rasakan lagi ternyata suhu badan Karina panas juga tubuhnya mengeluarkan banyak keringat.


"Astaga, Karina!!"


"Hisako! Okaasan! tolong aku!!" panggil Risma dengan suara panik.


"Yumeko ada apa?" tanya Yukita pada putrinya.


"Okaasan, Karina___Karina."


"Ada dengan cucuku?" tanya Yukita lagi yang berjalan mendekat saat tangannya menyentuh tubuh cucunya ternyata suhu badannya panas.


"Ya tuhan!!" Yukita langsung berlari keluar memanggil semua pelayan untuk menelpon Dokter pribadi keluarga Konawa, Yups Dokter itu berumur sama seperti Yukita dan sudah memiliki istri namanya Dokter Daichi Hamata.Lebih tepatnya Daichi bekerja di rumah sakit yang di kelola oleh keluarga Konawa dan baru beberapa bulan Yukita memberikan modal untuk Dokter yang berjasa untuk keluarganya sebuah modal agar bisa membuka usaha yaitu membangun sebuah klinik kecil.


Dokter itu datang untuk memeriksa keadaan Karina tubuh anak berumur dua tahun itu di baringkan lalu stetoskop menempel di perut Karina.


"Dokter Hamata, bagaimana keadaan putriku?" tanya Risma.


"Nona Yumeko anda tenang saja, keadaan Nona Karina hanya mengalami flu dan demam ringan harap di perhatikan pola makannya. Karena anak-anak yang berumur di bawah empat tahun gampang terserang penyakit." Dokter itu menjelaskan.


"Baiklah saya akan beri resep obat."

__ADS_1


Yukita mengangguk kemudian menyuruh sahabatnya keluar. "Baiklah Daichi mari keluar, para pelayan sudah menyiapakan teh dan juga makanan ringan, aku harap anda tak menolaknya." Yukita mempersilahkan Dokter itu istirahat di ruang tamu karena udara yang dingin membuat Yukita memberikan teh hangat.


"Baik aku tak menolak, aku juga ingin bicara soal putraku yang baru lulus SMA."


"Mari Dokter Hamata." JEDA ""Yumeko nanti akan aku suruh, Jima untuk ke menebus obat." Yukita membelai rambut putrinya kemudian ia keluar kamar.


Yukita dan Hisako serta para pelayan keluar kamar karena tak baik jika ada orang sakit berdekatan yang ada bisa tertular, "Kau siapakan teh untuk sang Dokter." Yukita menyuruh Fi untuk membuatkan teh dan hanya di angguki oleh Fi.


Risma mendekati Putrinya yang tertidur pulas di atas kasur dengan wajah pucat di sertai kantung mata, Risma dengan telaten mengompres putrinya dengan air hangat dan menyuruh pelayan membuatkan air jahe khas Indonesia yang kebetulan pelayan yang bekerja di rumahnya ada yang TKW di Jepang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Jakarta seorang pria dengan wajah yang semakin tirus sedang membeli sebuah pil agar bisa tidur nyenyak, karena ia amat depresi setelah kehilangan anak dan istrinya, bahkan juga tak pernah absen untuk mengunjungi makam mendiang anaknya yang meninggal karena ulah dirinya.


Anton menatap ponsel dengan raut wajah sedih lantaran ia menatap foto istrinya, ia juga selalu membeli kue ulang tahun untuk Karina yang dua bulan lagi berumur tiga tahun. "Karina Papa sangat rindu kamu___bahkan Papa selalu nunggu kamu agar kembali ke pelukan Papa." Mata Anton menatap bayi yang ada dalam incubator rumah sakit, hanya beberapa saat dirinya memeluk bahkan mencium bayinya.


Anton memasukan ponselnya kembali ke saku tatkala namanya di panggil untuk menebus pill, ia segera menuju parkiran untuk pergi kembali ke rumahnya.


...****************...


*


*


*


*

__ADS_1


*


*


*


*


*


*


*


Hisako yang sedang menikmati teh malah diusik oleh panggilan ponselnya yang memperlihatkan nomer yang tak di kenal, saat mengakat ponselnya ternyata yang menelpon.


"Hallo." Hisako menyemburkan tehnya tatkala yang ia telpon adalah seseorang yang selama ini membuatnya menjadi darah tinggi.


Hisako membenci Emmanuel Dilson El Deanon juga karena ada masalalu yang terselubung, dulu sebelum kedua orangtuanya meninggal ia di sekolahkan di perancis dan Emmanuel selalu membullynya secara fisik maupun batin, tentu saja hukum karma berlaku untuk Emmanuel yang membuatnya harus menikahi gadis yang di bullynya.


"Maaf salah sambung." Hisako langsung mematikan ponselnya.


"Siapa yang menelpon, Nak?" tanya Yukita.


"Biasa orang iseng," ucap Hisako yang kemudian meminum tehnya lagi.


'Kenapa harus dia sih yang mau di combalangi ama gua!' gerutu Hisako dengan wajah cemberut.

__ADS_1


__ADS_2