Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 93


__ADS_3

Di kota Wasington seorang pria tertawa senang tatkala mendengar Yukita Konawa memiliki seorang putri, itu adalah titik lemahnya. Putri kesayangan Yukita Konawa dari buah cintanya dengan pemuda Indonesia, sekarang ini adalah sasaran empuk.


"Good, I'll make a plan." Levino tersenyum jahat.


Pria itu membuat rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya, ia akan membuat rencana di Indonesia dan kalo bisa mencelekai Yumeko Konawa atau Risma yang keadaannya tengah mengandung yang usianya delapan bulan melaju sembilan.


"Benhard, prepare my trip to Indonesia, we will leave in a week."


"Yes,Sir."


Levino tidak sabar untuk melancarkan rencananya, pria itu tak menyadari jika Yukita dan putrinya serta Kojiyama hubungannya sedang merenggang.


*********************************************************************


Keadaan di rumah sudah kembali normal, Risma sedang memasak roti cane dengan tepung untuk suaminya. Anton belum bangun Risma sengaja tidak membangunkannya. setelah selesai memasaknya Risma segera membangunkan suaminya.


Rasanya sangat sulit untuk naik ke tangga setengah tangga saja sudah sangat letih, Risma pagi ini memakai gaun merah dan dalamnya berwarna putih, Risma melanjutkan naik ke atas tangga rasanya sudah terengah-ngegah.


"Nyonya jangan naik turun tangga!!" peringat Nita.


"Gak masalah, saya bisa kok."


Risma melanjutkan naik ke atas tangga, ia amat sangat lelah ia bisa bernafas lega lantaran sudah ada di lantai atas.


Risma hanya menghembuskan nafa lelah tatkala suaminya masih tidur, hari ini memang tidak ke kantor tapi bangun siang juga tidaklah sehat.


Risma yang berjalan agak lamban menuju gorden kamar yang kaca jendela sampai bawah, matahari masuk melalui jendela itu. Anton berkedip bahkan menutup dirinya dengan selimut Risma hanya menepuk jidatnya, akhirnya Risma menguncang-guncangkan tubuh Anton.


"Anton bangun!! Sudah pagi!!" kata Risma sambil menguncang-guncangkan tubuh Anton.


Tak lama Anton memeluk istrinya. "Anton lepaskan aku! Ayo makan!" ajak Risma.


"Apa Nita sudah datang sepagi ini! Seharusnya Nita masih memasak." Anton bicara sambil memeluk istrinya di tempat tidur.


"Anton aku tadi bangun jam lima pagi untuk memasak!! Apa kamu tidak ingin mencicipi masakanku." Mendengar itu Anton membuka matanya rasa kantuknya hilang, lalu menatap istrinya dan terduduk.


"Kenapa kamu seperti mendengar kabar bencana, aku menyuruhmu makan!! Apa itu kabar bencana!!" tegas istrinya yang memakai baju merah.


"Ya itu bencana!!! Bukankah aku melarangmu naik turun-tangga!! dan aku juga melarangmu bekerja!!" maki Anton sambil mengusap rambutnya kasar.


"Anton aku hanya memasak untukmu!" jelas Risma.

__ADS_1


Setiap Risma ingin naik tangga Anton selalu membopongnya bahkan Anton melarang Risma menyentuh pekerjaan rumah tangga, juga melarang melakukan hal berat.


"Sudahlah Anton, ayo makan kamu mandi dulu!" ujar Risma.


"Oke aku mandi, tapi...," Anton memotong kalimatnya ia mengeluarkan kain lalu mengikat tangan Risma.


"Apa yang kamu lakuin!! Aku yang hamil kamu yang sensitif!!" maki Risma tak terima kedua tangannya di ikat ke depan, lalu Anton mengikatnya ke samping ranjang.


"Ini agar kamu gak turun tangga tunggu aku naik, oke."


"Oh Anton!" ujar Risma yang kesulitan dengan perut buncit.


Anton masuk kamar mandi menyalakan shower lalu Risma menggerutu, "dasar bule kurang waras masa gua di iket begini!" ucap Risma kesal.


Risma menunggu suaminya selesai mandi, dengan wajah yang kesal tapi saat Anton membuka handuknya ia melihat pusaka yang selama ini membuatnya kesakitan. "Anton lepaskan tanganku!!" teriak istrinya.


Anton memakai pakaian putih dan celana training hitam, lalu selesai memakai baju. Anton mendekati istrinya yang masih terikat, "sayang aku mau jatah." Anton mengulurkan bibirnya.


"Baiklah lepaskan dulu tanganku!!"


Anton melepaskan kedua tangan istrinya setelah melahirkan nanti malah ia harus menunggu sebulan untuk meminta jatah, Anton mencium bibir istrinya lalu lehernya dan dia berhenti di perut Risma yang membuncit. Perlahan tangan Risma membelai rambut Anton, jambang tipis di wajah Anton membuat sensai geli.


"Anton bewoknya cukur, aku sangat geli."


"Anton!!" marah Risma.


Sesudah melakukan itu semua Anton membopong Istrinya untuk turun ke lantai bawah, Anton sangat posesif melarang istrinya untuk naik-turun tangga.


"Abis makan kita ke rumah Mama, mereka bilang pengen liat menantunya."


Risma hanya mengangguk, "aku tahu kamu masih marah karena Karina belum di temukan tapi coba sedikit memaaafkan, kita akan mencoba mencari Karina."


Risma hanya mengangguk.


****************************************************************************************


Di Paris Karina masih sibuk bermain dengan teman-temannya yaitu anak-anak Salsa yang umurnya tak jauh berbeda karena saat Salsa di jual Karina baru lahir, Salsa berusaha memperhatikan wajah anak itu pagi ini.


Tak lama ia melihat Nyonya Konawa ibu Risma, mata yang penuh dendam menatap wanita itu, "Shin'ainaru Yuriko! ! Saisho ni tabemashou."


Yukita memanggil cucunya menyuruhnya untuk makan dulu, "hai obasan!"

__ADS_1


"Aku makan dulu," pamit Karina.


"Apa kau akan kembali bermain dengan kami?" tanya salah satu anak Salsa bernama  Adam.


"Tentu saja."


Salsa yang mengenakan cadar sambil membwa kitab suci di tangannya, menatap Yukita Konawa dengan mata terbakar dendam lalu ia kembali mengarah ke kitab suci.


"Ummu jayieatan," ucap salah satu anak Salsa bernama Amna, menggunakan dialek Syiria.


Salsa mencium kitab suci itu lalu segera menuju dapur untuk memasak, karena rumah kecil ini ada di belakang rumah Emmanuel. Dia tengah mengandung bayi milik Siska dan Emmanuel, "Ummu Yuriko baik juga yah."


Salsa hanya mengangguk dan membatin dalam hati.


"Jadi dia cucu Yukita itu artinya anak perempuan itu adalah anak Risma dan Anton." Jeda "Risma!! kau membuat hidupku hancur aku akan membalasnya!" tekad Salsa.


Salsa tak tahu sebenarnya apa yang terjadi antara keluarga Anton, Salsa juga bertekad akan niatnya.


Karina makan sup miso, "obasan tidak bisakah makan masakan Eropa, roti, keju dan mentega!" rengek Karina.


"Tentu saja, sayang. Pelayan siapkan apa yang Yuriko minta, aku sedang sibuk."


"Hai," patuh pelayan itu.


Yuriko makan dengan lahap apa yang dia inginkan tercapai, berbeda dengan Salsa dan anak-anaknya. Yuriko sedang memikirkan Adam meskipun usianya berbeda setahun tapi Adam lebih bijaksana di bandingkan Yuriko.


"Obasan boleh aku bermain dengan Adam lagi?" tanya Yuriko.


"Tentu bermainlah tapi ingat kamu juga harus membaca buku."


"Hai."


Budaya membaca buku adalah budaya yang amat wajib bagi orang Jepang, oleh karena itu banyak orang Jepang kemanapun membawa buku bahkan perpustakaan di Jepang amat penuh.


Meskipun harga dan kebutuhan pokok di Jepang sangatlah mahal, orang Jepang berpikir lebih baik ke perpustakaan bekas atau perpustakaan negara agar bisa membaca buku secara gratis.


Karina meskipun diajarkan untuk menjadi kejam dan tangguh tapi tetap Yukita Konawa menanamkan kebiasaan membaca pada cucunya itu.


#Bersambung


__ADS_1



__ADS_2